RADAR KUDUS – PSSI menyampaikan kecaman keras atas dugaan aksi kekerasan yang menimpa rombongan Persib Bandung U18 setelah mengikuti turnamen Elite Pro Academy (EPA) di Surakarta, Minggu.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengungkapkan keprihatinan sekaligus kekecewaannya terhadap insiden yang dilaporkan terjadi di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah.
Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang anggota tim media Persib mengalami kekerasan fisik.
Selain itu, bus yang digunakan rombongan EPA Persib dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah koper milik pemain dan ofisial juga disebut hilang akibat dugaan penjarahan dalam kejadian tersebut.
Dalam pernyataan resmi PSSI pada Senin, Yunus menegaskan bahwa keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola harus menjadi perhatian utama.
Hal itu mencakup pemain, ofisial, pekerja media, hingga suporter klub maupun tim nasional.
Ia menekankan, prinsip keselamatan dalam sepak bola sejalan dengan komitmen bersama FIFA, yakni setiap orang yang menghadiri kegiatan sepak bola harus dapat kembali ke rumah dengan aman.
Yunus mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut, terlebih karena rombongan yang menjadi sasaran merupakan kelompok pemain usia muda yang sedang meniti karier di dunia sepak bola.
Menurutnya, para pemain Persib U18 tidak seharusnya menjadi korban konflik atau rivalitas antarkelompok.
Mereka datang untuk bertanding dan mengembangkan kemampuan, bukan terlibat dalam perselisihan di luar lapangan.
Ia menilai semangat para pemain muda yang berjuang demi kepentingan pribadi dan klub patut dihormati oleh semua pihak.
PSSI menilai dugaan aksi kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Sepak bola seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap orang untuk berkompetisi, menyaksikan pertandingan, maupun menjalankan tugas profesional.
Yunus juga mempertanyakan sampai kapan tindakan kekerasan dalam lingkungan sepak bola akan terus terjadi apabila seluruh pihak tidak memiliki kesadaran untuk menjaga keamanan dan menghormati sesama.
Sebagai tindak lanjut, PSSI menyatakan akan berkoordinasi dengan kepolisian guna membantu mengungkap kasus tersebut.
Organisasi sepak bola nasional itu meminta aparat melakukan penyelidikan menyeluruh, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, serta memproses pelaku sesuai ketentuan hukum.
"Kami sangat menyayangkan. Sampai kapan ini akan berakhir kalau kita tidak saling sadar? Untuk apa kita melakukan hal-hal seperti itu?,” kata Yunus, dikutip dari Antara.
PSSI juga mendorong I.League dan klub-klub terkait untuk mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Menurut Yunus, penegakan hukum diperlukan untuk memberikan keadilan kepada korban sekaligus menjadi peringatan bahwa tindakan kriminal dalam kegiatan sepak bola tidak boleh ditoleransi.
Ia kembali meminta kepolisian mengusut insiden tersebut secara serius dan memberikan sanksi yang sesuai kepada para pelaku apabila terbukti bersalah.
"Sekali lagi kami mohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan hukuman yang berat, menangkap mereka-mereka ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya,” tegas Yunus.
PSSI berharap seluruh pemangku kepentingan sepak bola dapat memperkuat komitmen menjaga keamanan, mengendalikan rivalitas, serta menciptakan lingkungan pertandingan yang sehat. Dengan demikian, pemain muda dapat berkembang tanpa dihantui ancaman kekerasan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Editor : Ali Mustofa