RADAR KUDUS - Menjelang malam puncak Liga Champions 2025, Paris Saint-Germain (PSG) menegaskan tidak akan mengubah filosofi permainannya saat berjumpa Inter Milan di partai final yang akan berlangsung di Allianz Arena, Munich, pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.
Meski laga ini sarat tensi dan menjadi pertaruhan besar, Les Parisiens tetap akan tampil menyerang—meskipun sedikit menyesuaikan strategi di sektor belakang.
Final kali ini jadi momen penting dalam sejarah PSG. Klub asal Paris ini baru dua kali menjejak babak final Liga Champions sepanjang sejarahnya, dan kini punya kesempatan besar untuk menorehkan prestasi bersejarah: merengkuh trofi “Si Kuping Besar” untuk kali pertama.
Namun di hadapan mereka berdiri lawan tangguh, Inter Milan, tim yang sudah tiga kali menjadi juara Eropa dan terakhir mengangkat trofi pada 2010.
Baca Juga: CATAT! Ini Jadwal Final Liga Champions 2025 PSG vs Inter Milan di Allianz Arena
Tetap Menekan Sejak Awal, Filosofi Tak Berubah
Meski akan menghadapi lawan dengan pengalaman lebih di panggung Eropa, PSG tak akan meninggalkan gaya bermain agresif yang telah menjadi ciri khas mereka sepanjang musim.
Bek senior PSG, Marquinhos, menegaskan bahwa tim tidak akan mengganti pendekatan taktik yang sudah membawa mereka hingga ke partai final.
“Kami sudah bekerja sangat keras memperbaiki pertahanan, tapi pendekatan kami secara keseluruhan tidak akan berubah,” kata Marquinhos dalam wawancara dengan Sky Sport Italia. “Kami akan tetap tampil dominan dan mencoba menekan sejak awal. Kami punya identitas permainan yang jelas dan itu tidak bisa diubah hanya karena ini final.”
Sentuhan Khusus di Lini Belakang
Meski filosofi menyerang tetap dipertahankan, PSG tak menutup mata terhadap ancaman yang dimiliki Inter.
Tim asal Italia ini dikenal punya pola bermain yang cerdas: mereka rela tertekan dalam waktu lama untuk kemudian menciptakan peluang emas lewat serangan balik cepat.
Skema itulah yang menjadi senjata utama Inter saat mengeliminasi Bayern Munich dan Barcelona di fase knockout.
Untuk mengantisipasi hal itu, Marquinhos menyebut bahwa lini belakang PSG sudah diberikan sentuhan khusus dalam sesi latihan akhir.
“Kami punya rencana untuk meredam kekuatan serangan mereka, terutama dari lini depan dan sayap yang sangat cepat. Tapi tentu saja kami tidak bisa buka semua strategi kami sekarang,” ucapnya.
Baca Juga: Sommer vs Donnarumma, Siapa yang Lebih Tangguh di Final Liga Champions?
PSG Unggul Statistik, Tapi Final Punya Cerita Sendiri
PSG bukan hanya tampil agresif di atas kertas. Sepanjang Liga Champions musim ini, mereka tercatat sebagai tim dengan penguasaan bola tertinggi ketiga (rata-rata 59,4%).
Mereka juga menjadi tim dengan jumlah tembakan terbanyak kedua, yakni 18,6 percobaan per pertandingan, hanya kalah dari Bayern Munich.
Namun Inter tak akan terintimidasi oleh statistik. Sejak fase gugur, pasukan Simone Inzaghi dikenal mampu mengendalikan tempo permainan dengan sabar, bahkan saat ditekan habis-habisan.
Mereka membuktikan itu saat menyingkirkan dua unggulan: Bayern dan Barca, dengan menunggu kesalahan lawan lalu memukul secara efektif.
Benturan Filosofi: Siapa yang Lebih Siap?
Final ini akan menjadi benturan dua pendekatan ekstrem: satu tim yang menyerang tanpa henti, dan satu tim lain yang ahli dalam bertahan dan menghukum kelengahan sekecil apa pun.
PSG mungkin lebih atraktif dan unggul secara statistik, tapi Inter punya mental baja dan efektivitas mematikan.
PSG akan sangat bergantung pada koordinasi lini pertahanan mereka untuk menahan serangan balik Lautaro Martinez dan rekan-rekan.
Sementara itu, Inter diperkirakan akan menyiapkan jebakan demi jebakan untuk menggagalkan dominasi Les Parisiens.
Menentukan Takdir di Munich
Jika PSG berhasil mempertahankan intensitas serangan mereka tanpa lengah di lini belakang, mereka punya peluang besar untuk mengakhiri penantian panjang akan gelar Liga Champions.
Tapi jika Inter berhasil membuat mereka frustrasi dan kehilangan disiplin, final ini bisa jadi milik tim asal Italia.
Satu hal yang pasti, duel di Allianz Arena dini hari nanti bukan sekadar tentang taktik dan strategi—tapi juga tentang siapa yang paling tenang dalam tekanan dan paling klinis dalam momen-momen krusial.
Siapakah yang akan pulang dengan trofi? PSG yang memburu sejarah? Atau Inter yang ingin mengulang kejayaan masa lalu? Saksikan dan temukan jawabannya!
Editor : Mahendra Aditya