SEMARANG – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Jawa Tengah tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni membaca dan memahami Al-Qur’an. Selama sembilan hari penyelenggaraan, kegiatan tersebut juga dinilai menghadirkan atmosfer kebersamaan sekaligus memperbanyak pesan-pesan positif di tengah masyarakat, termasuk di media sosial.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut pelaksanaan MTQ telah membawa nilai-nilai Al-Qur’an semakin dekat dengan masyarakat. Pesan keagamaan itu juga turut mewarnai ruang digital yang selama ini tidak lepas dari beragam informasi negatif.
Menurut Luthfi, kehadiran konten-konten positif selama MTQ menjadi sesuatu yang penting di tengah derasnya arus informasi. Sebab, ruang digital juga kerap dipenuhi disinformasi, ujaran kebencian, kampanye hitam, maupun informasi yang berpotensi menimbulkan konflik.
“Selama sembilan hari kita bersama-sama dalam suasana khidmat, mengagungkan kalam ilahi. Hari ini kita merasakan suasana yang tenteram, aman, dan damai. Media sosial juga dipenuhi berbagai informasi mengenai MTQ,” ujar Luthfi saat menutup MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Sabtu malam (19/9/2026).
Ia menilai masyarakat membutuhkan semakin banyak narasi yang memberikan kesejukan sekaligus mengedepankan kebenaran. Momentum MTQ, kata dia, menjadi salah satu ruang untuk menghadirkan narasi tersebut.
“Dengan MTQ, kita kembali kepada hal-hal yang benar dan menyampaikan hal-hal yang benar,” katanya.
Luthfi juga menyebut atmosfer positif selama MTQ tidak hanya terasa di Kota Semarang. Suasana serupa, menurut dia, turut dirasakan di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Selama sembilan hari penyelenggaraan, masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan MTQ dalam suasana yang kondusif dan penuh kebersamaan.
“Hikmahnya, di Jawa Tengah dan 35 kabupaten/kota selama sembilan hari suasananya adem dan tenteram. Tidak ada kasak-kusuk terkait MTQ,” ucapnya.
Selain memberikan dampak sosial dan keagamaan, penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI juga memberikan efek ekonomi. Kehadiran peserta dan masyarakat dari berbagai daerah ikut menggerakkan aktivitas perdagangan serta UMKM.
Salah satu indikatornya terlihat dari transaksi produk UMKM dalam rangkaian pameran MTQ. Berdasarkan catatan penyelenggara, transaksi yang berlangsung di lokasi pameran maupun melalui platform e-commerce mencapai sekitar Rp2,41 miliar.
Sementara itu, jumlah kunjungan selama pelaksanaan MTQ diperkirakan mencapai 250 ribu orang. Aktivitas tersebut secara keseluruhan disebut menghasilkan perputaran nilai ekonomi sekitar Rp1,32 triliun.
“Ini menunjukkan bahwa MTQ membawa keberkahan, baik secara lahir maupun batin. Terima kasih kepada seluruh masyarakat, kafilah, dan panitia,” tutur Luthfi.
Ia berharap semangat positif yang muncul selama pelaksanaan MTQ tidak berhenti setelah acara berakhir. Masyarakat diharapkan tetap menjaga suasana tersebut, termasuk ketika beraktivitas di media sosial.
“Ceritakan hal-hal yang menyejukkan dan jangan kembali menyebarkan fitnah yang beredar di dunia maya,” pesannya.
Dalam persaingan antarkafilah, Kalimantan Timur berhasil mempertahankan posisi sebagai juara umum MTQ Nasional XXXI. Jawa Tengah yang menjadi tuan rumah berada di peringkat kedua, diikuti DKI Jakarta pada posisi ketiga.
Selanjutnya, Aceh dan Jawa Timur menempati posisi keempat, sedangkan Jawa Barat berada di peringkat kelima.
Luthfi menyampaikan apresiasi kepada seluruh kafilah yang telah mengikuti rangkaian perlombaan. Menurutnya, capaian masing-masing daerah merupakan hasil dari proses dan persiapan yang telah dilakukan.
“Selamat kepada Kalimantan Timur yang kembali menjadi juara umum. Namun, seluruh peserta tetap merupakan juara di hadapan Allah SWT karena telah melantunkan sekaligus mengamalkan Al-Qur’an,” ujarnya.
Apresiasi terhadap pelaksanaan MTQ juga disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Ia memberikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, terutama Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua LPTQ Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, atas dukungan terhadap penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.
Nasaruddin mengingatkan bahwa berakhirnya kompetisi bukan berarti berakhir pula tanggung jawab para peserta dan masyarakat terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.
Menurutnya, tantangan setelah MTQ justru bagaimana nilai yang dipelajari dan disampaikan selama perlombaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Setelah ini seluruh kafilah akan kembali ke daerah masing-masing. Tugas kita tidak selesai setelah MTQ berakhir. Masih ada tugas yang lebih mulia, yakni membawa cahaya Al-Qur’an ke dalam kehidupan nyata,” kata Nasaruddin.
Editor : Zainal Abidin RK