SEMARANG – Seni kaligrafi kembali menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Nasional 2026 di Jawa Tengah.
Ada perkembangan menarik dalam pelaksanaan tahun ini karena kompetisi kaligrafi tidak lagi hanya mengandalkan media pena, tinta, dan cat, tetapi juga menghadirkan kategori digital dengan memanfaatkan perangkat komputer.
Direktur Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka), KH Didin Sirojuddin AR, menyampaikan bahwa hampir seluruh provinsi di Indonesia turut mengirimkan peserta untuk mengikuti perlombaan tersebut.
Secara keseluruhan, peserta terbagi ke dalam lima golongan putra dan putri dengan jumlah yang semestinya mencapai sekitar 380 orang.
Kelima kategori yang dilombakan terdiri atas naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital.
Kehadiran golongan digital menjadi salah satu bentuk perkembangan baru dalam kompetisi kaligrafi MTQ Nasional.
Berbeda dengan kategori konvensional, peserta golongan digital menghasilkan karya kaligrafi menggunakan komputer.
Meski medianya berubah, unsur dasar penilaian tetap menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam menerapkan kaidah kaligrafi sekaligus menghadirkan karya yang indah.
Didin menjelaskan, aspek penilaian meliputi ketepatan kaidah huruf, keindahan tulisan, serta kualitas hiasan.
Pada kategori hiasan mushaf, misalnya, penilaian terhadap unsur huruf memiliki bobot 60 persen, sementara unsur hiasan mendapatkan porsi 40 persen.
Dengan komposisi tersebut, kemampuan menghasilkan tulisan yang tepat dan indah tetap menjadi bagian terpenting dalam sebuah karya kaligrafi.
Salah satu ketentuan yang diterapkan dalam lomba adalah peserta wajib mengerjakan karya secara langsung ketika perlombaan berlangsung.
Aturan ini diberlakukan untuk menjaga keaslian dan orisinalitas hasil karya yang ditampilkan.
Karya para peserta selanjutnya dijadwalkan untuk dipamerkan dalam agenda dialog kaligrafi pada 16 September 2026.
Pameran tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk melihat hasil kreativitas peserta, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengenang perjalanan seni kaligrafi dalam sejarah penyelenggaraan MTQ di Indonesia.
Semarang memiliki catatan khusus dalam sejarah perkembangan seni Islami di Indonesia.
Ketika MTQ XI digelar di kota tersebut pada 1979, untuk pertama kalinya pameran seni lukis Islami turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan MTQ.
Kini, setelah 47 tahun berlalu, Semarang kembali menjadi lokasi penyelenggaraan pameran kaligrafi dalam skala internasional.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa seni Islami terus mengalami perubahan tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Didin juga mengungkapkan kisah menarik mengenai pameran seni Islami pada 1979.
Kala itu, kegiatan tersebut memperoleh dukungan dari Joop Ave, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Pariwisata dan kemudian dipercaya menjadi Menteri Pariwisata.
Menurut Didin, daya tarik seni kaligrafi dan lukisan Islami ternyata mampu melampaui batas latar belakang agama.
Pada penyelenggaraan tahun ini pun, karya-karya tersebut mendapat perhatian dari masyarakat nonmuslim.
Hal itu dinilai menunjukkan bahwa karya seni memiliki ruang yang luas untuk menjadi jembatan perjumpaan dan apresiasi antarberbagai kalangan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turut menegaskan bahwa MTQ XXXI tidak semata-mata menjadi kegiatan bagi umat Islam.
Menurutnya, penyelenggaraan MTQ juga dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara luas.
Keterlibatan berbagai kelompok dalam kegiatan tersebut dinilai mencerminkan semangat toleransi serta nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an milik semua masyarakat. Inilah bentuk rahmatan lil alamin, toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu,” ujar Ahmad Luthfi.
Dengan hadirnya kategori kaligrafi digital, MTQ Nasional XXXI tidak hanya mempertahankan tradisi seni Islami, tetapi juga memberikan ruang bagi perkembangan teknologi dan kreativitas generasi baru.
Semarang pun kembali mencatatkan dirinya sebagai salah satu kota penting dalam perjalanan seni kaligrafi dan budaya Islami di Indonesia.
Editor : Ali Mustofa