Peserta Kaligrafi MTQ Nasional 2026 Apresiasi Venue Lomba dan Pelayanan Panitia Lokal

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 16:26 WIB
KONSENTRASI: Cabang kaligrafi yang berlomba di Auditorium Imam Barjo Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang, Senin (14/9/2026).
KONSENTRASI: Cabang kaligrafi yang berlomba di Auditorium Imam Barjo Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang, Senin (14/9/2026).

SEMARANG – Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXXI Tingkat Nasional 2026 di Jawa Tengah mendapat respons positif dari para peserta. Kenyamanan lokasi perlombaan serta keramahan panitia lokal menjadi sejumlah hal yang mendapat apresiasi.

Kesan tersebut salah satunya dirasakan peserta cabang kaligrafi yang berlomba di Auditorium Imam Barjo Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang, Senin (14/9/2026).

Pada hari yang sama, pelaksanaan lomba juga dikunjungi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yang memimpin Jawa Tengah bersama Wakil Gubernur Taj Yasin.

Peserta kaligrafi dekorasi putri asal DKI Jakarta, Pevi Diana, menuturkan bahwa cabang yang diikutinya menggunakan media triplek. Peserta diberikan waktu selama delapan jam untuk menyelesaikan karya, termasuk waktu istirahat.

Menurut Pevi, persiapan lomba telah dilakukan sejak dua hari sebelum pelaksanaan setelah peserta menerima makro soal.

“Untuk kaligrafi dekorasi itu di triplek dengan waktu delapan jam, sudah termasuk istirahat,” katanya.

Pevi menilai Auditorium Imam Barjo memberikan suasana yang mendukung peserta untuk berkonsentrasi. Salah satu alasannya karena ruang perlombaan memiliki tingkat privasi yang cukup baik dan penonton tidak diperbolehkan memasuki area lomba.

“Untuk arena dan segala macamnya enak, nyaman. Ruang privasi lebih ada. Lebih terjaga,” ungkapnya.

Tak hanya tempat perlombaan, pelayanan panitia lokal juga mendapat pujian. Pevi secara khusus mengapresiasi para liaison officer (LO) yang mendampingi peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Dia menyebut panitia cukup sigap dalam menyiapkan kebutuhan peserta, termasuk transportasi. Sikap ramah para LO juga membuat peserta merasa lebih nyaman selama berada di Jawa Tengah.

“Asyik banget. Di mobil segala macam mereka langsung prepare dan ramah-ramah. Kalau mengantar ke mana-mana mereka selalu ramah, ngajak ngobrol,” jelasnya.

Pevi bukan kali pertama mengikuti MTQ tingkat nasional. Sejak 2020, dia telah mengikuti ajang tersebut, mulai dari Padang, Sumatera Barat, kemudian Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Timur.

Dia berharap MTQ tingkat nasional ke depan dapat digelar setiap tahun, bukan dua tahun sekali. Menurutnya, pengalaman dan pemahaman teknis yang semakin baik akan membuat peserta lebih menikmati kompetisi.

“Harapannya sih untuk MTQ dilakukan setiap tahun, enggak dua tahun sekali lagi. Kalau semuanya sudah paham, sudah tahu tips dan trik untuk menjalani lomba, itu akan lebih have fun lagi,” katanya.

Dalam beberapa keikutsertaan sebelumnya, Pevi pernah meraih juara harapan satu di Kalimantan Timur dan juara harapan tiga di Kalimantan Selatan. Saat berlomba di Padang, dia juga berhasil masuk 10 besar.

Untuk MTQ tahun ini, targetnya lebih tinggi, yakni menembus babak final dan meraih juara pertama.

“Semoga final dan juara satu tahun ini,” harapnya.

Usai menyelesaikan perlombaan, Pevi juga berencana menikmati suasana Kota Semarang. Sejumlah tempat wisata dan kuliner khas menjadi agenda yang ingin dia eksplorasi. Dia bahkan tertarik mendatangi bazar MTQ setelah sebelumnya. (zen)

Editor : Zainal Abidin RK
MTQ xxxi jateng