RADAR KUDUS - Musim baru, ambisi baru. BRI Liga Super 2025/2026, kasta tertinggi sepak bola Indonesia, resmi bergulir dengan wajah dan nama yang berbeda.
Dulu disebut Liga 1, kini liga ini tampil dengan identitas segar: Liga Super. Namun, satu hal tetap sama — Persib Bandung masih jadi pusat perhatian.
Setelah mengunci dua gelar juara secara beruntun, Persib kini membidik sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah sepak bola nasional: tiga kali juara berturut-turut.
Namun pertanyaannya, mampukah mereka benar-benar melakukannya? Dan yang tak kalah penting, apa strategi klub-klub pesaing untuk menghentikan laju Maung Bandung?
Persib Ingin Ukir Sejarah, Tapi Jalan Tidak Mulus
Di bawah komando pelatih asal Kroasia, Bojan Hodak, Persib melakukan langkah yang tak biasa. Alih-alih mempertahankan skuad juara, mereka justru melakukan perombakan besar-besaran. Beberapa nama senior dilepas, diganti dengan pemain muda dan wajah-wajah baru yang lebih segar.
Strategi ini bukan tanpa risiko. Saat klub lain sibuk memperkuat tim dengan pemain bintang, Persib memilih jalan berani — revolusi dari dalam. Mereka sadar bahwa untuk terus mendominasi, regenerasi adalah kunci. Tapi regenerasi juga bisa jadi bumerang jika gagal menyatu dalam tempo singkat.
Tim-Tim Penantang Bersatu untuk Hentikan Persib
Hegemoni Persib jelas bikin gerah. 17 tim lainnya di Liga Super musim ini punya satu misi tak tertulis: "hentikan Persib, jangan sampai tiga kali juara!"
Beberapa klub sudah bergerak cepat. Contohnya Malut United, tim ambisius yang tak segan membajak pemain-pemain kunci Persib musim lalu. Mereka juga mendatangkan pelatih asing dengan pendekatan taktik modern, menjadikan mereka salah satu penantang paling serius musim ini.
Dewa United, Persija, hingga Persebaya juga tak tinggal diam. Setiap klub kini meracik skuad dengan presisi tinggi — tak hanya fokus pada bintang luar negeri, tapi juga pemain lokal yang siap unjuk gigi.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Liga 1, Super League 2025/2026 Hadir dengan Format Anyar?
Apa yang Membuat Liga Super Berbeda dari Liga 1?
Transisi dari Liga 1 ke Liga Super bukan hanya ganti nama. Regulasi baru diterapkan: mulai dari aturan kuota pemain asing yang lebih ketat, kewajiban memainkan pemain muda, hingga penggunaan VAR yang lebih konsisten di setiap laga.
Atmosfer pun berubah. Liga Super digarap dengan pendekatan lebih profesional dan entertainment-driven.
Jadwal lebih rapi, siaran lebih berkualitas, bahkan promosi media sosial pun digarap masif. Semua ini menunjukkan bahwa kompetisi ini bukan lagi sekadar ajang olahraga, tapi juga industri hiburan besar.
Pemain Lokal Vs Pemain Asing: Siapa Lebih Siap?
Musim ini juga menjadi panggung ujian bagi pemain lokal. Jika ingin bersaing, mereka tak boleh hanya jadi pelengkap.
Di tengah gempuran pemain asing dari Amerika Selatan, Eropa Timur, hingga Afrika, talenta lokal seperti Beckham Putra (Persib), Titan Agung (Arema), atau Marselino (Persebaya) harus menunjukkan bahwa mereka bukan pilihan kedua.
BRI Liga Super kini memberi panggung besar — tapi siapa yang benar-benar layak tampil di tengah sorotan?
Baca Juga: Persijap Jepara vs PSM Makassar di Laga Perdana Liga 1, Ini Alasan Mengapa laga ini begitu penting
Pertandingan Awal yang Menentukan Ritme Musim
Persib akan langsung menjamu Semen Padang pada Sabtu (9/8). Laga ini tak sekadar tentang tiga poin pertama, tapi juga sebagai barometer apakah skuad baru Maung Bandung bisa langsung tancap gas atau justru goyah.
Sehari sebelumnya, Liga Super dibuka oleh laga-laga panas seperti Borneo FC vs Bhayangkara, serta Persebaya vs PSIM — duel penuh gengsi yang juga menjadi ajang unjuk kekuatan para pesaing utama Persib.
Dominasi Persib Tak Akan Mudah Diulang
Meskipun Persib punya target besar dan sejarah di depan mata, musim ini terasa lebih liar dan tak terduga. Tim-tim rival sudah menyiapkan amunisi, taktik, dan mentalitas baru untuk menantang takhta Maung Bandung.
Liga Super 2025/2026 bukan hanya tentang siapa paling kuat, tapi siapa paling siap menghadapi perubahan.
Editor : Mahendra Aditya