Karhutla Jadi Sorotan, Respons Lima Gubernur Kalimantan Tuai Kritik Publik

Azka Ilham Najan • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:18 WIB
KARHUTLA: Petugas dan warga berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di tengah ancaman kabut asap.
KARHUTLA: Petugas dan warga berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di tengah ancaman kabut asap.

RADAR KUDUS – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi sorotan publik setelah sejumlah pernyataan dan tindakan kepala daerah menuai kritik di media sosial.

Sorotan tersebut muncul di tengah dampak kebakaran yang masih dirasakan masyarakat, mulai dari kabut asap hingga terganggunya aktivitas sehari-hari.

Lima gubernur yang mendapat perhatian ialah Ria Norsan dari Kalimantan Barat, Agustiar Sabran dari Kalimantan Tengah, Muhidin dari Kalimantan Selatan, Rudy Mas’ud dari Kalimantan Timur, dan Zainal Paliwang dari Kalimantan Utara.

Peristiwa yang menjadi sorotan terjadi dalam rentang Agustus hingga Oktober 2026, dengan konteks dan respons berbeda di setiap daerah.

Pernyataan dan Tindakan Gubernur yang Disorot

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mendapat kritik setelah berdialog dengan mahasiswa yang memprotes penanganan karhutla di kawasan Bundaran Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, pada 3 September 2026.

Dialog tersebut sempat memanas ketika Ria mempertanyakan keterlibatan mahasiswa dalam penanganan kebakaran.

Mahasiswa kemudian menyatakan bahwa kelompok mereka turut membantu sebagai relawan.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjadi sorotan setelah video pernyataannya tentang karhutla viral pada Oktober 2026.

Dalam pernyataan tersebut, Agustiar menyebut hampir 97 persen kebakaran disebabkan ulah manusia dan mengajak berbagai pihak bekerja sama.

Namun, candaan yang disampaikannya dengan ungkapan “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” menuai kritik karena dinilai tidak tepat di tengah situasi yang berdampak pada masyarakat.

Anggota DPR RI dari Fraksi PKB Daniel Johan turut mengkritik pernyataan Agustiar.

Ia menilai kepala daerah perlu menyampaikan pernyataan yang menunjukkan empati dan mampu mengayomi masyarakat ketika menghadapi bencana.

Di Kalimantan Selatan, Gubernur Muhidin sebelumnya menuai kritik setelah menyebut kondisi karhutla di Banjarbaru tidak lagi parah pada Agustus 2026.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena kabut asap masih dirasakan warga.

Pada 12 Oktober 2026, Muhidin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat melalui pernyataan yang diberitakan media, dengan menjelaskan bahwa pemerintah daerah belum dapat membantu seluruh wilayah Kalimantan Selatan dan sedang memprioritaskan penanganan di sekitar bandara.

Sorotan juga tertuju kepada Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud. Pada Agustus 2026, Rudy menyebut kondisi karhutla di wilayahnya masih aman meskipun sejumlah sekolah diliburkan akibat kabut asap.

Pada Oktober, foto Rudy yang sedang berada di Singapura beredar di media sosial dan kembali menuai kritik karena muncul ketika masyarakat masih menghadapi dampak kebakaran.

Menanggapi foto tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ririn Sari Dewi menjelaskan bahwa Rudy pergi ke Singapura pada 10 Oktober untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

Perjalanan itu disebut telah memperoleh persetujuan lisan dari Menteri Dalam Negeri.

Adapun Gubernur Kalimantan Utara Zainal Paliwang mendapat sorotan setelah menghadiri turnamen sepak bola pada awal September dan kemudian terlibat langsung dalam upaya pemadaman api di Tarakan.

Aksinya di lapangan turut menjadi perbincangan setelah api kembali muncul. Zainal menyatakan tidak ingin terlalu menanggapi komentar negatif terhadap keterlibatannya membantu petugas.

Penanganan Karhutla Masih Menjadi Tantangan

Sorotan terhadap para gubernur tersebut muncul ketika penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan pemerintah dalam rapat terbatas pada 12 Oktober 2026, sekitar 639 hektare lahan di enam provinsi masih dalam proses pemadaman.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas lahan yang masih ditangani paling besar, yakni sekitar 524,69 hektare.

Pemerintah pusat menyatakan operasi darat terus dilakukan dengan dukungan personel gabungan, disertai operasi udara dan upaya modifikasi cuaca sesuai kondisi di lapangan.

Pemerintah juga meminta seluruh sumber daya dioptimalkan untuk mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.

Berbagai kritik yang muncul memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap penanganan karhutla.

Di tengah kondisi tersebut, respons pejabat publik tidak hanya menjadi perhatian, tetapi juga berkaitan dengan harapan warga agar upaya pemadaman, perlindungan kesehatan, dan penanganan dampak kabut asap berjalan efektif.

Editor : Ali Mustofa
kebakaran hutan dan lahan kabut asap karhutla Kalimantan gubernur Kalimantan Agustiar Sabran