RADAR KUDUS - Tim dokter spesialis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) membeberkan perkembangan kondisi medis terkini Febiona Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang dirujuk ke Jakarta usai menjadi korban keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Agustus 2026.
Febiona menjalani perawatan di RSCM sejak Sabtu (12/9/2026) bersama korban keracunan lainnya, Agnesia Paruliana Silitonga, yang sempat diduga mengalami gejala gangguan fungsi ginjal.
Berdasarkan hasil evaluasi komprehensif, tim medis menegaskan bahwa Febiona tidak mengalami hilang ingatan maupun kerusakan fungsi otak secara permanen.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A(K), menyampaikan kepastian tersebut setelah melakukan wawancara klinis serta pemeriksaan penunjang lanjutan berupa pemindaian gelombang otak atau elektroensefalografi (EEG).
"Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda (Febiona) ingatannya sangat baik, ya. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya.
Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun," ujar Prof. Handryastuti dalam keterangannya di Jakarta.
Secara medis, Prof. Handryastuti meluruskan bahwa gejala yang dialami Febiona mengarah pada kondisi paroxysmal non-epileptiform event.
Kondisi tersebut merupakan keluhan serangan mendadak yang sepintas menyerupai kejang, namun dipastikan bukan merupakan gejala epilepsi ataupun gangguan organik pada organ otak.
Dari kacamata medis kejiwaan, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) RSCM, Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), menjelaskan bahwa Febiona mengalami serangan kepanikan hebat (panic attack) akibat tekanan psikologis pascainsiden keracunan.
Kondisi panik yang memuncak tersebut sempat diduga sebagai gangguan psikotik oleh pihak luar.
"Ketika kami telusuri di sini, kelihatannya kondisi itu (gangguan psikotik) kurang mendukung. Yang pasti mendukung adalah adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini.
Sehingga ketika dia mengalami tekanan yang besar, lalu kepanikan itu muncul, lalu diduga sebagai sesuatu yang seperti psikotik," ungkap dr. Tjhin.
Ia menekankan bahwa tingkat kognitif dan orientasi Febiona kini berada dalam kondisi sangat stabil.
Siswi tersebut sudah mampu berkomunikasi secara lancar, mengenali identitas dan lingkungannya, serta mampu menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya secara runut.
"Dia tahu dia di mana, dia tanggal berapa, hari apa, siapa, dia semuanya tahu. Jadi saya tidak melihat adanya disorientasi atau ada masalah pada memori kerjanya," tambahnya.
Saat ini, kondisi kesehatan Febiona maupun Agnesia dilaporkan berangsur pulih dan menunjukkan peningkatan signifikan.
Untuk mendukung pemulihan psikologis serta kenyamanan fisik kedua pasien, pihak RSCM menempatkan mereka di ruang perawatan VIP Gedung Kencana RSCM. (*)