PATI – Dua pelatih senior, Hanafing Ibrahim dan Jefridin Anwar, mengkritik keras tindakan tidak sportif yang dilakukan pelatih atau manajemen Bintang FC Rembang dalam laga 16 besar Piala Soeratin U-15 Jawa Tengah.
Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Soekarno, Mojoagung, Pati, pada Sabtu (2/8/2025) itu berakhir dengan skor telak 8-0 untuk kemenangan Safin Pati.
Dalam laga tersebut, pelatih Bintang FC memberikan instruksi kepada pemainnya untuk tidak memberikan perlawanan usai terjadi insiden yang melibatkan keputusan wasit.
Situasi ini terjadi setelah Safin Pati mencetak gol pembuka di menit ke-42 babak kedua.
Pertandingan sempat berlangsung ketat dan diwarnai beberapa benturan fisik yang wajar dalam sebuah laga kompetitif.
Namun, di menit ke-63, pelatih Bintang FC menarik pemainnya dari pertandingan.
Insiden ini terjadi karena dia menilai pemainnya dilanggar lawan namun wasit menilai bukan sebuah pelanggaran.
Aksi mogok bertanding ini berlangsung sekitar delapan menit sebelum akhirnya para pemain kembali melanjutkan pertandingan.
Sayangnya, setelah kembali ke lapangan, para pemain Bintang FC justru memilih diam dan tidak melakukan perlawanan, sesuai instruksi pelatih.
Menit ke-63, pelatih Bintang FC menarik pemainnya dari pertandingan. Insiden ini terjadi karena dia menilai pemainnya dilanggar lawan namun wasit menilai bukan sebuah pelanggaran.
Hal ini dimanfaatkan Safin Pati untuk terus bermain normal hingga menambah tujuh gol, membuat skor akhir menjadi 8-0.
Hanafing Ibrahim, Direktur Teknik Safin Pati Sports School Indonesia sekaligus pelatih berlisensi AFC Pro dan Coach Educator PSSI, menilai keputusan pelatih Bintang FC sangat disayangkan.
“Pertandingan awalnya berjalan menarik dan kompetitif. Gol pertama pun sah, tidak ada manipulasi. Tapi kemudian muncul pandangan bahwa wasit memihak tuan rumah, ini tuduhan yang tidak berdasar dan bisa dibuktikan lewat rekaman pertandingan,” ungkap Hanafing, Minggu (3/8/2025).
Sebagai pembina pelatih, Hanafing menyesalkan tindakan yang diambil oleh pelatih Bintang FC.
“Saya bisa memahami jika pelatih menarik pemain sesaat sebagai bentuk shock therapy. Tapi instruksi berikutnya, yakni tidak memberikan perlawanan, jelas tidak mendidik. Ini tidak sesuai dengan prinsip pembinaan pemain usia muda,” tegasnya.
Senada dengan itu, Jefridin Anwar, pelatih tim U16 Safin Pati dan bagian dari Talent Development Scheme PSSI, juga menyayangkan tindakan tersebut.
“Apapun alasan di balik instruksi itu, tidak semestinya pemain diarahkan untuk tidak bermain. Di level usia ini, hal yang terpenting adalah menanamkan nilai-nilai sportivitas dan pengembangan permainan. Apa yang dilakukan sangat bertentangan dengan semangat fair play,” ujarnya.
Dalam pertandingan yang sama, pemain Safin Pati, Yuga Mustaqim, mengalami cedera serius akibat insiden dengan kiper Bintang FC.
Ia mengalami robekan ligamen ACL setelah salah tumpuan saat mencoba menjangkau bola. (aua)
Editor : Ali Mustofa