JAKARTA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan, tetapi juga dapat memicu gangguan pada mata.
Masyarakat di wilayah terdampak perlu mewaspadai gejala iritasi, terutama jika mata terasa perih, merah, gatal, hingga pandangan menjadi buram.
Dokter Spesialis Mata RS Umum Sriwijaya Palembang, Ryan Aquario, menjelaskan bahwa mata rentan mengalami gangguan akibat paparan asap karena permukaannya bersentuhan langsung dengan udara luar.
Baca Juga: 10.070 Kopdes Merah Putih Sudah Beroperasi, Salurkan Bansos BPNT dan BLT
Partikel mikroskopis dan gas berbahaya yang terkandung dalam asap dapat mengiritasi jaringan mata.
Ryan menyebut, peningkatan keluhan iritasi mata terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla, khususnya di sejumlah wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.
Kondisi tersebut juga terlihat dari meningkatnya jumlah warga yang mendatangi fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp6,3 Juta hingga Rp8,3 Juta, Agrinas Bahas Jadwal Pembayaran
Gejala gangguan mata akibat asap karhutla dapat berupa rasa perih atau terbakar, mata memerah, gatal, serta sensasi seperti terdapat benda asing yang mengganjal.
Keluhan tersebut perlu diperhatikan, terutama ketika paparan asap masih berlangsung.
Menurut Ryan, jumlah pasien yang mengeluhkan gangguan mata di fasilitas kesehatan tempatnya bertugas meningkat setiap hari.
Kecenderungan itu sejalan dengan bertambahnya kunjungan pasien yang mengalami gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Di mata sendiri, seperti di tempat saya, hingga belasan warga yang setiap harinya datang ke fasilitas kesehatan,” terangnya.
Meski mata merah dan iritasi kerap muncul akibat paparan asap, masyarakat tidak dianjurkan menganggapnya sebagai keluhan ringan.
Ryan mengingatkan, mata merah juga dapat disebabkan oleh kondisi lain sehingga gejala yang menyertai perlu diperhatikan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG 16 Oktober 2026: Hujan di 19 Kota, Gelombang Laut hingga 4 Meter
Warga disarankan segera memeriksakan diri ke dokter apabila mata terasa mengganjal atau perih disertai pandangan buram maupun sensasi benda asing.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.
Untuk mengurangi risiko iritasi, masyarakat di kawasan terdampak karhutla dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Jika harus bepergian, gunakan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan langsung asap dan partikel di udara.
Baca Juga: Antrean BBM di Bali Mengular, Petugas SPBU Ngamuk Diminta Beroperasi 24 Jam
Apabila mata terasa perih, masyarakat juga disarankan membilasnya menggunakan cairan steril.
Hindari penggunaan obat tetes mata secara sembarangan tanpa anjuran tenaga medis, khususnya jika keluhan tidak membaik atau disertai gangguan penglihatan.
Editor : Mahendra Aditya