276 Siswa & Orang Tua di Batang Mual Pusing, Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:32 WIB
Ilustrasi keracunan makanan
Ilustrasi keracunan makanan

RADAR KUDUS - Kasus dugaan keracunan makanan massal yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) merebak di wilayah Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
 
Hingga Rabu (23/9/2026) malam pukul 20.38 WIB, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mengonfirmasi sedikitnya 276 warga—yang terdiri dari deretan siswa sekolah, anak-anak, hingga orang tua—dilaporkan mengalami gejala medis mendadak usai mengonsumsi hidangan tersebut.

Wakil Bupati Batang, Suyono, membeberkan bahwa angka korporasi korban terdampak masih sangat dinamis dan berpotensi terus bertambah seiring penyisiran serta pendataan tim medis di lapangan.
 
Baca Juga: Pasca-Erupsi Beruntun, Daratan Baru Seluas 30 Hektare Terbentuk di Dekat Gunung Anak Krakatau
 
Reaksi gelaja fisik seperti pusing parah, mual, hingga muntah mulai dirasakan para korban selang beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. 
 
Fenomena ini tidak hanya menimpa para siswa penerima program di sekolah, tetapi juga merembet ke sejumlah orang tua murid yang ikut mencicipi porsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak-anak mereka.

Guna menangani krisis kesehatan tersebut, Pemkab Batang bergerak cepat memobilisasi kesiapan fasilitas kesehatan emergency di berbagai titik.
 
Layanan perawatan medis darurat disiagakan di Puskesmas Bawang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, hingga RSUD Kalisari Batang untuk menampung lonjakan pasien.
 
Hingga pukul 21.00 WIB, setidaknya 20 pasien bergejala berat asal Kecamatan Bawang dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Kalisari.

Dari hasil penelusuran awal, seluruh korban terkonfirmasi menerima jatah hidangan dari unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama.
 
Dapur penyedia tersebut tercatat bertanggung jawab mendistribusikan makanan untuk 11 titik sasaran dengan total jangkauan mencapai kurang lebih 2.700 penerima manfaat. 
 
Olahan telur sementara ditengarai sebagai salah satu bahan makanan yang diduga kuat berkaitan dengan pemicu keluhan, mengingat sejumlah penerima menyebutkan adanya aroma serta rasa yang menyimpang. 
 
Kendati demikian, pemicu pasti sebab keracunan belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil uji klinis laboratorium secara komprehensif.
 
Baca Juga: Inovasi QRIS Antarnegara Sabet Penghargaan Prestisius Global di New York

Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah diterjunkan untuk mengambil sampel sisa makanan guna pemeriksaan patologi.
 
Di samping itu, operasional unit SPPG penyedia hidangan bermasalah tersebut resmi dihentikan sementara hingga evaluasi total usai dilakukan.
 
Meski telah merawat ratusan korban, Pemerintah Kabupaten Batang hingga saat ini belum menerbitkan penetapan resmi status Kejadian Luar Biasa (KLB) atas insiden tersebut. (*)
Editor : Mahendra Aditya
Keracunan MBG Kabupaten Batang Kasus Keracunan Makanan Bawang Wakil Bupati Batang Suyono Evaluasi Dapur SPPG Batang Korban Makan Bergizi Gratis