RADAR KUDUS - Musim 2024/25 Pegadaian Liga 2 Indonesia dipastikan hadir dengan sejumlah perubahan signifikan dalam format kompetisi.
Berbeda dari musim sebelumnya yang diikuti oleh 28 tim, edisi kali ini akan diikuti oleh 26 tim yang terbagi dalam tiga zona: barat, tengah, dan timur. Penurunan jumlah tim ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kompetisi serta persaingan antar peserta.
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, menyampaikan bahwa para tim akan bersaing ketat demi memperebutkan posisi delapan besar yang akan melanjutkan ke fase grup kedua.
“Kompetisi tetap menggunakan format double-round robin. Nantinya, delapan tim terbaik akan masuk babak delapan besar yang akan dibagi menjadi dua grup.
Di sini, tiga tim teratas akan bersaing untuk promosi. Juara grup otomatis akan promosi, sedangkan runner-up akan bertanding di playoff untuk memperebutkan satu tiket promosi lagi,” ungkap Ferry Paulus.
Sementara itu, tim-tim yang tidak berhasil lolos ke babak delapan besar akan menghadapi babak playoff degradasi. Sebanyak 18 tim yang tersisih akan terbagi menjadi tiga grup yang masing-masing beranggotakan enam tim.
“Untuk tim di zona degradasi, formatnya juga sama. Tim-tim ini akan dibagi dalam tiga grup, dan tiga tim terbawah dari setiap grup akan langsung terdegradasi. Jadi, ini juga sangat kompetitif dan penuh tekanan,” tambah Ferry Paulus.
Wajibkan Pemain U-21 dan Apresiasi Pegadaian
Selain perubahan format, Liga 2 musim 2024/25 ini juga menghadirkan aturan baru terkait pemain muda.
Setiap tim diwajibkan untuk mendaftarkan setidaknya lima pemain U-21 dan memastikan mereka mendapatkan menit bermain minimal 90 menit dalam setiap pertandingan.
Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para pemain muda untuk berkembang dan terlibat aktif di kompetisi profesional.
“Setiap tim minimal harus mendaftarkan lima pemain U-21 dan mereka harus bermain total 90 menit dalam satu pertandingan. Mereka bisa dimainkan dalam berbagai cara, misalnya tiga pemain dengan masing-masing 30 menit, atau pembagian menit lain yang sesuai dengan kebutuhan tim,” jelas Ferry Paulus mengenai peraturan baru tersebut.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, turut memberikan apresiasi atas dukungan Pegadaian yang menjadi sponsor utama Liga 2.
Erick berharap perubahan ini dapat mendorong perkembangan Liga 2 menuju kompetisi yang lebih profesional. “PSSI mendorong Liga 1 dan Liga 2 untuk menjadi kompetisi yang profesional, sementara Liga 3 dan Liga 4 tetap amatir.
Harapan kami, profesionalisme di Liga 1 dan Liga 2 terus meningkat dengan club licensing yang berjalan lebih ketat,” ujar Erick dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pegadaian, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024).
Erick juga menekankan pentingnya penerapan aturan club licensing, di mana klub yang tidak mematuhi aturan akan dikenakan sanksi berupa pengurangan dukungan dana dan poin.
Kebijakan ini, menurutnya, perlu ditegakkan di Liga 2 untuk memastikan bahwa klub-klub peserta memiliki standar yang memadai.
VAR dan Infrastruktur Stadion Liga 2
Meski beberapa perubahan besar diterapkan, penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) belum akan dihadirkan di Liga 2 musim ini.
Ferry Paulus mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh infrastruktur stadion yang belum memadai untuk mendukung teknologi tersebut. Namun, ia memastikan bahwa komitmen menghadirkan VAR tetap ada untuk musim berikutnya.
“Kami berkomitmen menghadirkan VAR musim depan. Kesulitannya bukan hanya dari segi biaya, tapi juga infrastruktur stadion klub-klub Liga 2 yang saat ini masih belum memungkinkan. Persiapan akan terus dilakukan, dan kami yakin bisa menghadirkannya di musim mendatang,” ungkap Ferry Paulus.
Dengan format baru yang lebih ketat, regulasi wajib pemain U-21, serta komitmen menghadirkan teknologi VAR di masa depan, Pegadaian Liga 2 diharapkan dapat semakin berkembang menjadi kompetisi yang lebih profesional dan menarik.
Kompetisi musim 2024/25 ini diharapkan menjadi ajang persaingan sengit bagi para tim untuk meraih tiket promosi dan mempertahankan posisi di kasta kedua sepak bola Indonesia. (ury)
Editor : Abdul Rokhim