RADAR KUDUS - Panggung besar seperti Piala Dunia Antarklub bukan hanya soal trofi—terkadang, ini juga soal emosi yang belum tuntas.
Itulah yang terjadi pada Lionel Messi. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, sang megabintang asal Argentina akan menghadapi klub lamanya, Paris Saint-Germain (PSG), dalam laga yang sarat drama, harga tiket selangit, dan bayang-bayang luka masa lalu.
Laga antara Inter Miami vs PSG yang dijadwalkan berlangsung Minggu ini di Mercedes Benz Stadium, Atlanta, bukan sekadar pertandingan babak 16 besar.
Ini adalah laga yang menyimpan sisi personal bagi Messi. Saat mengenakan seragam PSG, Messi tidak pernah benar-benar menyatu dengan atmosfer Paris.
Dari sambutan suam-suam kuku, tekanan dari ultras, hingga perpisahan yang dingin, semuanya meninggalkan kesan pahit dalam salah satu fase paling rumit dalam kariernya.
Kini, dua tahun setelah hengkang ke Inter Miami, Messi akhirnya punya kesempatan untuk ‘membalas’ di atas lapangan.
Baca Juga: Lionel Messi Pecahkan Rekor Gila! 50 Gol dan 23 Assist di Inter Miami
Antusiasme Meledak, Tiket Naik Tiga Kali Lipat
Ketika Inter Miami membuka kampanye Piala Dunia Antarklub melawan Al-Ahly, stadion belum sepenuhnya penuh dan tiket bahkan dijual lebih murah dari harga resmi. Namun situasi berubah drastis menjelang duel panas melawan PSG.
Tiket termurah kini dihargai lebih dari USD 110, dan kursi strategis di tengah lapangan bahkan tembus USD 400.
Banyak yang memperkirakan laga ini akan disaksikan lebih dari 70.000 penonton di stadion yang biasanya menjadi kandang tim NFL dan MLS tersebut.
Messi sendiri punya kenangan manis di stadion ini. Dalam laga sebelumnya di fase grup melawan Porto, ia mencetak gol kemenangan melalui tendangan bebas di hadapan lebih dari 31.000 penonton. Namun kali ini, atmosfer dipastikan lebih panas dan emosional.
Messi dan PSG: Cinta yang Tak Pernah Mekar
Kepindahan Messi ke PSG pada 2021 seolah menjadi langkah logis setelah kepergiannya dari Barcelona.
Tapi hubungan Messi dengan klub asal Prancis itu tak pernah harmonis. Meski sempat digadang-gadang akan menjadi jantung proyek besar PSG, kenyataannya Messi merasa terasing.
“Adaptasinya sangat sulit,” aku Messi beberapa bulan setelah kepindahannya ke Miami.
“Saya datang terlambat, tak punya pramusim, harus menyesuaikan diri dengan klub, gaya bermain baru, dan kota yang asing. Itu berat bagi saya dan keluarga.”
Ia juga sempat menyebut bahwa keinginannya yang utama adalah kembali ke Barcelona, namun terkendala oleh kondisi keuangan klub Catalan tersebut.
PSG, pada akhirnya, hanyalah persinggahan yang tak membekas manis.
Dendam Tertahan, Energi Tambahan
Tak mengherankan jika laga ini dipenuhi narasi ‘balas dendam’. Bahkan pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, tak menutup kemungkinan bahwa Messi akan tampil dengan amarah terpendam. “Kalau Messi bermain dengan emosi, biasanya dia tampil luar biasa.
Pemain seperti dia, kalau punya sesuatu yang ingin dibuktikan, bisa meledak,” kata Mascherano.
Meski begitu, ia juga menekankan bahwa situasi di Amerika Serikat akan jauh berbeda dari atmosfer Paris. “Ini cerita baru, panggung yang berbeda,” ujarnya.
Di sisi lain, pelatih PSG, Luis Enrique—yang pernah menangani Messi di masa jayanya di Barcelona—melontarkan kritik terhadap kualitas lapangan di Amerika.
“Bola memantul seperti kelinci. Sulit mengontrolnya. FIFA harus mulai memikirkan kondisi seperti ini ke depannya,” sindirnya, seolah mencari alasan sebelum laga dimulai.
Sinyal dari PSG: Sindiran atau Salam Hangat?
Menariknya, PSG sempat mengunggah ucapan ulang tahun ke-38 untuk Messi lewat media sosial, disertai foto-foto saat ia membela klub tersebut.
Tak lupa, mereka menambahkan tulisan: “Sampai jumpa hari Minggu,” lengkap dengan emoji mata mengintip.
Sebagian netizen menganggapnya sebagai sindiran, sebagian lagi menganggapnya hanya sekadar formalitas media sosial.
Bek PSG, Achraf Hakimi, yang pernah bermain bersama Messi, juga ikut berkomentar. “Kami punya kenangan indah selama dua tahun. Tapi di lapangan, tak ada teman. Dia akan berjuang, begitu juga kami.”
Pertarungan Dua Generasi, Dua Filosofi
Yang membuat laga ini semakin menarik adalah pertarungan dua kubu yang dibangun dengan filosofi berbeda namun punya benang merah. PSG, dengan koleksi bintang dan ambisi Eropa, kini berstatus juara Liga Champions.
Inter Miami, meski relatif baru di panggung internasional, berisi banyak eks-Bacelona—Messi, Busquets, Jordi Alba, Luis Suárez, hingga Mascherano.
Mereka berkumpul kembali bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk mengukir babak baru.
Duel ini bukan hanya tentang tiket mahal atau skor akhir, tetapi tentang sebuah perjalanan yang penuh luka, dendam, persahabatan, dan tekad.
Dan bagi Messi, ini adalah panggung terbaik untuk menutup cerita lamanya dengan PSG—entah dengan damai atau dengan dentuman spektakuler di lapangan.
Editor : Mahendra Aditya