Hari Santri 2026: Kemenag dan PBNU Usung Tema Berbeda, Apa Pesan di Baliknya?

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:00 WIB
Logo Hari Santri 2026 Kemenag
Logo Hari Santri 2026 Kemenag

RADAR KUDUS - Hari Santri 2026 memiliki dua tema dan identitas visual yang diluncurkan oleh dua lembaga berbeda, yakni Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Keduanya sama-sama menempatkan santri sebagai bagian penting dalam perjalanan bangsa.

Namun, pesan yang ingin disampaikan melalui tema masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda.

Kemenag memilih tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Sementara PBNU mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.

Jika tema Kemenag lebih mengarah pada kontribusi santri dalam menghadapi masa depan dan cita-cita Indonesia Emas, PBNU justru menekankan pentingnya menjaga tradisi pesantren sebagai pijakan dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat dan negara.

Tema Hari Santri 2026 dari Kemenag

Kemenag memperkenalkan tema sekaligus logo Hari Santri 2026 pada 22 September 2026.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk kembali mengenang perjalanan ulama dan santri dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tidak hanya mengajak masyarakat mengingat sejarah, tetapi juga menggambarkan peran santri dalam kehidupan Indonesia di masa kini dan masa mendatang.

Sejumlah kegiatan turut disiapkan dalam rangkaian Hari Santri 2026. Di antaranya Surat Santri untuk Presiden, Pesantren Award, Santri Vision, Mu'tamad Santri, Expo Kemandirian Pesantren, serta Malam Bakti Santri untuk Negeri.

Berbagai agenda tersebut memperlihatkan upaya Kemenag menempatkan santri sebagai bagian dari kekuatan masyarakat yang ikut mendorong kemandirian pesantren sekaligus berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Tema Hari Santri 2026 Versi PBNU

Sementara itu, PBNU meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026 pada Rabu, 30 September 2026.

PBNU mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Tema ini menekankan hubungan antara tradisi keilmuan pesantren dengan tanggung jawab santri dalam kehidupan berbangsa.

Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan Arif menjelaskan bahwa perkembangan zaman tidak seharusnya membuat santri meninggalkan akar yang membentuk identitasnya.

Akar tersebut mencakup tradisi keilmuan, adab, sanad, serta berbagai nilai yang tumbuh dalam lingkungan pesantren.

Menurutnya, tradisi yang kuat justru dapat menjadi bekal bagi santri untuk menghadapi persoalan baru.

Santri tidak hanya bertugas menjaga warisan keilmuan, tetapi juga dituntut mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Karena itu, tema PBNU juga menghubungkan kehidupan keagamaan dengan kepentingan kebangsaan. Menjaga agama berjalan bersama dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan Indonesia.

Kemenag dan PBNU Punya Titik Tekan Berbeda

Jika kedua tema tersebut dibandingkan, terdapat perbedaan sudut pandang yang cukup jelas.

Kemenag menjadikan penguatan negeri dan cita-cita Indonesia Emas sebagai arah utama.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kontribusi santri, penguatan kemandirian pesantren, serta peran santri dalam menghadapi tantangan masa depan.

Sementara PBNU menjadikan akar tradisi sebagai pijakan utama. Dari akar tersebut, santri diharapkan dapat memperluas pengabdian tanpa kehilangan identitas keilmuan dan nilai pesantren.

Meski berbeda, kedua tema memiliki titik temu. Keduanya sama-sama melihat santri bukan hanya sebagai bagian dari catatan sejarah, melainkan sebagai kelompok masyarakat yang memiliki peran dalam kehidupan bangsa saat ini.

Filosofi Logo Hari Santri 2026 Kemenag

Logo Hari Santri 2026 yang diperkenalkan Kemenag mengangkat konsep anyaman atau ikatan dinamis.

Konsep tersebut menggambarkan kebersamaan, persatuan, serta kesinambungan perjuangan santri dalam menghadapi perubahan zaman.

Dalam filosofi logo tersebut, dua lingkaran yang saling terhubung menggambarkan dua pijakan penting dalam kehidupan santri.

Pertama adalah nilai keagamaan sebagai dasar moral. Kedua adalah kesadaran bernegara sebagai ruang untuk mengabdikan diri kepada bangsa.

Bagian bawah logo menjadi simbol pondasi, sedangkan lingkaran cita-cita pada bagian atas menggambarkan orientasi terhadap masa depan dan ikhtiar bersama menuju Indonesia Emas 2045.

Penggunaan warna biru toska merepresentasikan keterbukaan, ketenangan, dan semangat pembaruan. Sementara warna keemasan berkaitan dengan cita-cita besar menuju Indonesia Emas.

Filosofi Logo Hari Santri 2026 PBNU

Konsep logo PBNU memiliki pendekatan yang berbeda. Sejumlah simbol yang digunakan berkaitan langsung dengan kehidupan pesantren, seperti akar, kitab terbuka, kubah, dan bintang.

Akar menggambarkan tradisi serta sanad keilmuan yang menjadi bagian penting dari perjalanan pesantren.

Kitab terbuka melambangkan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual yang menjadi fondasi kehidupan santri.

Sementara kubah menggambarkan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan. Adapun bintang menjadi simbol cita-cita luhur sekaligus arah yang menerangi perjalanan pengabdian santri.

Gus Gudfan menjelaskan bahwa setiap elemen tersebut memiliki pesan tersendiri.

Akar mengingatkan santri pada asal-usulnya, kitab menunjukkan kedekatan dengan ilmu, kubah menggambarkan landasan spiritual, sedangkan bintang menjadi gambaran cita-cita dan arah pengabdian.

Dua Tema, Satu Semangat Pengabdian

Meskipun menggunakan tema dan desain logo yang berbeda, Kemenag dan PBNU memiliki pesan besar yang sama, yakni menempatkan santri sebagai bagian dari perjalanan dan masa depan bangsa.

Kemenag lebih menonjolkan kontribusi santri dalam memperkuat negeri serta mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut diperkuat melalui agenda yang berkaitan dengan kemandirian pesantren dan kontribusi santri.

Sementara PBNU mengingatkan bahwa pengabdian tersebut perlu tetap bertumpu pada akar tradisi. Ilmu, adab, sanad, dan nilai pesantren menjadi bekal agar santri mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.

Dengan demikian, tema Hari Santri 2026 versi Kemenag dan PBNU memang berbeda dalam penekanannya, tetapi bertemu pada satu gagasan besar: santri memiliki peran dalam menjaga, membangun, dan memberikan manfaat bagi negeri.

Jika Kemenag berbicara tentang arah masa depan, PBNU mengingatkan pentingnya akar yang menjadi pijakan.

Keduanya menjadi dua sudut pandang yang saling melengkapi dalam melihat perjalanan santri di tengah perubahan zaman.

Editor : Ali Mustofa
Hari Santri 2026 Tema Hari Santri 2026 Logo Hari Santri 2026 pbnu kemenag