Data BPS: Pengeluaran Masyarakat untuk Rokok Lebih Tinggi Dibanding Belanja Daging, Susu, dan Telur

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:57 WIB
Data BPS: Pengeluaran Masyarakat untuk Rokok Lebih Tinggi Dibanding Belanja Daging, Susu, dan Telur
Data BPS: Pengeluaran Masyarakat untuk Rokok Lebih Tinggi Dibanding Belanja Daging, Susu, dan Telur
 
RADAR KUDUS - Di tengah gencar-gencarnya program dan strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi nasional serta menekan angka stunting (tengkes), temuan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap potret ketimpangan konsumsi masyarakat yang memprihatinkan.
 
Alokasi anggaran belanja rumah tangga untuk membeli rokok dan tembakau ternyata jauh melampaui belanja bahan pangan bergizi tinggi seperti daging, telur, dan susu.

Berdasarkan publikasi resmi BPS bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia untuk kelompok rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per bulan.
 
Baca Juga: Pemanas Ayam Picu Kebakaran Kandang di Keling, Kerugian Rp 800 Juta
 
Angka ini menyedot porsi hingga 11,57 persen dari total keseluruhan pengeluaran kelompok makanan harian masyarakat.

Nilai belanja rokok tersebut terbukti mengungguli gabungan pengeluaran untuk sumber protein utama.
 
Data BPS mencatat rata-rata konsumsi per kapita bulanan untuk daging hanya sebesar Rp40.352, sementara belanja gabungan untuk telur dan susu berada di angka Rp44.915. 
 
Jika kedua kelompok pangan kaya protein tersebut dijumlahkan, totalnya hanya mencapai Rp85.267 per bulan—masih di bawah angka alokasi belanja rokok harian.

Kondisi ini menempatkan komoditas rokok dan tembakau sebagai kelompok pengeluaran makanan terbesar kedua bagi masyarakat Indonesia, tepat berada di bawah kelompok makanan dan minuman jadi.

Fenomena pergeseran prioritas konsumsi ini terlihat jauh lebih mencolok dan timpang di kawasan perdesaan.
 
Di wilayah desa, rata-rata pengeluaran per kapita untuk rokok dan tembakau membengkak hingga menyentuh Rp100.951 per bulan.

Sebagai pembanding, masyarakat perdesaan rata-rata hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp26.046 per bulan untuk belanja daging, Rp38.016 untuk telur dan susu, serta Rp37.563 untuk buah-buahan segar.
 
Hal ini mengindikasikan bahwa belanja rokok penduduk desa hampir mencapai empat kali lipat dari anggaran pembelian daging segar, sekaligus lebih tinggi dibanding akumulasi total belanja daging, telur, dan susu.
 
Baca Juga: Review Samsung Galaxy Watch Ultra 2: Baterai 800 mAh, Layar 5.000 Nit, dan Fitur Olahraga Lengkap

Ketimpangan alokasi belanja rumah tangga ini memicu keprihatinan mendalam dari para pakar kesehatan publik dan ekonomi kesejahteraan.
 
Alokasi dana yang terdistorsi ke produk tembakau dinilai menggerus daya beli keluarga terhadap pangan bergizi—faktor kunci yang dibutuhkan untuk memperbaiki gizi anak serta mencegah gangguan tumbuh kembang sejak dini.

Meski demikian, BPS mengklarifikasi bahwa besaran angka dalam statistik tersebut merupakan angka rata-rata yang dihitung dari total agregat seluruh populasi penduduk Indonesia, dan tidak serta-merta mengindikasikan bahwa setiap individu warga negara mengonsumsi atau membelanjakan uangnya untuk rokok. (*)
 
Editor : Mahendra Aditya
Data BPS Konsumsi Rokok 2026 Pengeluaran Rokok vs Pangan Bergizi Anggaran Belanja Daging Susu Telur Masalah Gizi dan Stunting Indonesia Profil Pengeluaran Penduduk Perdesaan