RADAR KUDUS - Indonesia berada di kawasan tektonik aktif yang membuat sejumlah wilayahnya memiliki sumber gempa bumi kuat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah zona megathrust, yakni bagian dari zona subduksi tempat dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan keberadaan sejumlah zona megathrust di Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), terdapat 14 segmen megathrust dengan karakteristik dan potensi magnitudo maksimum yang berbeda-beda.
Informasi tersebut disampaikan BMKG melalui unggahan di Instagram pada Rabu, 23 September 2026. BMKG menjelaskan bahwa keberadaan zona subduksi merupakan salah satu faktor penting yang membuat Indonesia memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi.
“Indonesia berada di wilayah tektonik yang aktif dan memiliki sejumlah zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber gempa kuat. Megathrust merupakan sumber gempa pada zona subduksi, ketika dua lempeng tektonik saling berinteraksi,” tulis BMKG.
Secara geologi, zona subduksi merupakan wilayah tempat lempeng tektonik saling berinteraksi.
Pada bagian tertentu, bidang pertemuan antarlempeng dapat mengalami penguncian sehingga energi terus terakumulasi.
Ketika energi yang tersimpan tersebut dilepaskan akibat pergeseran atau patahan, gempa bumi dapat terjadi. Jika area patahan yang bergerak sangat luas, energi yang dilepaskan juga dapat menghasilkan gempa dengan magnitudo besar.
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, sejumlah segmen megathrust yang berada di Indonesia dan kawasan sekitarnya memiliki nilai maximum magnitude atau Mmax yang berbeda. Mmax merupakan magnitudo maksimum yang diperhitungkan berdasarkan pemodelan serta kajian terhadap karakteristik sumber gempa.
Segmen dengan nilai Mmax terbesar dalam daftar tersebut adalah Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi magnitudo maksimum mencapai 9,2.
Setelah Aceh-Andaman, terdapat Megathrust Jawa dengan Mmax 9,1. Sejumlah segmen lain di kawasan Sumatera juga memiliki nilai potensi maksimum yang tinggi, antara lain Megathrust Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai dan Enggano yang masing-masing mencapai M8,9.
Adapun Megathrust Nias-Simeulue memiliki Mmax 8,7, sedangkan Megathrust Batu memiliki Mmax 7,8.
Dari wilayah selatan Indonesia, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat Megathrust Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur dengan Mmax masing-masing 8,9. Sementara itu, Megathrust Sumba juga memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
Di kawasan timur dan sekitar Indonesia, terdapat Megathrust Sulawesi Utara dengan Mmax 8,5.
Peta tersebut juga mencantumkan Megathrust Palung Cotabato dengan Mmax 8,3, Megathrust Filipina Selatan 8,2, serta Megathrust Filipina Tengah dengan Mmax 8,1.
Dengan demikian, 14 segmen megathrust yang tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 adalah Megathrust Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa, Jawa bagian barat, Jawa bagian timur, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotabato, Filipina Selatan, dan Filipina Tengah.
Namun, angka-angka tersebut perlu dipahami secara tepat. Nilai Mmax bukan merupakan prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut pasti akan terjadi.
Mmax merupakan nilai maksimum yang diperhitungkan dari hasil pemodelan dan kajian terhadap karakteristik sumber gempa.
Karena itu, keberadaan suatu segmen dengan Mmax tertentu tidak dapat diterjemahkan sebagai kepastian mengenai kapan gempa akan terjadi, berapa tepatnya kekuatannya, atau apakah seluruh potensi tersebut akan terealisasi dalam satu peristiwa.
Pemahaman ini penting karena istilah megathrust kerap menimbulkan kekhawatiran ketika dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya gempa besar.
Informasi mengenai potensi sumber gempa pada dasarnya merupakan bagian dari upaya memahami kondisi tektonik dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Bagi Indonesia, keberadaan sejumlah zona subduksi tersebut menjadi tantangan mitigasi yang harus diperhatikan secara berkelanjutan.
Ancaman gempa bumi tidak hanya berkaitan dengan kekuatan guncangan, tetapi juga potensi dampak lanjutan, terutama apabila gempa besar terjadi di wilayah laut dan memenuhi kondisi yang dapat memicu tsunami.
Karena itu, informasi mengenai sumber gempa dan karakteristiknya perlu ditempatkan dalam konteks mitigasi.
Peta sumber dan bahaya gempa digunakan untuk memahami wilayah yang memiliki potensi bahaya serta menjadi salah satu dasar dalam perencanaan dan pengurangan risiko bencana.
Penyebutan 14 zona megathrust tersebut juga tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami gempa besar secara bersamaan. Setiap segmen memiliki karakteristik geologi, parameter sumber, dan tingkat potensi yang berbeda.
Yang menjadi pesan penting dari pemutakhiran data tersebut adalah bahwa Indonesia memang berada di lingkungan tektonik aktif.
Kondisi tersebut membuat pengetahuan mengenai ancaman gempa, kesiapan bangunan, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.
Dengan kata lain, informasi mengenai 14 megathrust bukanlah ramalan kapan gempa besar akan terjadi.
Data tersebut menggambarkan sumber-sumber gempa yang diperhitungkan dalam kajian kebencanaan dan menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan di wilayah yang memiliki potensi bahaya gempa.
Daftar 14 segmen tersebut menjadi gambaran mengenai kompleksitas sumber gempa di Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Dengan pemahaman yang tepat, informasi mengenai potensi magnitudo maksimum dapat digunakan bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai dasar untuk memperkuat kesiapan menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami.
Editor : Mahendra Aditya