KUDUS – Nama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menjadi perhatian setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang berkaitan dengan dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di lingkungan BPN.
Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan sejumlah orang yang disebut memiliki kedekatan dengan Nusron Wahid.
Kasus itu kemudian turut menjadi sorotan karena KPK menyatakan akan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain setelah menetapkan empat orang sebagai tersangka.
Di tengah pemberitaan tersebut, muncul hal yang menarik perhatian di laman Wikipedia.
Saat halaman profil Nusron Wahid dibuka, terdapat keterangan bertuliskan “Calon Pelaku Korupsi” pada bagian deskripsi setelah nama dan tanggal lahirnya.
Namun, label yang muncul di Wikipedia tersebut perlu dibedakan dari status hukum seseorang.
Kemunculan tulisan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Nusron Wahid merupakan pelaku korupsi.
Status seseorang dalam perkara pidana harus didasarkan pada proses dan keputusan hukum yang berlaku.
Sementara itu, situasi kediaman Nusron Wahid di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, terpantau relatif sepi saat didatangi pada pagi hari.
Dari luar rumah, tidak terlihat aktivitas penghuni. Gerbang utama kediaman tersebut dalam kondisi terbuka. Setelah memasuki halaman, terlihat sejumlah aktivitas pekerja bangunan.
Salah seorang pekerja bernama Panji mengatakan dirinya baru datang untuk mengerjakan pemasangan keramik di bagian kamar mandi. Menurutnya, saat itu tidak terlihat penghuni rumah.
"Saya baru datang hari ini. Kondisinya sepi, tidak ada penghuni," ujarnya.
Di area joglo rumah tersebut juga terlihat seorang pekerja duduk di teras depan.
Kondisi berbeda disebut terjadi pada Sabtu (12/9) malam. Seorang tetangga Nusron Wahid berinisial MS (44) mengatakan kediaman tersebut ramai karena digunakan untuk kegiatan pengajian selapanan rutin.
Menurut MS, Nusron biasanya hadir dalam kegiatan tersebut. Pengajian selapanan kali ini juga disebut berlangsung ramai dengan kehadiran masyarakat sekitar dan sejumlah kiai.
"Setiap selapanan Pak Nusron hadir. Sabtu kemarin juga hadir. Kondisinya ramai sekali," kata MS.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut biasanya dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan dapat berlangsung hingga tengah malam.
Menurut MS, di luar kegiatan selapanan, rumah Nusron di Kudus memang cenderung sepi.
Ia menyebut Nusron biasanya berada di kediamannya ketika agenda pengajian rutin tersebut berlangsung.
"Nggak pernah ke sini, kecuali pas selapanan. Tamu selapanan itu masyarakat sekitar dan para kiai," tuturnya.
Sementara itu, perkembangan perkara dugaan suap pengurusan HGB di lingkungan BPN masih menjadi perhatian.
KPK masih melakukan pendalaman untuk mengungkap rangkaian perkara dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Adapun status Nusron Wahid dalam perkara tersebut perlu mengacu pada keterangan resmi dan proses hukum yang dilakukan aparat penegak hukum. (gal)
Editor : Ali Mustofa