MTQ Nasional XXXI di Jateng Tumbuhkan Kebersamaan Lintas Agama

Zainal Abidin RK • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 07:03 WIB
SELAMAT: Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Gubernur Ahmad Luthfi membuka MTQ XXX1 Jawa Tengah tadi malam.
SELAMAT: Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Gubernur Ahmad Luthfi membuka MTQ XXX1 Jawa Tengah tadi malam.

SEMARANG – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Jawa Tengah tidak semata menjadi arena kompetisi seni baca dan pemahaman Al-Qur’an. Perhelatan tersebut juga berkembang menjadi ruang kebersamaan masyarakat, termasuk mempertemukan warga dari latar belakang agama yang berbeda.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kemeriahan MTQ di berbagai daerah menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an mampu menjadi jembatan sosial yang memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“MTQ dimeriahkan bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga menjadi pesta rakyat bagi masyarakat dari semua agama. Inilah Indonesia,” ujar Nasaruddin saat menghadiri Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang, Jumat malam (11/9/2026).

Menurut Nasaruddin, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam perhelatan keagamaan bukan merupakan fenomena baru. Di sejumlah daerah, kegiatan keagamaan justru menjadi ruang interaksi bersama yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Ia mencontohkan pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di Manokwari. Dalam kegiatan tersebut, seorang muslim turut dilibatkan dalam kepanitiaan.

Pengalaman serupa, lanjut dia, juga terjadi ketika MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Utara digelar. Masyarakat Kristen ikut meramaikan kegiatan tersebut. Bahkan, paduan suara gereja turut membawakan Mars MTQ.

“Di Sulawesi Utara, ketika ada MTQ, orang Kristen ikut. Bahkan paduan suara gereja menyanyikan Mars MTQ,” katanya.

Nasaruddin melihat fenomena tersebut sebagai bukti bahwa kegiatan keagamaan dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang tidak dibatasi oleh perbedaan identitas agama.

Semangat yang sama terlihat dalam Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah. Sejumlah masyarakat nonmuslim turut hadir dalam penyambutan para kafilah dari berbagai daerah dan ikut menikmati rangkaian kemeriahan MTQ di Kota Semarang.

Bagi Nasaruddin, keterlibatan masyarakat secara luas menjadi salah satu karakter kuat MTQ di Indonesia. Ia bahkan menyebut MTQ sebagai salah satu bentuk pesta rakyat yang memiliki tingkat kemeriahan tinggi karena berlangsung rutin dan berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional.

“Pesta rakyat yang paling meriah di Indonesia ini adalah MTQ. Tidak ada kemeriahan yang dilaksanakan secara rutin dan berjenjang di seluruh Indonesia seperti MTQ,” ujarnya.

Besarnya partisipasi masyarakat juga terlihat dari tingginya minat daerah untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Hal itu turut mendorong Kementerian Agama mengubah pola penyelenggaraan MTQ Nasional menjadi setiap tahun.

Kebijakan tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi daerah untuk menjadi tuan rumah sekaligus memperoleh manfaat sosial dan ekonomi dari gelaran berskala nasional tersebut.

Nasaruddin mengatakan Indonesia juga telah menjadi salah satu rujukan dalam penyelenggaraan MTQ di tingkat internasional. Menurut dia, skala MTQ di Indonesia tergolong besar karena penyelenggaraannya tidak hanya melibatkan peserta, tetapi juga pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai unsur pendukung lainnya.

Atas kesiapan tersebut, Nasaruddin memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, termasuk Gubernur Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, dan seluruh panitia yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.

Ia menilai atmosfer MTQ di Jawa Tengah bahkan sudah terasa sejak peluncuran logo. Antusiasme masyarakat semakin meningkat menjelang pembukaan dan pelaksanaan berbagai cabang musabaqah.

Berdampak ke Ekonomi

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Agama dan LPTQ Pusat atas kepercayaan yang diberikan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI.

Menurut dia, Jawa Tengah terakhir menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 1979. Artinya, gelaran serupa kembali berlangsung di provinsi tersebut setelah jeda 47 tahun.

Karena itu, pemerintah provinsi bersama seluruh pihak terkait telah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan penyelenggaraan berjalan lancar.

Luthfi berharap MTQ Nasional tidak hanya memberikan manfaat dari sisi keagamaan dan sosial, tetapi juga ikut menggerakkan perekonomian Jawa Tengah.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, sekitar 7.831 tamu akan datang ke Jawa Tengah selama penyelenggaraan MTQ. Tingginya kunjungan tersebut berdampak pada meningkatnya permintaan akomodasi dan transportasi.

“Hotel-hotel penuh dan kendaraan rental juga banyak yang telah dipesan. Hal ini menunjukkan besarnya antusiasme terhadap penyelenggaraan MTQ Nasional di Jawa Tengah,” ujarnya.

Luthfi menyambut kedatangan para peserta dan tamu dari berbagai wilayah Indonesia. Ia menilai MTQ menjadi momentum yang mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah dalam satu ruang kebersamaan.

“Mewakili masyarakat Jawa Tengah, kami ucapkan selamat datang. MTQ Nasional ini memiliki makna mempersatukan kita yang berasal dari berbagai wilayah geografis Indonesia, dan pada hari ini berkumpul bersama di Jawa Tengah,” katanya.

Suasana kebersamaan itu terlihat dalam Malam Ta’aruf yang dihadiri berbagai elemen masyarakat. Selain perwakilan kafilah dari 37 provinsi, sejumlah kepala daerah juga hadir dalam acara tersebut.

“Malam ini ada Gubernur Bengkulu, Gubernur Kalimantan Utara, serta Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya. Besok rencana ada 17 gubernur yang akan datang untuk menghadiri pembukaan,” ujar Luthfi.

2.242 Peserta

Sekretaris Umum LPTQ Nasional Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah diikuti 2.242 peserta.

Para peserta akan berlomba dalam delapan cabang dan 24 golongan. Untuk menjaga kualitas dan kredibilitas penilaian, panitia melibatkan 155 dewan hakim.

Para hakim tersebut bertugas memberikan penilaian secara profesional, objektif, transparan, dan bertanggung jawab.

Seluruh cabang perlombaan digelar di sejumlah lokasi yang tersebar di Kota Semarang. Kehadiran ribuan peserta, pendamping, dan tamu dari berbagai daerah turut menciptakan interaksi sosial yang lebih luas dengan masyarakat setempat.

MTQ Nasional XXXI pun tidak hanya menjadi arena untuk mencari qari, qariah, hafiz, mufassir, dan peserta terbaik dalam berbagai cabang. Lebih jauh, perhelatan tersebut menjadi momentum memperluas silaturahmi dan membangun ruang kebersamaan.

Di tengah masyarakat Indonesia yang terdiri atas beragam agama, suku, dan budaya, MTQ di Jawa Tengah menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu menciptakan jarak.

Justru melalui ruang perjumpaan dan kebersamaan, keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempererat persatuan sebagai bangsa. (*)

Editor : Zainal Abidin RK
MTQ Jateng MTQ xxxi Ahmad Luthfi Gus yasin