BATANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan tetap berjalan, namun dengan perbaikan tata kelola agar kejadian dugaan keracunan makanan tidak kembali terjadi. Harapan itu disampaikan langsung sejumlah warga kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi korban dan wali murid di Kabupaten Batang, Senin (28/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Gibran didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Bupati Batang M Faiz Kurniawan. Ketiganya meninjau penanganan korban di tiga lokasi, yakni RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, dan SD Negeri Pasusukan.
Selain melihat kondisi para korban, rombongan juga berdialog dengan masyarakat untuk mendengar keluhan dan aspirasi terkait pelaksanaan MBG.
Saat berada di SD Negeri Pasusukan, sejumlah wali murid menyampaikan agar program MBG tidak dihentikan. Mereka berharap evaluasi dan perbaikan dilakukan, khususnya dalam pengelolaan makanan, sehingga program tetap memberikan manfaat tanpa menimbulkan kejadian serupa.
Salah seorang wali murid, Nuriah, menceritakan kondisi anaknya yang sempat menjalani perawatan selama tiga hari di rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan.
Kini kondisi anaknya telah membaik dan kembali bersekolah. Namun, pengalaman tersebut masih menyisakan trauma bagi keluarga.
Menanggapi keluhan tersebut, Gibran menyampaikan komitmen untuk melakukan pembenahan terhadap tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kejadian di Batang, kata dia, menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan MBG ke depan semakin aman.
Harapan serupa juga disampaikan siswa SD Negeri Pasusukan yang terdampak. Faiz Fatih Ardani, siswa kelas VI, mengaku kondisinya kini mulai membaik dan masih menjalani masa pemulihan.
“Semoga program MBG bisa diperbaiki dan dilanjutkan,” katanya.
Pernyataan senada disampaikan As'ad Arif Nurul Munji, siswa kelas VI. “Tetap dilanjutkan, diperbaiki,” ujarnya.
Berdasarkan data SD Negeri Pasusukan, terdapat 26 siswa kelas I hingga VI yang terdampak. Selain siswa, tujuh orang lainnya juga mengalami keluhan, termasuk kepala sekolah.
Para korban mulai merasakan gejala sejak Rabu (23/9/2026). Kepala SD Negeri Pasusukan Maryana menjelaskan, munculnya gejala tidak terjadi dalam waktu bersamaan.
Makanan MBG tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 saat jam istirahat. Namun, keluhan baru dirasakan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Bahkan, sebagian siswa baru mengalami gejala pada hari berikutnya.
“Kalau untuk anak-anak beragam, mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Tidak sama,” jelasnya.
Maryana menyebut seluruh 26 siswa yang terdampak kini sudah diperbolehkan pulang. Sementara satu orang guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung.
Keluhan yang paling banyak dialami korban antara lain mual dan diare. Maryana berharap kejadian tersebut menjadi perhatian bersama sehingga standar keamanan dalam penyediaan makanan MBG dapat terus diperbaiki.
Sebelum bertemu wali murid di SD Negeri Pasusukan, Gibran dan Ahmad Luthfi terlebih dahulu meninjau penanganan korban di RSUD Limpung, kemudian menuju Puskesmas Bawang sekitar pukul 10.00.
Di Puskesmas Bawang, saat kunjungan berlangsung, masih terdapat delapan pasien yang menjalani perawatan. Mereka terdiri atas empat orang dewasa dan empat pelajar.
Kepala Puskesmas Bawang Ida Suryani mengatakan, penanganan pasien telah dilakukan sejak Rabu ketika warga mulai berdatangan dengan berbagai keluhan kesehatan.
Secara keseluruhan, sebanyak 597 orang tercatat mendapatkan penanganan. Sebagian dirawat di puskesmas, sementara lainnya dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, maupun sejumlah puskesmas rawat inap di wilayah Kabupaten Batang.
Korban yang mendapat penanganan memiliki rentang usia cukup beragam, mulai balita hingga lanjut usia.
Keluhan yang disampaikan pasien antara lain mual, sakit perut, muntah, diare, serta panas dingin. Hingga kini penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang diperkirakan baru keluar sekitar 20 hari.
Ida mengatakan, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah pencegahan. Salah satunya melalui peningkatan koordinasi dengan SPPG, terutama terkait sanitasi dan higienitas dalam proses penyediaan makanan.
Puskesmas, lanjutnya, juga melakukan peninjauan secara berkala ke SPPG untuk memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan tetap terpenuhi. (*)
“Kita juga sudah kerja sama dengan SPPG untuk masalah kelaikan sanitasi higienisnya. Puskesmas juga sering meninjau ke SPPG supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Koordinasi dengan SPPG berjalan,” jelasnya. (*)
Editor : Zainal Abidin RK