BALI — I Gede Selamet (21), sopir truk asal Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, meninggal dunia pada Jumat (25/9/2026) pagi setelah seminggu berjuang melawan luka bakar parah akibat dibakar hidup-hidup oleh bosnya sendiri.
Korban mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah, Denpasar, dalam kondisi kritis dengan luka bakar mencapai 68 persen di sekujur tubuhnya serta trauma inhalasi yang merusak jaringan paru-paru.
Peristiwa tragis ini bermula pada Jumat (18/9/2026) malam, ketika I Gede Selamet dan bosnya, I Putu Cahyadi Putra (37), terlibat cekcok keras di sebuah kamar di Desa Muncan terkait uang setoran truk yang belum lunas sebesar Rp8,5 juta.
Baca Juga: QRIS Cross Border Hadir di Hong Kong dan Timor Leste, Transaksi Lintas Negara Makin Mudah
Emosi pelaku memuncak hingga ia nekat menyiramkan cairan mudah terbakar ke tubuh korban lalu membakarnya hidup-hidup di dalam kamar tersebut.
Akibat aksi sadis itu, Selamet mengalami luka bakar luas dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Selama tujuh hari, kondisinya tetap kritis karena selain luka bakar yang parah, korban juga menghirup uap panas yang menyebabkan trauma inhalasi dan kerusakan pada saluran pernapasan serta paru-paru.
Keluarga korban mengaku kesulitan menanggung biaya pengobatan yang terus membengkak, dengan tagihan rumah sakit mencapai sekitar Rp88 juta.
Baca Juga: Bukan Cuma 8 Tahun Penjara, Terdakwa Perambahan HLSW Dituntut Pulihkan Kerusakan Rp297 Miliar
Masyarakat pun bergotong-royong mengumpulkan donasi yang hingga beberapa hari sebelum kematian korban terkumpul sekitar Rp35 juta untuk membantu meringankan beban keluarga.
Sementara itu, pelaku langsung diamankan oleh Polresta Karangasem beberapa jam setelah kejadian dan kini berstatus tersangka dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.
Kapolsek Selat, AKP Ida Bagus Astawa, menyatakan bahwa motif utama pembakaran memang dipicu masalah setoran, namun polisi masih mendalami kemungkinan motif lain yang terkait.
Baca Juga: Asap Karhutla Ganggu Bandara Tjilik Riwut, Garuda Ubah Operasional hingga 27 September
Kabar meninggalnya I Gede Selamet langsung memicu tangis dan duka mendalam di kalangan keluarga dan warga Desa Muncan.
Pihak keluarga berharap kasus ini menjadi pelajaran keras agar tidak ada lagi kekerasan berujung maut, terutama yang dipicu persoalan ekonomi sepele.
Sementara itu, proses hukum terhadap tersangka terus berlanjut di bawah pengawasan Polresta Karangasem. (*)
Editor : Ali Mustofa