RADAR KUDUS - Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengaku lega setelah tidak lagi memegang tongkat kepemimpinan di Kementerian Keuangan.
Salah satu beban berat yang tak perlu lagi ia pikirkan adalah penanganan kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.
Seusai menghadiri acara serah terima jabatan (sertijab) Menteri Keuangan di Kantor Kemenkeu, Jakarta, pada Selasa (15/9/2026), Purbaya merespons santai pertanyaan wartawan mengenai nasib penanganan utang mega proyek tersebut.
Baca Juga: Tak Sekadar Layani Nasabah, Mantri BRI Aktif Dampingi Usaha dan Edukasi Warga Lubuklinggau
"Kan bukan gue Menteri Keuangannya. Alhamdulillah, selamat gue," gurau Purbaya memecah suasana.
Sebelum purna tugas dari jabatannya, Purbaya sempat membeberkan bahwa skema utang proyek Whoosh sebenarnya telah melalui proses restrukturisasi.
Skema pembayaran tenor tersebut dirancang berjangka panjang hingga sekitar 80 tahun, dengan nilai cicilan diperkirakan berada di kisaran Rp1 triliun atau sedikit di bawah angka tersebut per tahunnya.
Purbaya menguraikan bahwa sebelum pengunduran dirinya, pengelolaan skema kewajiban proyek Kereta Cepat Whoosh memang telah direncanakan untuk dialihkan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kementerian Keuangan efektif per 15 September 2026.
Dalam rencana penanganan tersebut, muncul opsi pengalihan beban melalui Special Mission Vehicle (SMV) di bawah nauangan Kemenkeu atau melalui lembaga Indonesia Investment Authority (INA).
Menurut penilaian Purbaya saat itu, kemampuan keuangan SMV Kemenkeu dinilai cukup mumpuni sehingga pemerintah tidak perlu repot mencari investor baru dari luar, meskipun hitung-hitungan skema akhirnya tetap menjadi PR yang harus diselesaikan oleh tim Kemenkeu era kepemimpinan baru.
Proyek Kereta Cepat Whoosh sendiri menelan total nilai investasi fantastis mencapai US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun, di mana 75 persen pendanaannya disokong oleh pinjaman dari China Development Bank (CDB). (*)