RADAR KUDUS - Spanyol boleh saja pulang dari Munich dengan tangan kosong usai kalah adu penalti dari Portugal di final UEFA Nations League 2025, namun pelatih Luis de la Fuente memastikan satu hal: fokus mereka kini total tertuju pada Piala Dunia.
Bagi sang pelatih, kegagalan kali ini bukan akhir—melainkan batu loncatan untuk ambisi yang lebih besar.
“Kami langsung memikirkan Piala Dunia mulai saat ini juga. Itu tujuan kami selanjutnya. Dengan pendekatan yang kami miliki, saya yakin kami akan melangkah jauh,” tegas de la Fuente usai pertandingan yang berlangsung penuh drama itu.
Kekalahan yang Membakar Ambisi
Spanyol dua kali unggul dalam pertandingan, namun dua kali pula keunggulan itu disamakan oleh Portugal hingga skor 2-2 memaksa laga dilanjutkan ke perpanjangan waktu.
Dalam babak adu penalti, ketenangan Diogo Costa yang menggagalkan tendangan Alvaro Morata jadi penentu. Ruben Neves kemudian mengunci kemenangan 5-3 untuk Portugal.
Meski pahit, de la Fuente tidak sedikit pun menyesali perjuangan timnya. “Saya bangga dengan tim ini. Kami selalu berada di level kompetitif tertinggi.
Kami punya semangat juang dan keterikatan emosional yang kuat dengan jersey ini,” ujar sang pelatih.
Generasi Muda Spanyol Bersinar, Tapi Masih Bergantung pada Pedri?
Kendati gagal membawa pulang trofi, tim muda Spanyol kembali menunjukkan taringnya. Namun satu hal yang kembali menjadi sorotan adalah betapa vitalnya peran Pedri dalam permainan La Roja.
Saat melawan Prancis di semifinal, gelandang Barcelona itu ditarik keluar saat skor 5-1. Dalam 20 menit sisa, Prancis justru membalas dengan tiga gol, nyaris menyamakan kedudukan.
Hal serupa kembali terlihat di final. Setelah Pedri digantikan di akhir laga, Spanyol terlihat kehilangan kontrol lini tengah.
Ketergantungan ini bisa menjadi catatan penting bagi de la Fuente dalam mempersiapkan tim menghadapi Piala Dunia di Amerika Serikat tahun depan.
Morata Gagal Eksekusi, Tapi Tetap Dipuja Pelatih
Kegagalan Morata mengeksekusi penalti menjadi penentu kekalahan. Namun sang pelatih tidak ingin pemain seniornya jadi kambing hitam. “Saya menyesal dia gagal, tapi banyak pemain lain bahkan tidak berani mengambil penalti.
Morata melangkah maju dan mencoba—itu sudah menunjukkan karakternya,” kata de la Fuente dengan nada tegas.
Bahkan, ia menyebut Morata sebagai “panutan” dan “juara sejati” bagi tim nasional Spanyol.
Ini menandakan bahwa kepercayaan terhadap sang striker belum luntur meski publik mungkin mulai mempertanyakan ketajamannya.
Baca Juga: Gyökeres Tolak Gaji Rp600 M dari Al Hilal demi Premier League, Menuju Manchester United?
Portugal Layak Menang, Spanyol Belum Selesai
De la Fuente juga tak pelit pujian untuk lawannya. “Portugal tampil sangat baik.
Mereka punya deretan pemain kelas dunia yang tahu cara memenangkan pertandingan seperti ini,” ucapnya. Ia pun menyebut bahwa kekalahan ini akan dijadikan bahan introspeksi, bukan ratapan.
Baginya, kehilangan satu trofi bukanlah tragedi—melainkan bahan bakar untuk ambisi yang lebih besar.
Apalagi, sebelum ini Spanyol sudah mengukir sukses dengan menjuarai UEFA Nations League 2023 dan Euro 2024.
Fokus Penuh ke Piala Dunia 2026
Pernyataan de la Fuente soal “berpikir soal Piala Dunia sejak saat ini juga” menunjukkan bahwa Spanyol tidak akan berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan.
Mereka sudah mulai menyusun strategi, memperkuat skuad, dan memperbaiki kelemahan sebelum turun di panggung terbesar sepak bola dunia.
Dengan generasi muda yang mulai matang dan pengalaman pahit di Munich sebagai pemicu, Spanyol bertekad menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai panggung pembuktian bahwa mereka masih kekuatan besar dunia.