RADAR KUDUS — PSS Sleman akhirnya mengamankan kemenangan penting 2-1 atas Persija Jakarta dalam duel panas pekan ke-33 Liga 1 2024/2025 di Stadion Maguwoharjo, Sabtu malam (17/5/2025).
Tapi meski menang, nasib Super Elja tetap berada di ujung tanduk. Dengan torehan 31 poin—jumlah yang sama dengan Barito Putera—dua tim ini kini berdiri di tepi jurang degradasi, menanti siapa yang akan jatuh lebih dulu ke Liga 2.
Drama 90 Menit yang Berujung Ketegangan
Pertandingan ini menyajikan segalanya: tensi tinggi, emosi memuncak, dan drama di dalam maupun luar lapangan.
PSS membuka keunggulan lewat penalti Gustavo Tocantins di menit ke-24, namun hanya semenit berselang, Pablo Andrade membalas dengan gol cantik dari luar kotak penalti.
Skor imbang 1-1 bertahan hingga waktu normal hampir habis. Saat harapan mulai pupus, Marcelo Cirino tampil sebagai penyelamat.
Golnya di menit akhir membuat stadion bergemuruh dan PSS merebut tiga poin penting.
Kemenangan Pahit: Zona Merah Masih Membayang
Sayangnya, meski menang, posisi PSS di klasemen belum sepenuhnya aman. Dengan 31 poin dari 33 pertandingan, mereka hanya unggul selisih gol dari Barito Putera yang juga mengoleksi 31 poin.
Masih ada satu pertandingan tersisa bagi masing-masing tim, dan segala kemungkinan bisa terjadi.
Jika Barito menang di laga terakhir dan PSS tergelincir, maka Super Elja dipastikan harus turun ke Liga 2. Begitu pun sebaliknya.
Pertarungan hidup-mati ini membuat pekan terakhir Liga 1 musim ini akan jadi pekan paling menentukan dan menegangkan.
Kericuhan dan Potensi Sanksi Komdis
Sayangnya, pertandingan ini juga tercoreng oleh aksi tidak sportif dari sejumlah suporter. Pada menit ke-70, ketika Persija mendapat sepak pojok, sejumlah oknum melemparkan botol, flare, hingga bom asap ke dalam lapangan.
Bahkan, seorang hakim garis dikabarkan mengalami luka ringan akibat lemparan benda tumpul dari tribun.
Kondisi ini memaksa wasit menghentikan pertandingan selama beberapa menit untuk menenangkan situasi.
Komite Disiplin (Komdis) PSSI kini tengah menunggu laporan resmi untuk menentukan sanksi bagi klub, dan ini bisa saja memperburuk situasi PSS Sleman secara administratif.
Statistik Menarik & Aksi Pemain Kunci
Laga ini juga menyuguhkan duel taktis antara dua pelatih: Pieter Huistra (PSS) dan Ricky Nelson (caretaker Persija).
Beberapa nama mencuri perhatian, termasuk Gustavo Tocantins yang tampil eksplosif sejak menit awal, serta Riko Simanjuntak yang menunjukkan permainan agresif dan penuh determinasi.
Alan Jose di bawah mistar PSS tampil tenang dan sigap, menggagalkan beberapa peluang emas dari Persija.
Di sisi lain, Carlos Eduardo juga mencatatkan beberapa penyelamatan penting meskipun akhirnya harus memungut bola dua kali dari gawangnya.
PSS vs Barito: Siapa yang Gagal Bertahan?
Kini, baik PSS maupun Barito hanya memiliki satu laga tersisa untuk menentukan nasib mereka. Situasi ini mirip dengan “final kecil” tanpa trofi—karena taruhannya justru kehormatan dan status sebagai tim Liga 1.
Super Elja akan menghadapi Madura United, tim kuat yang masih bersaing di papan atas. Sementara Barito Putera menghadapi tim yang relatif lebih ringan, tetapi tekanan mental bisa jadi faktor pembeda.
Apakah PSS Akan Terdegradasi?
Pertanyaan itu kini menggantung di benak publik Sleman. Kemenangan dramatis atas Persija seolah memberi harapan, namun realita klasemen menunjukkan bahwa satu kesalahan saja bisa membuat tim terhempas ke Liga 2, menyusul PSIS Semarang yang sudah hampir pasti terdegradasi.
Dengan situasi mental suporter yang tengah membara dan potensi sanksi yang membayangi, laga terakhir akan jadi titik klimaks yang menentukan segalanya.
Meskipun berhasil mengalahkan Persija, kemenangan PSS belum menjamin keselamatan mereka.
Satu laga tersisa akan menjadi penentu apakah Super Elja tetap bertarung di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, atau harus kembali berjuang dari bawah di Liga 2. Kini, segalanya tergantung pada perjuangan akhir dan... mungkin, keajaiban.