RADAR KUDUS — Setelah duka akibat terdegradasi dari Liga 1 masih terasa, PSIS Semarang langsung tancap gas.
Klub kebanggaan Kota Atlas ini menolak berlama-lama tenggelam dalam keterpurukan.
Manajemen langsung bersiap menyusun kekuatan baru demi target besar: kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.
Salah satu langkah paling krusial saat ini adalah memilih nakhoda anyar. Posisi pelatih kepala PSIS jadi perhatian utama, dan minggu ini akan menjadi penentuan masa depan klub Mahesa Jenar.
“Ya, minggu ini kita akan menggelar pemaparan dari para kandidat pelatih,” ungkap Direktur Utama PSIS, Agung Buwono saat dikonfirmasi media.
Agung menyebut bahwa setidaknya tiga kandidat akan menyampaikan visi dan strategi mereka di hadapan jajaran manajemen.
Siapa pun yang paling siap secara konsep, dan sejalan dengan arah klub, bakal ditunjuk sebagai pelatih kepala.
“Rencananya ada sekitar tiga nama. Nanti kita nilai siapa yang paling siap dan cocok dengan kebutuhan PSIS saat ini,” tambah Agung.
Kandidat Bukan Nama Asing, Ada yang “Rasa Lama”
Yang menarik, Agung menyiratkan bahwa kandidat bukan hanya dari wajah baru. Beberapa di antaranya adalah nama-nama yang sebelumnya pernah bersentuhan dengan PSIS.
Mulai dari yang benar-benar fresh, hingga pelatih yang pernah menjadi bagian dari keluarga besar Mahesa Jenar.
“Ada yang sebelumnya belum pernah melatih PSIS, tapi ada juga yang sudah pernah, dan ada juga yang pernah dekat walau tidak melatih secara langsung,” katanya memberikan bocoran.
Artinya, peluang nostalgia juga terbuka. Klub bisa saja menunjuk figur yang sudah memahami karakter PSIS dan atmosfer sepak bola Semarang.
Siapa Saja yang Masuk Radar PSIS?
Jika melihat jejak historis PSIS, sejumlah pelatih lokal berpotensi kembali atau naik panggung.
Nama-nama seperti Jafri Sastra, Subangkit, Bambang Nurdiansyah, dan Imran Nahumarury disebut-sebut masuk bursa.
Keempatnya bukan asing bagi pendukung Mahesa Jenar. Mereka pernah meracik strategi di Stadion Jatidiri, dan punya chemistry tersendiri dengan klub.
Selain itu, nama Kahudi Wahyu — mantan pemain PSIS yang kini menjajal karier sebagai pelatih — juga menjadi bahan pembicaraan.
Sosoknya dianggap punya potensi untuk mengangkat moral tim, apalagi dengan latar belakang sebagai legenda hidup PSIS.
Namun hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari manajemen soal siapa saja yang benar-benar akan mempresentasikan program kerja.
Yang jelas, PSIS sedang mencari figur yang bukan hanya jago secara teknis, tetapi juga mampu memimpin ruang ganti, membangkitkan mentalitas pemain, dan merangkul dukungan suporter.
Target Tinggi: Hanya Satu Musim di Liga 2
Kendati turun kasta, PSIS tak ingin berlama-lama di Liga 2. Manajemen menargetkan musim depan sebagai ajang pelampiasan dan batu loncatan untuk langsung promosi kembali ke Liga 1.
Itu sebabnya, sosok pelatih yang dipilih tak boleh sembarangan. Ia harus punya nyali, strategi matang, serta kemampuan adaptasi tinggi untuk membawa PSIS bersaing di kompetisi yang terkenal keras dan penuh kejutan itu.
Dengan modal tradisi kuat, basis suporter fanatik, dan manajemen yang mulai bergerak cepat, PSIS Semarang punya semua bahan untuk bangkit. Kini tinggal menunggu siapa yang akan dipercaya mengomandoi dari pinggir lapangan.
Siapa pun Pelatihnya, Tugas Berat Menanti
Masa depan PSIS Semarang sedang berada di titik kritis. Siapa pun yang nantinya ditunjuk sebagai pelatih kepala, harus siap memikul tanggung jawab besar: membawa kembali Mahesa Jenar ke habitat aslinya, Liga 1.
Dukungan publik Semarang, tekanan ekspektasi, serta kerasnya kompetisi Liga 2 adalah tantangan yang tak bisa dianggap remeh.
Namun di balik itu, terbentang peluang besar untuk mencetak sejarah — menjadi sosok yang mengembalikan kejayaan PSIS.
Bagi suporter, satu hal pasti: harapan tak boleh padam. Karena di balik jatuhnya sebuah tim besar, selalu ada peluang untuk bangkit lebih hebat.