Pasca-Erupsi Beruntun, Daratan Baru Seluas 30 Hektare Terbentuk di Dekat Gunung Anak Krakatau

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:56 WIB
Pasca-Erupsi Beruntun, Daratan Baru Seluas 30 Hektare Terbentuk di Dekat Gunung Anak Krakatau
Pasca-Erupsi Beruntun, Daratan Baru Seluas 30 Hektare Terbentuk di Dekat Gunung Anak Krakatau.

RADAR KUDUS - Aktivitas vulkanik intensif yang menerjang kawasan Selat Sunda memicu perubahan pola geografi di sekitar kompleks gunung api purba.
 
Sebuah fenomena alam baru terdeteksi dengan munculnya bentangan daratan anyar seluas kurang lebih 30,3 hektare di perairan Selat Sunda, tepatnya di kawasan yang berada di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengonfirmasi secara resmi keberadaan bentukan daratan baru tersebut pada Rabu (23/9/2026).
 
Baca Juga: Evaluasi Total, Persijap Jepara Dirumorkan akan Datangkan Tiga Pemain Anyar? Ini Nama-Namanya
 
Ia menjelaskan bahwa daratan luas itu tidak terbentuk secara mendadak dalam satu kali peristiwa ledakan besar. 
 
Sebaliknya, pembentukan daratan tersebut merupakan akumulasi bertahap dari tumpukan material vulkanik—seperti batuan debris, endapan pasir, hingga lontaran lava pijar—yang terus terdeposisi seiring tingginya intensitas erupsi sejak status aktivitas gunung dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 lalu.

Kemunculan daratan baru yang cukup signifikan ini sempat memicu berbagai spekulasi dan kehebohan di tengah masyarakat umum, bahkan sebagian pihak menjulukinya sebagai fenomena kelahirannya "cucu Krakatau".
 
Menanggapi rumor yang beredar luas tersebut, Suwarno memberikan klarifikasi bahwa saat ini belum ada dasar kajian saintifik yang mendukung klaim terbentuknya gunung api baru. 
 
Pihak otoritas pemantau juga belum dapat memastikan apakah struktur daratan tersebut ke depannya akan berkembang menjadi titik pusat ventilasi erupsi baru atau sekadar endapan material sedimen vulkanik sementara.

Di sisi lain, berdasarkan evaluasi data komprehensif, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi secara resmi telah menurunkan status tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak Senin, 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
 
Baca Juga: ABPEDNAS Jadi Mata dan Telinga di Desa, Kejari Jepara: Perkuat Pengawasan 
 
Penurunan status ini diambil setelah rekaman instrumen kegempaan, laju deformasi tubuh gunung, serta frekuensi hembusan erupsi secara konsisten menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Kendati status ancaman vulkanik telah diturunkan ke level yang lebih rendah, pihak Pusat Vulkanologi tetap menerbitkan imbauan keselamatan ketat bagi masyarakat, nelayan, dan wisatawan.
 
Seluruh pihak dilarang keras mendekat atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 2 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau guna mengantisipasi potensi bahaya lontaran material pijar maupun gas beracun sewaktu-waktu. (*)
Editor : Mahendra Aditya
Daratan Baru Gunung Anak Krakatau Erupsi Anak Krakatau Selat Sunda Fenomena Cucu Krakatau Lampung Pemantauan PVMBG Gunung Anak Krakatau Status Waspada Gunung Anak Krakatau