Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Calciopoli, Sejarah Kelam Liga Italia Serie A dan Kasus Pengaturan Skor Terburuk Sepanjang Sejarah Sepak Bola Italia

Zakarias Fariury • Selasa, 3 September 2024 | 16:10 WIB
KORUP: Luciano Moggi, mantan Direktur Umum Juventus. Dalang utama kasus Calciopoli di Liga Italia Serie A. (FOTO: AP / Luca Bruno)
KORUP: Luciano Moggi, mantan Direktur Umum Juventus. Dalang utama kasus Calciopoli di Liga Italia Serie A. (FOTO: AP / Luca Bruno)

RADAR KUDUS - Franco Borrelli, seorang mantan hakim yang memiliki reputasi tanpa kompromi, awalnya hanya menginginkan masa tua yang tenang dan damai.

Setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia hukum, ia bermimpi menikmati waktu dengan membaca buku, bermain dengan cucu-cucu kesayangannya, dan menyusuri jalan-jalan indah di kota Roma saat senja tiba.

Namun, rencana sederhana itu harus ditunda ketika Federasi Sepakbola Italia (FIGC) memanggilnya untuk menjalankan misi berat pada tahun 2006.

Borrelli bukanlah pilihan sembarangan. Di masa jayanya sebagai hakim, ia dikenal sebagai sosok yang tak kenal ampun dalam perang melawan korupsi.

Pada awal 1990-an, ia memimpin operasi besar-besaran yang mengguncang Italia dengan menangkap lebih dari 3.200 politisi dan pengusaha lokal atas tuduhan korupsi.

Pengalamannya dalam membersihkan sistem hukum membuatnya menjadi pilihan tepat untuk memimpin penyelidikan terhadap skandal yang kelak dikenal sebagai Calciopoli skandal pengaturan skor yang mengguncang dunia sepakbola Italia dan meninggalkan noda hitam dalam sejarah olahraga tersebut.

Menguak Skandal Calciopoli

Calciopoli adalah istilah yang merujuk pada skandal pengaturan skor, suap, dan korupsi yang melibatkan sejumlah besar klub, pemain, wasit, hakim, hingga politisi di Italia.

Tradisi korupsi dalam sepakbola bukanlah hal baru, tetapi di Italia, praktik ini mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.

Penyelidikan dimulai setelah Juventus, salah satu klub raksasa Italia, memenangkan gelar Serie A musim 2004/2005 dengan selisih tujuh poin dari AC Milan.

Gelar tersebut ternyata tidak diraih secara bersih. Penyelidikan FIGC, yang didukung oleh kejaksaan dan kepolisian, menemukan adanya indikasi kuat bahwa setidaknya 20 pertandingan Juventus diatur dengan bantuan wasit yang sudah dipengaruhi.

Menurut sebuah studi oleh Babatunde Buraimo, Giuseppe Migali, dan Rob Simmons, skandal ini menunjukkan bahwa wasit yang dipilih untuk memimpin pertandingan tertentu diarahkan untuk membuat keputusan yang menguntungkan Juventus.

Intervensi ini tidak selalu dilakukan saat wasit memimpin pertandingan Juventus; mereka juga diinstruksikan untuk memengaruhi hasil pertandingan tim lain yang memiliki dampak pada perburuan gelar.

Bahkan, wasit yang tidak patuh pada arahan ini akan menghadapi ancaman serius, mulai dari skorsing hingga pemecatan.

Luciano Moggi: Dalang di Balik Layar

Di balik semua kecurangan ini, ada satu sosok yang menjadi otak pengaturan skor: Luciano Moggi, Direktur Umum Juventus saat itu.

Moggi adalah figur sentral yang, berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan FIGC, memainkan peran penting dalam merencanakan dan mengeksekusi skandal ini.

Moggi tidak hanya memiliki akses dan kekuasaan yang luar biasa, tetapi juga menggunakan pengaruhnya secara halus dan tanpa jejak yang mencolok.

Tidak ada bukti transfer uang langsung ke rekening wasit atau pemain yang menerima amplop suap; namun, Moggi mampu memilih wasit untuk pertandingan tertentu, memengaruhi keputusan federasi sepakbola, dan bahkan menyetir arah liputan media.

Moggi, seperti diungkapkan dalam sebuah laporan oleh The Guardian, adalah seorang manipulator ulung.

Ia dikenal membuat dan menerima rata-rata 416 panggilan telepon per hari, menggunakan enam ponsel dan 300 kartu SIM berbeda.

Dalam kurun waktu sembilan bulan, ia melakukan hampir 100 ribu panggilan. Hubungannya tidak terbatas pada lingkaran Juventus saja, tetapi juga mencakup pejabat federasi sepakbola, klub-klub lain, dan bahkan para pemain.

Ia memiliki agen pemain, GEA, yang dikendalikan oleh putranya, Alessandro Moggi, dan menaungi sekitar 200 pemain, termasuk anak-anak dari figur penting di dunia sepakbola Italia.

Nama Moggi sendiri bukanlah nama baru di kancah sepakbola Italia. Kariernya sudah dimulai sejak era 1980-an, dengan pengalaman di klub-klub besar seperti Lazio dan Napoli, sebelum akhirnya menjadi salah satu petinggi di Juventus.

Moggi sudah terbiasa dengan berbagai kontroversi, termasuk menjadi saksi pengaturan skor yang melibatkan Lazio pada 1980 dan perseteruan dengan Diego Maradona saat ia masih di Napoli.

Kejatuhan Juventus dan Pengadilan Calciopoli

Setelah penyelidikan panjang, hukuman keras pun dijatuhkan. Juventus harus menerima kenyataan pahit: mereka didegradasi ke Serie B, kehilangan sembilan poin, dan dilarang berpartisipasi dalam Liga Champions Eropa musim 2006/2007.

Gelar Serie A mereka untuk musim 2004/2005 dan 2005/2006 juga dilucuti.

Selain itu, Lazio, Fiorentina, AC Milan, dan Reggina juga mendapat sanksi berupa pengurangan poin dan denda yang signifikan.

Luciano Moggi sendiri dijatuhi larangan seumur hidup untuk terlibat dalam dunia sepakbola.

Namun, efek dari Calciopoli tidak serta merta menghentikan praktik-praktik korupsi dalam sepakbola Italia.

Enam tahun setelah skandal itu meletus, publik kembali diguncang dengan kabar pengaturan skor lainnya. Beberapa tokoh terkenal, termasuk kapten Lazio Stefano Mauri, ditangkap.

Skandal ini bahkan membuat Perdana Menteri Italia saat itu, Mario Monti, mengusulkan penangguhan sepakbola di Italia selama dua atau tiga tahun sebuah langkah yang tentu saja sulit terwujud.

Skandal Calciopoli seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi sepakbola Italia. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa menghentikan korupsi dan pengaturan skor bukanlah tugas yang mudah.

Budaya culas ini sudah mengakar dan memerlukan reformasi besar-besaran yang melibatkan seluruh elemen dalam sistem sepakbola. Italia telah mencoba, meski hasilnya belum memuaskan. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Bisakah kita belajar dari pengalaman Italia dan memastikan bahwa sepakbola kita bersih dari praktik-praktik yang merusak ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (ury)

Editor : Abdul Rokhim
#kasus serie a #juventus #skandal serie a #jadwal serie A #ac milan #calciopoli #sejarah serie a #klasemen serie a #serie a #statistik serie a #lazio #fiorentina #hak siar serie a #siaran serie a