RADAR KUDUS - Kualitas udara di Kota Pontianak membaik setelah hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (14/10/2026) pagi. Indeks kualitas udara atau AQI yang sempat menyentuh angka 597 pada Selasa malam turun menjadi 199 pada pukul 06.00 WIB. Meski mengalami penurunan tajam, polusi partikel halus PM2.5 masih berada pada tingkat yang tidak sehat.
Hujan mulai mengguyur Pontianak dan sekitarnya sekitar pukul 05.00 WIB selama kurang lebih satu jam. Kondisi tersebut turut membuat kabut asap tebal yang menyelimuti kota pada malam sebelumnya mulai menipis.
Berdasarkan data IQAir AirVisual, AQI US Pontianak pada Rabu pukul 06.00 WIB tercatat sebesar 199, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 124 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan Selasa (13/10/2026) pukul 22.00 WIB. Saat itu, AQI Pontianak mencapai 597 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 374 µg/m³.
Penurunan tersebut terjadi setelah hujan dan angin kencang melanda kawasan Pontianak pada dini hari. Namun, membaiknya angka indeks kualitas udara belum berarti masyarakat dapat sepenuhnya terbebas dari ancaman polusi.
Konsentrasi PM2.5 sebesar 124 µg/m³ masih tergolong tinggi. Partikel polutan berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung maupun gangguan pernapasan perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tersebut. Paparan polusi pada tingkat tidak sehat dapat memicu gangguan kesehatan, terlebih jika berlangsung dalam waktu lama.
Masyarakat disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker respirator seperti N95 atau KN95 dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.
Hujan berperan membantu membersihkan udara melalui proses pencucian atmosfer, yakni ketika air hujan menangkap dan membawa partikel polutan turun ke permukaan. Sementara itu, angin dapat memindahkan atau menyebarkan polutan sehingga konsentrasinya di suatu wilayah berubah.
Meski demikian, kedua faktor cuaca tersebut tidak serta-merta menghilangkan sumber pencemaran. Apabila kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung, asap berpotensi kembali meningkatkan konsentrasi polutan, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung penumpukan asap di suatu wilayah.
Sebelumnya, tingginya polusi udara di Pontianak terjadi ketika titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah. Asap dari kebakaran hutan dan lahan berpotensi terbawa angin hingga memengaruhi kualitas udara di kawasan sekitarnya.
Karena itu, penurunan AQI setelah hujan pada Rabu pagi perlu disikapi secara hati-hati. Pemantauan kualitas udara dan perkembangan sumber asap tetap diperlukan untuk mengetahui apakah perbaikan tersebut bertahan atau hanya berlangsung sementara.
Masyarakat diimbau memeriksa pembaruan indeks kualitas udara sebelum melakukan kegiatan di luar ruangan. Hujan deras dan angin kencang memang membawa perbaikan bagi Pontianak, tetapi AQI 199 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 124 µg/m³ menunjukkan bahwa polusi udara masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai.
Editor : Mahendra Aditya