RADAR KUDUS - Bagi Lionel Messi, ini bukan pertandingan biasa. Untuk pertama kalinya, sang megabintang Argentina akan menghadapi klub lamanya, PSG, sejak kepindahannya ke Inter Miami.
Tak hanya Messi, sejumlah nama lain seperti Sergio Busquets, Jordi Alba, dan Luis Suarez juga punya sejarah panjang dengan pelatih PSG saat ini, Luis Enrique.
Messi dan PSG: Kisah Cinta yang Tak Pernah Sempurna
Selama dua musim memperkuat PSG (2021–2023), Messi berhasil mempersembahkan dua gelar Ligue 1.
Namun, keberhasilannya dianggap tak sepadan dengan ekspektasi tinggi yang dipasang petinggi klub asal Paris tersebut, terutama di pentas Liga Champions.
Di mata publik dan manajemen, era Messi di PSG masih terpatok dalam bayang kegagalan karena tim selalu tersingkir di fase 16 besar Liga Champions.
Bukan hanya soal hasil, hubungan Messi dengan suporter PSG pun retak. Bahasa tubuhnya yang dingin, dan komentar terbuka soal ketidaknyamanannya di Paris membuat banyak fans kehilangan simpati. Suasana itu menciptakan jarak emosional yang sulit dijembatani, bahkan hingga kini.
Kini, ketika Messi kembali berhadapan dengan PSG dalam balutan jersey Inter Miami, sorotan dunia pun tertuju pada satu pertanyaan besar: akankah Messi membalas dengan permainan terbaiknya?
Mascherano: Messi Akan Meledak Jika Didorong Emosi
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, yang juga sahabat sekaligus mantan rekan Messi di timnas Argentina dan Barcelona, yakin bahwa atmosfer emosional ini justru bisa menjadi bahan bakar bagi Messi.
Dalam wawancaranya bersama ESPN, Mascherano mengungkapkan bahwa Messi justru tampil lebih buas saat memikul tekanan personal.
"Dia tipe pemain yang, jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, justru bisa memanfaatkannya menjadi kekuatan," ujar Mascherano. "Lebih baik bagi kami jika Messi bermain dengan rasa marah atau luka batin."
Mascherano, Messi, dan rekan-rekan seangkatannya seperti Busquets, Alba, dan Suarez, punya memori kolektif luar biasa bersama Luis Enrique di Barcelona.
Mereka adalah bagian dari skuad fenomenal yang membalikkan kekalahan 0-4 dari PSG menjadi kemenangan bersejarah 6-1 pada leg kedua Liga Champions 2017.
Kini, sejarah seolah berputar. Namun kali ini, Enrique berdiri di sisi seberang sebagai pelatih PSG. Momen ini mempertemukan bukan hanya dua tim, tapi dua kubu yang saling mengenal luar dalam.
Inter Miami: Harapan Amerika di Tanah Sendiri
Sebagai satu-satunya wakil Amerika Serikat yang tersisa di turnamen ini, Inter Miami membawa beban sekaligus harapan besar dari publik tuan rumah.
Meski hanya finis sebagai runner-up Grup A di bawah Palmeiras, mereka punya cukup modal untuk menantang PSG. Kedua tim sama-sama mengoleksi lima poin, namun Inter kalah dalam selisih gol.
Keberadaan para mantan bintang Eropa di skuad—termasuk Messi, Busquets, hingga Suarez—membuat Inter Miami tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Terlebih, pengalaman mereka di laga besar justru menjadi kekuatan utama di panggung kompetisi dunia seperti ini.
Baca Juga: Eks PSG Jerôme Rothen Sebut Lionel Messi Tidak Menghormati Siapapun Saat di PSG
Luis Enrique: Antara Nostalgia dan Tantangan Baru
Di sisi lain, Luis Enrique menyambut laga ini dengan penuh respek. Pelatih asal Spanyol itu bukan sekadar pelatih lawan; ia adalah sosok yang pernah menjadi pemimpin dalam kebangkitan karier Messi dkk.
Selama tiga musim di Barcelona, Enrique membentuk salah satu tim terbaik dalam sejarah klub Catalan.
Javier Mascherano pun tak segan memberikan pujian kepada mantan pelatihnya. "Luis Enrique bukan hanya pelatih hebat, dia juga teman yang saya hormati," ujar Mascherano. "Akan menjadi kehormatan tersendiri bisa menghadapi salah satu pelatih terbaik dalam karier saya."
Penutup: Sebuah Laga, Banyak Cerita
Laga PSG vs Inter Miami tak hanya soal tiket ke perempat final. Ini adalah bentrokan antara masa lalu dan masa kini, antara luka dan kesempatan untuk menebusnya.
Messi tak hanya membawa ambisi pribadi, tapi juga misi membuktikan bahwa dirinya belum habis—bahkan di usia yang menua.
Di tengah sorotan dunia, publik menanti: akankah Messi menghancurkan mantan klubnya dengan magis yang masih tersisa? Atau PSG justru akan mempertegas bahwa masa kejayaan Messi sudah lewat?
Satu hal yang pasti: ini bukan sekadar pertandingan, ini adalah panggung drama terbaik di Piala Dunia Antarklub 2025.