Pemikiran K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian dan Pembentukan Karakter

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 08:44 WIB
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)
K.H. Hasan Abdullah Sahal (sumber Ponpes Modern Gontor)

PONOROGO — K.H. Hasan Abdullah Sahal dikenal bukan hanya sebagai salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, tetapi juga sebagai sosok yang banyak menyampaikan gagasan tentang pendidikan, karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan kehidupan umat.

Dalam berbagai kesempatan, pemikirannya menunjukkan satu benang merah: pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang berilmu, tetapi harus membentuk manusia yang memiliki karakter, prinsip, dan kemampuan mengabdi.

Pandangan tersebut kembali terlihat ketika Kiai Hasan menyampaikan pidato pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ia menegaskan bahwa Gontor tetap memilih pendidikan sebagai jalan utama untuk membina umat dan bangsa.

“Kami tetap memilih pendidikan,” tegasnya.

Menurut Kiai Hasan, pilihan tersebut tidak berarti Gontor tidak memiliki hubungan dengan dunia pemerintahan. Para alumninya telah berkiprah di berbagai bidang, termasuk eksekutif, legislatif dan yudikatif. Namun, Gontor tetap menempatkan pendidikan sebagai jalur utama pengabdian lembaga.

Pendidikan Bukan Sekadar Ijazah

Salah satu gagasan penting Kiai Hasan adalah cara memandang pendidikan. Dalam sejumlah tausiyahnya, ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada persoalan formalitas dan ijazah.

Dalam pernyataannya kepada jamaah haji dan alumni Gontor di Makkah pada 2026, Kiai Hasan menjelaskan bahwa pendidikan Gontor dibangun melalui proses panjang pembentukan karakter, bukan semata-mata mengejar ijazah. Lima karakter yang menjadi bagian dari falsafah pendidikan Gontor adalah berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi Kiai Hasan, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari gelar yang diperoleh seseorang.

Yang lebih penting adalah manusia seperti apa yang lahir dari proses pendidikan tersebut.

Sabar, Tawakal, Ikhlas dan Ridha

Dalam pidatonya pada peringatan satu abad Gontor, Kiai Hasan menggambarkan pendidikan karakter di Gontor melalui prinsip yang ia sebut “STIR”, yakni sabar, tawakal, ikhlas dan ridha.

Empat nilai tersebut menggambarkan bagaimana santri tidak hanya diarahkan untuk memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi kehidupan.

Pendidikan, dalam perspektif ini, menjadi proses membentuk manusia yang mampu menghadapi keberhasilan maupun kegagalan dengan sikap yang tetap terarah.

Berpikiran Bebas, tetapi Tetap Berkarakter

Gontor memiliki konsep pendidikan yang khas. Dalam salah satu penjelasan yang dimuat situs resmi Gontor, Kiai Hasan menjelaskan bahwa “modern” tidak sekadar berarti mengikuti perkembangan zaman.

Modern berarti berpikir integral, berpikiran maju, tidak dikotomis, adil, dan menghargai efisiensi waktu.

Konsep integral tersebut diterapkan dengan memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum, pembentukan karakter dan proses belajar mengajar.

Karena itu, “berpikiran bebas” dalam tradisi pendidikan Gontor bukan berarti bebas tanpa batas. Kebebasan berpikir ditempatkan bersama nilai, ilmu, tanggung jawab dan karakter.

Tidak Terjebak pada Politik Praktis

Pemikiran lain yang terlihat dalam pernyataan Kiai Hasan adalah posisi Gontor terhadap kehidupan politik.

Ketika berbicara di hadapan Presiden Prabowo, ia menegaskan bahwa Gontor memilih pendidikan. Para alumni dipersilakan berkiprah di berbagai bidang, termasuk pemerintahan, tetapi lembaga pendidikan tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat membina umat dan bangsa.

Dengan demikian, terdapat pemisahan antara pilihan lembaga dan pilihan individu alumninya.

Gontor mendidik manusia. Setelah menjadi alumni, mereka dapat mengambil peran sesuai bidang dan tanggung jawab masing-masing.

Kepemimpinan Harus Terbuka terhadap Kritik

Pemikiran Kiai Hasan tentang kepemimpinan juga menarik.

Dalam sejumlah pernyataannya, ia menekankan pentingnya keteladanan seorang pemimpin. Bahkan, dalam momentum satu abad Gontor, ia menyampaikan gagasan bahwa pimpinan tidak boleh berada dalam posisi hidup yang terlalu jauh dari orang-orang yang dipimpinnya. Pimpinan harus siap dikritik dan terbuka terhadap koreksi.

Cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan bagi Kiai Hasan bukan terutama soal jabatan, melainkan soal tanggung jawab dan keteladanan.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan. Ia harus memiliki kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Kritik Tidak Harus dengan Suara Keras

Salah satu hal yang membuat nama Kiai Hasan menjadi perhatian publik adalah gaya komunikasinya ketika berbicara di hadapan Presiden Prabowo.

Ia menyampaikan guyonan mengenai fenomena “cari muka”. Dalam pidatonya, ia menyebut berbagai bentuk keinginan manusia untuk memperoleh sesuatu yang belum dimiliki, mulai dari ijazah, nama, uang, jabatan hingga “muka”. Ia tidak menyebut nama atau menunjuk pihak tertentu.

Karena disampaikan dengan humor, suasana tetap cair. Namun, pesan moral yang dibawa cukup jelas: manusia seharusnya tidak membangun kehidupan hanya dengan mengejar pengakuan, jabatan atau keuntungan.

Dalam konteks ini, gaya komunikasi Kiai Hasan memperlihatkan bahwa nasihat atau kritik tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa keras.

Kadang pesan justru lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan humor dan refleksi.

Pendidikan untuk Membebaskan

Kiai Hasan juga melihat pendidikan sebagai instrumen pembebasan.

Dalam penjelasannya mengenai sejarah Gontor, ia menyebut sejak awal pondok tersebut memiliki semangat mendidik dan memerdekakan umat serta bangsa dari ketergantungan.

Pendidikan dengan demikian bukan hanya kegiatan belajar di ruang kelas.

Pendidikan harus membuat seseorang mampu berdiri sendiri, berpikir, mengambil keputusan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan Gontor yang selama satu abad mengembangkan sistem pendidikan, kaderisasi dan kehidupan pesantren yang relatif mandiri.

Belajar dari Sejarah, Bukan Terjebak di Masa Lalu

Kiai Hasan juga memiliki pandangan menarik tentang sejarah.

Dalam pidatonya pada peringatan 100 tahun Gontor, ia mengutip pesan Soekarno tentang pentingnya tidak melupakan sejarah. Namun ia menambahkan bahwa belajar sejarah tidak cukup hanya dengan mengingat masa lalu.

Menurutnya, generasi sekarang harus cerdas menyikapi sejarah karena mereka juga akan menjadi bagian dari sejarah yang sedang dibangun.

Gagasan ini menunjukkan pandangan bahwa tradisi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Nilai lama tetap dipertahankan, tetapi cara menghadapinya harus menyesuaikan tantangan zaman.

Inti Pemikiran Kiai Hasan

Jika dirangkum, pemikiran K.H. Hasan Abdullah Sahal tentang pendidikan dan kehidupan pesantren bertumpu pada beberapa gagasan utama: pendidikan sebagai jalan pengabdian, pembentukan karakter sebagai tujuan utama, kemandirian sebagai bekal hidup, keterbukaan terhadap kritik, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip.

Ia juga menunjukkan bahwa modernitas tidak harus berarti meninggalkan tradisi.

Sebaliknya, tradisi dapat menjadi fondasi untuk bergerak maju selama nilai dasarnya tetap terjaga.

Itulah sebabnya pemikiran Kiai Hasan tidak hanya relevan bagi santri dan pesantren. Gagasannya tentang pendidikan, kepemimpinan, karakter dan kemandirian juga dapat dibaca dalam konteks kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Setelah satu abad Gontor berdiri, pesan yang disampaikan Kiai Hasan seolah kembali pada pertanyaan paling mendasar dalam pendidikan: bukan hanya manusia berilmu seperti apa yang ingin dilahirkan, tetapi juga manusia dengan karakter seperti apa yang akan dibutuhkan bangsa di masa depan. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
gontor ponpes modern KH Hasan Abdullah Sahall pendidikan