JAKARTA – Hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi perhatian publik. Terlebih setelah Jokowi secara terbuka menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada akhir September 2026.
Perubahan posisi politik Jokowi tersebut menarik karena sebelumnya hubungan Jokowi dan Prabowo menjadi salah satu poros penting dalam perjalanan politik Indonesia. Prabowo yang pernah menjadi rival Jokowi dalam Pilpres 2014 dan 2019 kemudian bergabung dalam pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan, sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024 bersama Gibran Rakabuming Raka.
Tetap menunjukkan hubungan personal yang baik
Sejumlah peristiwa sepanjang 2026 menunjukkan bahwa hubungan personal antara Prabowo dan Jokowi masih berlangsung.
Pada Juni 2026, sekretaris pribadi Prabowo, Rizky Irmansyah, mengunjungi kediaman Jokowi di Solo. Pertemuan berlangsung sekitar 23 menit dan disebut sebagai silaturahmi sekaligus penyampaian undangan pernikahan.
Sebelumnya, putra Prabowo, Didit Hediprasetyo, juga bertemu dengan Jokowi di kediamannya di Solo. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 30 menit dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan.
Momen yang paling banyak mendapat perhatian terjadi pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026. Prabowo, Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat duduk berdampingan di Istana Merdeka.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut hubungan Prabowo dan Jokowi memang selama ini akrab.
Namun, jalur politik Jokowi kini berbeda
Dinamika menjadi lebih menarik setelah Jokowi menunjukkan KTA PSI pada September 2026. Jokowi menyatakan dirinya telah menjadi bagian dari keluarga besar PSI sejak 14 Oktober 2025.
Langkah tersebut membuat posisi politik Jokowi berbeda dengan Prabowo yang merupakan Ketua Umum Partai Gerindra.
Gerindra sendiri tidak menunjukkan sikap konfrontatif terhadap keputusan Jokowi. Juru bicara Gerindra menyatakan partainya menghormati strategi politik partai lain, termasuk PSI, dan mengatakan Gerindra masih berfokus pada program pemerintahan Prabowo.
Dengan demikian, perbedaan kendaraan politik tidak otomatis berarti hubungan pribadi keduanya memburuk.
Pernah muncul spekulasi hubungan merenggang
Di sisi lain, dinamika hubungan Prabowo dan Jokowi memang tidak selalu terlihat tanpa ketegangan. Pada Juni 2026, sejumlah pengamat menyoroti munculnya tanda-tanda kerenggangan di tengah tekanan terhadap pemerintahan Prabowo dan meningkatnya perdebatan mengenai sejumlah kebijakan pemerintah.
Namun, perkembangan berikutnya memperlihatkan bahwa kedua tokoh masih menunjukkan komunikasi dan hubungan personal yang relatif terbuka.
Karena itu, satu momen pertemuan atau gestur politik tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan hubungan keduanya.
Dua tokoh dengan kepentingan politik masing-masing
Hubungan Prabowo dan Jokowi saat ini dapat dilihat dalam dua dimensi.
Pertama, hubungan personal. Berbagai pertemuan dan komunikasi yang terjadi menunjukkan masih adanya hubungan baik antara kedua tokoh dan keluarga mereka.
Kedua, hubungan politik. Jokowi kini memilih berada di PSI, sedangkan Prabowo tetap memimpin Gerindra. Artinya, keduanya tidak berada dalam struktur partai yang sama.
Perbedaan tersebut membuka ruang bagi masing-masing tokoh untuk menjalankan agenda politiknya sendiri. Bahkan, pengamat yang dikutip Suara.com mengingatkan bahwa kemesraan yang terlihat dalam upacara 17 Agustus tidak dengan sendirinya dapat ditafsirkan sebagai konfigurasi politik menuju Pemilu 2029.
Hubungan personal dan kepentingan politik bisa berjalan bersamaan
Dinamika Jokowi-Prabowo memperlihatkan bahwa hubungan politik tidak selalu identik dengan hubungan personal.
Keduanya pernah berkompetisi keras dalam dua pemilihan presiden. Setelah itu, Prabowo masuk ke pemerintahan Jokowi. Pada Pilpres 2024, Prabowo kemudian berpasangan dengan Gibran, putra Jokowi.
Kini, setelah Prabowo menjadi presiden dan Jokowi memilih PSI sebagai kendaraan politiknya, keduanya kembali berada pada posisi politik yang berbeda.
Namun sampai perkembangan terbaru September 2026, belum terdapat bukti publik yang cukup untuk menyatakan bahwa hubungan personal Prabowo dan Jokowi telah putus atau berubah menjadi permusuhan. Sebaliknya, sejumlah peristiwa publik justru menunjukkan komunikasi dan hubungan kekeluargaan masih berlangsung.
Pada saat yang sama, keputusan Jokowi masuk PSI menunjukkan bahwa jalur politik keduanya tidak sepenuhnya sama. Bagaimana hubungan personal tersebut berinteraksi dengan kepentingan politik masing-masing akan menjadi salah satu dinamika yang menarik untuk diamati menjelang Pemilu 2029.
Kesimpulannya: hubungan Jokowi dan Prabowo saat ini terlihat tetap memiliki kedekatan personal, tetapi berada dalam dinamika politik yang semakin mandiri. Kedekatan keduanya masih tampak di ruang publik, sementara pilihan partai dan agenda politik masing-masing mulai menunjukkan perbedaan yang lebih jelas. (*)
Editor : Zainal Abidin RK