RADAR KUDUS - Serie A, satu dari lima liga top Eropa. Serie A adalah liga Italia yang memiliki fans base terbesar diduni, Klub-klub seperti Juventus, AC Milan, Inter, AS Roma, Napoli dan Bahkan kala itu Parma.
Beberapa tahun belakangan banyak kasus kasus besar yang menimpa klub dan Liga membuatnya meredup di bawah sinar liga liga top Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol dan Jerman dengan Bundesliganya.
Kasus seperti kebangkrutan, perjudian, hingga yang terbaru tuntutan klub dan masalah penjualan hak siar di seluruh beberapa Negara. Lalu Kenapa itu bisa terjadi?
Pada awal 1990-an hingga awal 2000-an, Serie A Italia merupakan kiblat sepakbola dunia. Para bintang lapangan hijau dari berbagai belahan dunia berkumpul di negeri tempat kelahiran Leonardo Da Vinci ini, meramaikan salah satu liga terbaik dan paling kompetitif di Eropa kala itu.
Kejatuhan Serie A dimulai ketika skandal Calciopoli muncul pada tahun 2006 yang menyeret klub klub besar. Imbasnya salah satu klub terbesar di Serie A, Juventus, harus degradasi ke Serie B. sehingga banyak pemain pemain kelas dunianya meninggalkan klub.
Banyak pengamat yang berpendapat bahwa kegagalan Liga Serie A bersain dengan liga-liga Eropa lain ialah klub-klub Italia tak mampu bersaing di Eropa akibat ketidakmampuan beradaptasi dengan tuntutan industri sepakbola yang semakin modern.
Sementara di Inggris, Liga Premier telah merevolusi model bisnisnya dengan menerapkan konsep liga yang lebih komersial dan mengoptimalkan hak siar internasional khususnya untuk menarik pasar Asia yang memiliki potensi pasar yang besar.
Premier League, misalnya, berani menyiarkan pertandingan pada pukul 12 siang waktu setempat, demi menjangkau pemirsa Asia, langkah yang sulit diikuti oleh Serie A.
Keterlambatan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan industri juga terlihat dari minimnya investasi dalam pengembangan infrastruktur klub.
Hingga awal 2000-an, hampir tidak ada klub yang berinvestasi pada pembangunan fasilitas atau perekrutan pemain untuk jangka panjang.
Tidak hanya itu, citra sepakbola Italia juga tercoreng oleh skandal Calciopoli yang melibatkan sejumlah klub, wasit, dan pejabat tinggi pada 2006.
Skandal ini tidak hanya menurunkan daya tarik Serie A di mata internasional, tetapi juga menyebabkan penurunan rata-rata kehadiran penonton di stadion yang tidak pernah melebihi 26.000 per laga.
Penonton merasa kecewa lantaran klub klub kesayangannya tersangkut kasus Calciopoli kala itu, sehingga mereka engga untuk menonton atau mendukung kembali klubnya.
Dampak lebih lanjut, Serie A dianggap tidak aman secara bisnis bagi para miliarder yang ingin berinvestasi.
Akibatnya, hanya sedikit miliarder yang tertarik berinvestasi di klub-klub Serie A, dan mereka yang sudah ada bukanlah tipe pemilik yang bersedia mengeluarkan dana tanpa batas seperti Sheikh Mansour ataupun Roman Abramovich kala itu di Chelsea.
Selain masalah investasi, sepakbola Italia juga dihadapkan pada isu rasisme yang hampir tak pernah terselesaikan.
Kampanye anti-rasisme di Italia justru sering berakhir menjadi bumerang, dan federasi sepakbola Italia belum ada niatan menunjukan keseriusan dalam menangani masalah ini.
Hal ini tidak hanya mencoreng citra kompetisi, tetapi juga membuat Serie A kurang menarik bagi pemain-pemain internasional.
Dengan segala tantangan ini, Serie A membutuhkan dukungan finansial yang kuat untuk bersaing di era sepakbola modern.
Jika klub-klub Italia mampu menarik miliarder yang siap berinvestasi besar-besaran, hal ini akan memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan bagi para pelatih dan tim.
Yang terbaru ialah datangnya Pengusaha asal Indonesia yang berinvestasi di Como 1907, menariknya mereka tidak berinvestasi pada klub klub besar tapi berniat menjadikan klub kecil menjadi raksasa.
Saat ini Como 1907 sedang berkompetisi di kasta teratas sepak bola Serie A itu.
Namun, itu saja tidak cukup. Klub-klub Italia juga perlu membangun mental pemenang untuk bersaing dengan raksasa Eropa lainnya.
Serie A harus segera berbenah jika mereka ingin kembali mengulang kejayaan mereka di dunia sepakbola (ury).
Editor : Abdul Rokhim