RADAR KUDUS - Kisah pilu nan menegangkan diungkapkan oleh para korban selamat dari insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa yang terjadi pada Minggu (13/9/2026) dini hari.
Salah seorang penumpang selamat, Rinto Harahap, membeberkan detik-detik mencekam saat kapal mulai mengalami kerusakan fatal hingga akhirnya terbalik dan karam.
Saat ini, Rinto bersama sembilan korban selamat lainnya tengah menjalani perawatan medis intensif di Ruang Wira-5 Rumah Sakit TPT Banjarmasin.
Meski kondisi fisiknya berangsur membaik dan tidak mengalami luka berat, trauma mendalam masih membekas.
Rinto menceritakan bahwa tanda awal adanya gangguan pada kapal sebenarnya sudah terasa sejak sebelum kapal bertolak.
"Sebelum keberangkatan itu saya sudah mendengar suara seperti besi mau patah. Saya pikir biasa kan, namanya kapal pasti ada bunyi-bunyi," tutur Rinto saat memberikan kesaksian pada Selasa (15/9/2026).
Kerusakan tersebut kian parah beberapa jam setelah kapal berlayar di tengah perairan Laut Jawa.
Suara benturan dan patahan besi kembali bergemuruh di badan kapal, disusul kepanikan massal ketika beberapa penumpang berteriak memberitahukan posisi kapal yang mulai miring secara mendadak.
Rinto yang kala itu berada di kabin kelas ekonomi langsung bergerak cepat bersama puluhan penumpang lain untuk menyelamatkan diri.
Di tengah kepanikan, para penumpang saling bahu-membahu membagikan jaket pelampung (life jacket).
Melihat kemiringan kapal yang kian ekstrem, Rinto nekat melompat ke laut dan berpegangan pada tangga lambung kapal sebelum akhirnya berhasil memanjat ke bagian atas lambung kapal yang masih terapung.
Di titik tersebut, sekitar 11 orang bertahan hidup, meski tiga di antaranya tidak sempat mengenakan pelampung.
Hal yang sangat disayangkan oleh para korban adalah ketiadaan prosedur tanggap darurat dari pihak pengelola kapal.
Rinto menegaskan bahwa sistem peringatan dini maupun alarm kapal sama sekali tidak berbunyi saat situasi kritis terjadi.
Selain itu, beredar pula kesaksian bahwa kapten kapal beserta para Anak Buah Kapal (ABK) diduga telah lebih dahulu menyelamatkan diri menggunakan sekoci tanpa memberikan arahan evakuasi yang jelas kepada para penumpang.
"Gak ada alarm, pemberitahuan sama sekali dari kru," tegas Rinto memungkas keterangannya. (*)