Dokumen 1955 Ungkap Cara D.N. Aidit Membagi Perjalanan PKI dalam Empat Fase

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:30 WIB
D.N Aidit
D.N Aidit

RADAR KUDUS - Dokumen yang ditulis Dipa Nusantara (D.N.) Aidit pada 1955 mencatat bagaimana salah satu pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika itu menggambarkan perjalanan organisasinya sejak berdiri hingga memasuki masa Pemilu 1955.

Dokumen tersebut berjudul Lahirnja PKI dan Perkembangannja (1920–1955). Isinya berasal dari pidato Aidit dalam rangka memperingati ulang tahun ke-35 PKI yang disampaikan di Jakarta pada 23 Mei 1955. Publikasi itu diterbitkan Yayasan “Pembaruan” di Jakarta pada tahun yang sama. Katalog CiNii mencatat karya tersebut sebagai terbitan 1955 dengan panjang 52 halaman.

Menariknya, Aidit tidak menyusun perjalanan PKI hanya berdasarkan urutan tahun. Dalam dokumen tersebut, sejarah partai dibagi menjadi empat periode. Pembagian itu memperlihatkan cara PKI pada pertengahan 1950-an membaca perkembangan organisasinya sendiri dari 1920 hingga 1955.

Periode pertama ditempatkan pada rentang 1920–1926. Bagian ini mencakup masa pembentukan partai hingga periode pemberontakan 1926. Dalam dokumen tersebut, fase ini disebut sebagai masa pembentukan partai dan perjuangan melawan apa yang oleh Aidit disebut sebagai “teror putih” pertama. Pembagian empat periode tersebut juga tercatat dalam publikasi sejarah PKI yang kemudian diterbitkan pada 1960.

Fase kedua mencakup 1926–1945. Aidit menggambarkan rentang tersebut sebagai periode perjuangan bawah tanah dan front antifasis. Rentang waktu ini mencakup masa ketika aktivitas politik PKI berlangsung dalam kondisi yang berbeda dibandingkan periode awal berdirinya partai.

Setelah itu, Aidit memasukkan periode 1945–1951 sebagai fase ketiga. Bagian ini ditempatkan dalam konteks Revolusi Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Dalam pembagian yang dibuatnya, fase tersebut juga dikaitkan dengan perjuangan menghadapi apa yang disebut dalam dokumen sebagai “teror putih” kedua.

Periode keempat dimulai pada 1951 dan berlanjut hingga masa penulisan dokumen pada 1955. Fase ini oleh Aidit dikaitkan dengan penggalangan front persatuan nasional dan pembangunan partai. Dengan demikian, empat periode yang disusun tersebut memperlihatkan garis besar perjalanan PKI menurut kerangka sejarah yang digunakan Aidit.

Pembagian tersebut menjadi penting karena dokumen itu ditulis bukan oleh pengamat dari luar organisasi, melainkan oleh salah satu tokoh utama PKI pada masa tersebut. Karena itu, isinya dapat digunakan sebagai sumber primer untuk melihat bagaimana organisasi tersebut menjelaskan asal-usul, pengalaman politik, serta perkembangan dirinya kepada publik pada 1955.

Konteks waktu penerbitannya juga tidak kalah penting. Pidato tersebut disampaikan pada 23 Mei 1955, hanya beberapa bulan sebelum Indonesia menyelenggarakan Pemilu 1955. Pemilu tersebut merupakan pemilihan umum nasional pertama Indonesia.

Dokumen itu karena itu tidak hanya mempunyai nilai sebagai catatan kronologis. Isinya juga menunjukkan cara sebuah partai politik pada masa tersebut menyusun narasi mengenai perjalanan organisasinya sendiri ketika sedang berada dalam arena politik nasional.

Bibliografi akademik juga mengonfirmasi keberadaan karya tersebut sebagai terbitan D.N. Aidit yang diterbitkan Jajasan Pembaruan, Djakarta, pada 1955. Katalog Brill mencatat judul Lahirnja PKI dan pekembangannja (1920–1955) sebagai karya Aidit dengan penerbit dan tahun yang sama.

Catatan bibliografis lain dari katalog CiNii menyebut judul, pengarang, penerbit Pembaruan, lokasi penerbitan Djakarta, serta jumlah halaman sebanyak 52 halaman.

Dokumen tersebut juga kemudian menjadi rujukan dalam publikasi sejarah internal PKI. Dalam 40 Tahun PKI, yang diterbitkan pada 1960, pembagian perjalanan PKI ke dalam empat periode kembali dicantumkan dan secara eksplisit merujuk pada karya D.N. Aidit tentang kelahiran dan perkembangan PKI.

Empat fase yang digunakan Aidit dapat diringkas sebagai berikut: 1920–1926 sebagai masa pembentukan partai dan perjuangan melawan “teror putih” pertama; 1926–1945 sebagai masa perjuangan bawah tanah dan front antifasis; 1945–1951 sebagai periode Revolusi Agustus dan perjuangan melawan “teror putih” kedua; serta 1951 hingga 1955 sebagai masa penggalangan front persatuan nasional dan pembangunan partai.

Dengan demikian, dokumen 1955 tersebut tidak hanya menyimpan informasi mengenai rentang perjalanan PKI. Dokumen itu juga memperlihatkan kerangka penafsiran yang digunakan Aidit ketika menjelaskan sejarah partainya kepada pembaca pada masa menjelang Pemilu 1955.

Bagi penelitian sejarah, posisi dokumen semacam ini penting karena memungkinkan pembaca membedakan antara fakta historis mengenai suatu peristiwa dan cara sebuah organisasi pada zamannya menafsirkan serta menyusun peristiwa tersebut. Dalam konteks ini, Lahirnja PKI dan Perkembangannja (1920–1955) dapat dibaca sebagai sumber primer mengenai narasi sejarah PKI dari sudut pandang salah satu pemimpinnya pada 1955.

Editor : Mahendra Aditya
D.N. Aidit sejarah PKI PKI 1955 Lahirnya PKI dan Perkembangannya Pemilu 1955