RADAR KUDUS — Langit malam Surabaya tak lagi tenang saat jarum jam menunjuk pukul 22.00 pada Selasa, 17 Juni 2025.
Dari arah Jalan Tunjungan, deru ratusan knalpot memekakkan telinga, bendera-bendera raksasa berkibar, dan teriakan penuh semangat memecah keheningan kota.
Itulah malam ketika Bonek—sebutan bagi suporter fanatik Persebaya Surabaya—turun ke jalan untuk merayakan ulang tahun ke-98 klub kebanggaan mereka.
Tak hanya didominasi para lelaki, suasana konvoi justru memperlihatkan keberagaman. Remaja, perempuan, hingga para orang tua turut tumpah ruah dalam konvoi yang membelah jantung kota menuju Jalan Gubernur Suryo.
Di antara mereka, tampak beberapa komunitas Bonek datang dengan perlengkapan lengkap—bendera suporter ukuran jumbo, flare, dan iring-iringan motor yang seolah tak berujung.
Baca Juga: Lautan Bonek Guncang Surabaya! Begini Serunya Malam Puncak Ulang Tahun Persebaya ke-98
Jalanan Berubah Jadi Lautan Hijau-Hitam
Tak seperti malam biasanya, Jalan Gubernur Suryo malam itu berubah menjadi lautan manusia. Lampu jalan nyaris tak terlihat karena tertutup asap flare yang menyala-nyala.
Beberapa kelompok tampak membawa spanduk raksasa bertuliskan “Persebaya 98 Tahun: Tak Pernah Pudar”, sementara yang lain meneriakkan yel-yel yang sudah menjadi identitas para Bonek sejati.
Arah konvoi jelas—menuju pusat keramaian, sebagai simbol bersatunya seluruh elemen pendukung Persebaya dari berbagai penjuru.
Suasana tidak sekadar ramai, tapi penuh energi yang meledak-ledak. Bagi Bonek, malam itu bukan hanya perayaan ulang tahun, melainkan unjuk eksistensi dan bentuk cinta tak terputus kepada klub yang telah menemani perjalanan hidup mereka hampir seabad.
Pengamanan Super Ketat: 2.468 Personel Disiagakan
Melihat potensi besarnya massa yang akan turun ke jalan, pihak Polrestabes Surabaya bergerak cepat.
Sebanyak 2.468 personel dikerahkan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas dan mengantisipasi gangguan keamanan.
Fokus pengamanan tidak hanya terpusat di Jalan Gubernur Suryo, tetapi juga menyebar ke sejumlah titik rawan seperti kawasan Tambaksari yang dikenal sebagai basis massa Bonek.
Satlantas pun melakukan rekayasa lalu lintas dengan sistem penyekatan dan pengalihan arus di beberapa ruas jalan.
Kendaraan umum dialihkan dari pusat kota untuk menghindari kemacetan total. Kendati begitu, aksi konvoi tetap berlangsung meriah tanpa insiden besar.
Semua pihak tampaknya sudah memahami bahwa ini bukan sekadar perayaan, tapi bagian dari sejarah kota.
Perayaan yang Lahir dari Hati, Bukan Skema Panggung
Berbeda dari perayaan ulang tahun klub sepak bola yang digelar megah di stadion atau aula, ulang tahun Persebaya selalu punya cara sendiri.
Tidak ada panggung megah, tidak ada artis ibu kota, tapi suasana meriah justru tercipta dari kekuatan solidaritas akar rumput. Inilah pesta rakyat sesungguhnya—lahir dari hati, digerakkan oleh semangat kolektif.
Perempuan dengan kaus hijau, remaja berbalut atribut Bonek, hingga pria dewasa yang memukul drum dengan penuh semangat, semuanya menyatu dalam satu ritme: Persebaya di atas segalanya.
Ini bukan hanya tentang sepak bola. Ini tentang identitas, loyalitas, dan kebanggaan menjadi bagian dari Surabaya.
Titik Didih Emosi Kolektif yang Tidak Pernah Padam
Persebaya bukan hanya klub tua. Ia adalah simbol perlawanan, kebanggaan, dan semangat yang diwariskan lintas generasi.
Malam itu menjadi pembuktian bahwa usia 98 tahun bukan akhir dari cerita, tapi justru penanda betapa kuatnya fondasi emosional antara klub dan suporternya.
Dari tiap kibasan bendera, dari tiap flare yang dinyalakan, hingga dari tiap teriakan “Satu Nyali Wani!”, terlihat jelas bahwa Persebaya adalah rumah bagi jutaan jiwa. Dan rumah itu, malam itu, bersinar terang di tengah kota yang bergemuruh.
Perayaan ulang tahun ke-98 Persebaya Surabaya bukan sekadar momen euforia. Ini adalah puncak dari cinta panjang, yang tak pernah redup meski waktu terus bergulir.
Dari jalanan kota yang penuh warna hingga hati para suporter yang terus menyala, Persebaya tetaplah legenda hidup. Dan para Bonek, adalah denyut nadi yang menjaganya tetap bernyawa.