RADAR KUDUS - Menjelang Liga 1 musim 2025/2026, suhu bursa transfer mulai menghangat, meski belum sepenuhnya memanas.
Sejumlah klub elite maupun kontestan baru sudah bergerak dalam senyap—banyak yang mulai beres-beres skuad, tetapi nyaris tak ada yang benar-benar mengguncang publik dengan kedatangan pemain baru.
Lalu, pertanyaannya: mengapa klub-klub ini sibuk melepas tetapi belum menunjukkan gebrakan akuisisi?
Gelombang Pemain Keluar, Rekrutan Masih Nihil
Yang paling kentara sejauh ini adalah banyaknya pengumuman perpisahan dari berbagai klub Liga 1. Hampir setiap hari, penggemar disuguhi kabar pemain dilepas atau kontrak yang tak diperpanjang.
Namun, hingga awal Juni ini, belum banyak pengumuman masuknya amunisi anyar. Padahal, waktu terus berjalan mendekati kick-off musim baru.
Contohnya, Persija Jakarta melepas delapan pemain sekaligus, termasuk nama-nama besar seperti Marko Simic, Syahrian Abimanyu, dan Ramon Bueno.
Sementara itu, hanya tiga pemain yang diumumkan mendapat perpanjangan masa bakti: Ilham Rio Fahmi, Dony Tri Pamungkas, dan Aditya Warman.
Persib Bandung juga mencoret tiga nama penting: Ciro Alves, Nick Kuipers, dan Mateo Kojican. Sedangkan dari Persis Solo, dua pilar utama—Ramadhan Sananta dan Moussa Sidibe—telah resmi angkat koper.
Persebaya Surabaya tak ketinggalan, melepas Muhammad Hidayat yang selama ini jadi bagian penting di lini tengah.
Bali United tampaknya lebih sibuk merombak staf pelatih. Mereka sudah mendatangkan Johnny Jansen sebagai pelatih kepala, didampingi Jeffrey Dennis Talan dan Ronnie Pander sebagai asisten.
Namun di sisi pemain, justru lebih banyak yang hengkang, mulai dari Adilson Maringa, Everton Nascimento, hingga Privat Mbarga.
Madura United sedikit berbeda. Mereka tidak ramai melepas pemain, justru memperpanjang masa kontrak beberapa nama seperti Pedro Monteiro, Iran Junior, dan Jordy Wehrmann. Tapi lagi-lagi, belum ada pengumuman soal wajah baru.
Minim Gebrakan, Suporter Mulai Gelisah
Yang membuat situasi ini menarik sekaligus aneh adalah belum adanya pengumuman resmi perekrutan pemain baru dari sebagian besar tim.
Ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pendukung: apakah klub memang masih menyusun strategi diam-diam, atau justru mengalami kendala internal seperti negosiasi alot, keterbatasan dana, atau belum cocoknya profil pemain incaran?
Tim-tim seperti PSM Makassar, Arema FC, Semen Padang, PSBS Biak, Dewa United, hingga dua tim promosi PSIM Jogja dan Persijap Jepara, belum membuat gebrakan berarti.
Padahal, waktu ideal untuk menyiapkan tim—baik dari segi adaptasi hingga chemistry antar pemain—sudah semakin menipis.
Yang Sudah Pasti: Kompetisi Akan Jauh Berbeda
Kendati belum banyak transfer masuk yang diumumkan, gelombang keluar besar-besaran ini sudah cukup menjadi alarm bahwa Liga 1 musim depan akan tampil dalam wajah berbeda.
Wajah-wajah familiar perlahan menghilang, dan yang tersisa adalah ruang kosong untuk bintang baru bersinar.
Perubahan ini juga memberi sinyal bahwa klub-klub kini mulai berani merombak besar-besaran, entah demi penyegaran skuad atau demi efisiensi anggaran.
Apalagi dengan hadirnya dua tim promosi yang juga belum tampak agresif, peluang kejutan di tengah kompetisi terbuka lebar.
Kesimpulan: Bursa Transfer Masih Menyimpan Bom Waktu
Untuk saat ini, bursa transfer Liga 1 ibarat api dalam sekam. Sepi di permukaan, tapi bukan tak mungkin meledak sewaktu-waktu.
Klub-klub tampaknya sedang menyusun langkah strategis, menunggu momen tepat untuk memperkenalkan amunisi barunya.
Bagi suporter, fase ini mungkin membuat gelisah. Tapi seperti biasa, drama besar dalam bursa transfer selalu datang di menit-menit terakhir.
Dan ketika waktunya tiba, mungkin saja satu transfer besar bisa mengubah peta persaingan secara total.
Editor : Mahendra Aditya