RADAR KUDUS - Persebaya Surabaya resmi memulai revolusi besar untuk menghadapi musim kompetisi Liga 1 2025/2026. Tim kebanggaan Bonek dan Bonita ini tidak main-main.
Hingga Selasa (3/6), tercatat 10 pemain sudah dilepas, termasuk tiga legiun asing. Ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen ingin membentuk ulang identitas tim dan tampil lebih kompetitif musim depan.
Langkah ekstrem ini tak hanya menyentuh jajaran pemain, namun juga posisi pelatih kepala. Paul Munster yang sebelumnya menukangi Bajul Ijo resmi mengundurkan diri di akhir musim 2024/2025.
Sebagai gantinya, Persebaya mempercayakan tongkat estafet kepada pelatih asal Spanyol, Eduardo Perez Moran—sosok yang punya rekam jejak apik dalam mengembangkan pemain muda Indonesia.
Tiga Asing Out, Dua Wajah Internasional Masuk
Langkah pertama dalam perombakan ini adalah melepas tiga pemain asing yang sebelumnya jadi pilar utama: Gilson Costa, Slavko Damjanovic, dan Mohammed Rashid. Ketiganya resmi berpisah dengan klub dan membuka jalan bagi rekrutan baru.
Dua nama baru langsung diumumkan. Pertama, Risto Mitrevski, bek tangguh asal Makedonia Utara yang sebelumnya memperkuat Dewa United.
Risto adalah figur berpengalaman yang telah tiga musim menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan tim asal Banten.
Dengan catatan dua gol dan dua assist di musim lalu, ia diharapkan bisa menambal lubang yang ditinggalkan Damjanovic.
Nama kedua adalah Gali Freitas, winger eksplosif dari Timor Leste yang sebelumnya bermain untuk PSIS Semarang.
Meski PSIS harus terdegradasi ke Liga 2, penampilan Gali dinilai cukup impresif. Ia dikenal sebagai pemain yang punya mobilitas tinggi dan naluri menyerang yang tajam—aset berharga bagi lini depan Persebaya yang musim lalu kerap tumpul.
Deretan Pemain Lokal Juga Didepak
Tak hanya pemain asing, Persebaya juga melakukan bersih-bersih di lini lokal. Tujuh pemain dilepas sekaligus, yakni Ardi Idrus, Muhammad Hidayat, Riswan Lauhin, Andre Oktaviansyah, Kasim Botan, Asitya Arya Nugraha, dan Lalu Muhammad Rizki. Keputusan ini menandakan bahwa tim pelatih ingin menyegarkan susunan inti dan memberi ruang bagi pemain yang lebih sesuai dengan filosofi baru.
Langkah ini tentu cukup mengejutkan mengingat beberapa nama termasuk pemain senior dan reguler musim lalu.
Namun dalam sepak bola profesional, perubahan adalah keniscayaan—terlebih jika performa tim belum sesuai harapan.
Era Baru di Bawah Komando Coach Edu
Datangnya Eduardo Perez sebagai pelatih kepala membawa angin segar di ruang ganti Bajul Ijo. Meski namanya belum setenar pelatih-pelatih asing lain, pria asal Spanyol ini sudah cukup lama mengenal atmosfer sepak bola Indonesia.
Eduardo pernah menjadi pelatih kiper Timnas U-23 era Luis Milla dan sempat menjabat asisten pelatih di Persija Jakarta pada 2019. Karier kepelatihannya juga mencatatkan singgahannya di PSS Sleman, meskipun musim kompetisi saat itu dibatalkan akibat pandemi Covid-19.
Coach Edu dikenal sebagai pelatih yang fokus pada pengembangan pemain muda dan permainan berbasis penguasaan bola—cocok dengan DNA Persebaya yang dikenal sebagai tim dengan filosofi bermain menyerang.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1 2025: Sho Yamamoto Tetap di Persis Solo, Tepis Rumor ke PSIM Yogyakarta
Apa Strategi Persebaya Selanjutnya?
Dengan fondasi baru yang sedang dibangun, Persebaya tampaknya ingin mengembalikan kejayaan mereka sebagai salah satu klub elite Liga 1.
Kombinasi pemain asing berkualitas, pemain lokal potensial, dan pelatih visioner menjadi formula baru yang mereka harapkan bisa mengangkat performa tim.
Namun, perubahan besar juga datang dengan risiko. Adaptasi tak selalu mulus, dan chemistry dalam tim baru bisa memakan waktu. Yang jelas, ekspektasi suporter akan selalu tinggi.
Para Bonek tentu berharap musim 2025/2026 akan menjadi momentum kebangkitan, bukan sekadar eksperimen yang gagal total.
Misi Bangkit atau Taruhan Besar?
Langkah drastis Persebaya bukan sekadar perombakan biasa. Ini adalah pernyataan sikap bahwa mereka siap bertransformasi.
Lepasnya 10 pemain sekaligus, ditambah hadirnya pelatih dan dua pemain asing baru, mengisyaratkan sebuah proyek besar.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Coach Eduardo dan skuad barunya menjawab tantangan. Akankah Persebaya bangkit dan kembali diperhitungkan di papan atas, atau justru tersandung karena terlalu banyak berubah dalam waktu singkat?
Satu yang pasti: musim depan akan jadi panggung yang menarik untuk disaksikan—dan Bajul Ijo siap menebar kejutan!