JEPARA – Langkah transfer Persijap Jepara dengan mendatangkan penyerang asing asal Burundi, Mike Abdallah Sudi, menjadi sorotan tajam di kancah sepak bola nasional.
Kedatangan Sudi bukan sekadar penambahan pemain.
Melainkan sebuah pertaruhan besar yang diharapkan mampu menjawab permasalahan klasik tim berjuluk Laskar Kalinyamat, ketajaman di lini depan.
Dalam skema sepak bola modern, peran seorang penyerang murni yang memiliki naluri gol tinggi tak tergantikan.
Kehadiran Sudi dengan reputasinya sebagai pemain berkarakter kuat, cepat, dan punya kemampuan mencetak gol yang baik, seperti diungkapkan Presiden Persijap Jepara, M. Iqbal Hidayat, menjadi angin segar bagi tim dan suporter.
"Kami sangat antusias menyambut Mike Abdallah Sudi. Dia adalah pemain dengan karakter yang kuat, memiliki kecepatan, dan kemampuan mencetak gol yang sangat baik," ujar M. Iqbal Hidayat, optimistis.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa manajemen Persijap melihat Sudi sebagai piece of the puzzle yang hilang.
Musim lalu, atau bahkan beberapa musim ke belakang, Persijap kerap kesulitan dalam urusan konversi peluang menjadi gol.
Kedatangan Sudi diharapkan bisa menjadi solusi instan untuk problem tersebut, membawa efisiensi dan daya gedor yang lebih bertenaga.
Sebelum berlabuh ke Jepara, Mike Abdallah Sudi telah mengarungi berbagai kompetisi di beberapa negara, menunjukkan profilnya sebagai penyerang yang memiliki pengalaman internasional cukup luas.
Karier profesional Sudi dimulai di negara asalnya bersama Vital'O FC pada tahun 2018.
Perjalanan kariernya kemudian membawanya merantau ke Rwanda untuk memperkuat AS Kigali dari 2019 hingga 2021.
Dari sana, Sudi memulai petualangan di benua Asia. Ia pernah membela Al-Faisaly SC di Yordania pada 2021-2022, kemudian hijrah ke Bangladesh bergabung dengan Muktijoddha Sangsad pada 2022.
Selanjutnya, ia juga sempat bermain di Irak bersama Al-Naft SC pada tahun yang sama, dan menjajal Liga Malaysia bersama Kuching City pada tahun 2023.
Sebelum akhirnya ke Persijap, Sudi kembali ke Afrika dan bermain untuk klub Libya, El Ettihad Al-Misraty SC, serta sempat membela klub Indonesia lainnya, PSIS Semarang, pada 2024-2025.
Pengalaman bermain di berbagai liga dengan gaya yang berbeda ini diharapkan menjadi modal berharga bagi Sudi dalam menghadapi ketatnya kompetisi sepak bola Indonesia. (war)
Editor : Ali Mustofa