RADAR KUDUS – Gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah telah berakhir dengan tuan rumah berhasil menempati peringkat kedua nasional.
Namun, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai hasil tersebut bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan Alquran.
Menurut Gus Yasin, sapaan Taj Yasin, berakhirnya kompetisi justru harus menjadi awal untuk menjaga kesinambungan pembinaan.
Proses mencetak generasi baru peserta MTQ, meningkatkan kemampuan pelatih dan dewan hakim, serta memperkuat lembaga pendidikan Alquran dinilai perlu dilakukan secara konsisten.
Sebagai Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah, Taj Yasin menegaskan pembinaan tidak seharusnya hanya dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ.
“Pembinaan harus berjalan sepanjang waktu melalui kaderisasi peserta, peningkatan kompetensi pelatih dan dewan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan Alquran,” kata Taj Yasin saat penutupan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang.
Hasil keputusan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI menempatkan Kalimantan Timur sebagai juara umum dengan nilai 288.
Jawa Tengah berada di urutan kedua dengan nilai 208, sedangkan DKI Jakarta menempati posisi ketiga dengan nilai 129.
Selanjutnya, Aceh dan Jawa Timur sama-sama mengoleksi nilai 99. Sumatera Utara dan Jawa Barat masing-masing memperoleh 71, disusul Sumatera Selatan 55, Banten 52, Riau 35, Nusa Tenggara Barat 33, dan Sulawesi Selatan 31.
Dalam MTQ Nasional XXXI, Jawa Tengah mengirimkan 67 kafilah yang sebelumnya melewati proses seleksi secara bertahap, mulai tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 peserta berhasil melaju ke babak final.
Capaian ini diharapkan menjadi modal untuk memperkuat sistem pembinaan di Jawa Tengah, bukan hanya sebagai target meraih prestasi dalam satu kali penyelenggaraan MTQ.
Gus Yasin menekankan bahwa keberhasilan tersebut perlu dilanjutkan melalui program pembinaan yang terarah dan berkesinambungan.
Salah satu bentuk dukungan Pemprov Jawa Tengah terhadap pembinaan keagamaan diwujudkan melalui program tali asih bagi penghafal kitab suci.
Bagi penghafal Alquran yang berhasil menyelesaikan hafalan sebanyak 30 juz, pemerintah memberikan tali asih sebesar Rp1 juta.
Program tersebut tidak hanya terbuka bagi warga Jawa Tengah, tetapi juga masyarakat dari daerah lain yang menghafalkan Alquran di wilayah Jawa Tengah.
Pada 2025, tercatat 1.041 orang menerima program tali asih tersebut. Sementara untuk 2026, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan anggaran Rp2 miliar yang ditujukan bagi sekitar 2.000 penghafal Alquran.
“Di tahun 2026, kami juga menganggarkan 2 miliar bagi 2.000 penghafal. Sampai hari ini sudah lebih dari 1.000 yang menghafalkan, mengkhatamkan Alquran di bumi Jawa Tengah ini,” ujar Taj Yasin.
Selain memberikan tali asih, Pemprov Jawa Tengah juga menjalankan program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.
Upaya tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan terhadap 5.347 pondok pesantren di Jawa Tengah.
Menurut Taj Yasin, keberlanjutan pembinaan Alquran membutuhkan kerja sama antara LPTQ tingkat nasional, provinsi, serta kabupaten/kota.
Sinergi tersebut diperlukan untuk menyamakan standar pembinaan, proses seleksi peserta, penyusunan materi, sistem perhakiman, hingga tata kelola penyelenggaraan MTQ.
Taj Yasin juga menekankan pentingnya menjaga integritas dan marwah MTQ. Profesionalitas, objektivitas, transparansi, serta akuntabilitas menjadi aspek yang menurutnya perlu terus diperkuat, terutama dalam mekanisme perhakiman dan penilaian peserta.
Ia mengatakan berbagai masukan dan evaluasi dari penyelenggaraan MTQ dapat digunakan sebagai bahan perbaikan untuk pelaksanaan berikutnya.
“Setiap masukan dan evaluasi menjadi bahan penyempurnaan MTQ ke depan,” ujarnya.
Dengan demikian, capaian Jawa Tengah di MTQ Nasional XXXI tidak hanya dipandang sebagai hasil kompetisi, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga kesinambungan pembinaan Alquran, memperkuat kaderisasi, serta meningkatkan kualitas lembaga dan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.
Editor : Ali Mustofa