Harga Tembaga Melonjak 40 Persen Setahun, Pasar Dibayangi Risiko Pasokan dan Tarif

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 16:33 WIB
FOTO ILUSTRASI BIJIH TEMBAGA
FOTO ILUSTRASI BIJIH TEMBAGA. (gemini AI)

RADAR KUDUS – Harga tembaga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah kombinasi permintaan yang kuat dan kekhawatiran terhadap pasokan global mendorong investor serta pelaku industri memburu logam merah tersebut.

Lonjakan kebutuhan dari kendaraan listrik dan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama ketika produksi tambang justru menunjukkan pelemahan.

Kontrak berjangka tembaga yang diperdagangkan di New York ditutup pada level US$6,89 per pon pada Rabu waktu setempat. Posisi tersebut menjadi harga tertinggi yang pernah dicatatkan kontrak tersebut. Pergerakan serupa terjadi di London, dengan kontrak berjangka tembaga yang menggunakan satuan metrik ton juga mencapai rekor.

Kenaikan tersebut memperlihatkan bagaimana tembaga semakin strategis di tengah perubahan kebutuhan industri global. Logam ini memiliki daya hantar listrik yang tinggi sehingga digunakan secara luas untuk berbagai kebutuhan, mulai dari elektronik, konstruksi dan perumahan hingga industri otomotif.

Peran tembaga menjadi semakin penting ketika dunia memasuki fase ekspansi kendaraan listrik dan infrastruktur digital. Kendaraan listrik membutuhkan tembaga dalam jumlah besar, sementara pembangunan pusat data yang menopang perkembangan AI juga membutuhkan jaringan kelistrikan dan infrastruktur energi yang menggunakan logam tersebut.

Namun, penguatan harga tidak berlangsung tanpa jeda. Sehari setelah mencapai rekor, harga tembaga terkoreksi sekitar 5 persen pada Kamis waktu setempat. Meski terjadi penurunan, kondisi tersebut belum menghapus pandangan bahwa pasar tembaga masih menghadapi dukungan fundamental dari sisi permintaan dan kekhawatiran pasokan.

Dalam setahun terakhir, harga tembaga telah meningkat sekitar 40 persen. Sementara sejak awal 2026, kenaikannya telah melampaui 15 persen. Kinerja tersebut bahkan melampaui sejumlah aset dan indeks yang menjadi perhatian investor, termasuk emas, perak, bitcoin dan indeks S&P 500.

Penguatan harga dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi energi dan teknologi. Popularitas kendaraan listrik di Asia dan Eropa telah meningkatkan kebutuhan tembaga. Tren tersebut kemudian mendapatkan tambahan dorongan dari perkembangan AI yang membutuhkan pembangunan pusat data dalam skala besar.

Pusat data membutuhkan sistem kelistrikan dengan kapasitas tinggi agar dapat menjalankan berbagai perangkat komputasi. Ekspansi fasilitas tersebut pada akhirnya ikut meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan listrik, kabel, transformator dan berbagai komponen yang menggunakan tembaga.

Di sisi lain, kemampuan produksi tambang belum menunjukkan pertumbuhan yang sejalan dengan kuatnya permintaan. Data awal International Copper Study Group (ICSG) menunjukkan produksi tambang tembaga global turun 1,1 persen pada paruh pertama 2026.

Penurunan tersebut menjadi perhatian karena produksi tambang merupakan salah satu mata rantai utama dalam menjaga ketersediaan bahan baku tembaga. Sejumlah kendala, termasuk kondisi cuaca buruk dan penurunan kualitas tambang, turut memberikan tekanan terhadap produksi.

Chile, yang merupakan produsen tembaga terbesar dunia, menjadi salah satu negara yang mencatat penurunan produksi cukup besar. Menurut data ICSG, produksi tambang tembaga Chile turun 6,6 persen pada semester pertama 2026.

Meski demikian, kondisi produksi tambang yang melemah belum berarti dunia mengalami kekurangan tembaga olahan. Pasokan tembaga olahan global masih berada dalam kondisi surplus.

Situasi tersebut membuat gambaran pasar menjadi lebih kompleks. Di satu sisi, persediaan tembaga olahan belum menunjukkan kelangkaan. Di sisi lain, penurunan produksi dari tambang mulai meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan dapat semakin ketat jika permintaan terus bertumbuh.

Kondisi itu menjadi semakin penting karena proses peningkatan kapasitas produksi tambang membutuhkan waktu panjang. Ketika kebutuhan industri meningkat lebih cepat daripada kemampuan pasokan untuk menyesuaikan diri, pasar dapat merespons melalui kenaikan harga.

Selain persoalan fundamental pasokan dan permintaan, kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian mengenai kemungkinan pemberlakuan tarif terhadap produk tembaga membuat sejumlah pembeli mengambil langkah antisipasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menerapkan tarif 50 persen terhadap produk tembaga setengah jadi. Kini, pasar mencermati kemungkinan pengenaan tarif 15 persen terhadap produk tembaga olahan.

Potensi kebijakan tersebut dinilai memiliki pengaruh yang lebih langsung terhadap pasar karena menyasar produk yang sudah melalui proses pengolahan. Ketidakjelasan mengenai waktu dan cakupan kebijakan membuat pelaku pasar harus memperhitungkan kemungkinan perubahan biaya serta ketersediaan komoditas.

Analis Komoditas Marex, Edward Meir, mengatakan ketidakpastian tersebut mendorong sebagian pelaku pasar melakukan penimbunan persediaan.

“Pelaku pasar menimbun logam karena mereka tidak yakin apakah Trump akan menerapkan tarif terhadap tembaga atau tidak,” kata Meir.

Menurut dia, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan. Jika tarif benar-benar diterapkan, pelaku pasar ingin memastikan persediaan yang mereka miliki cukup untuk memenuhi kebutuhan.

“Jika tarif tembaga diberlakukan, mereka ingin memastikan memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu, terjadi aksi pembelian besar-besaran,” jelas Meir.

Aksi pembelian tersebut menambah tekanan terhadap pasar ketika pasokan tambang global juga menghadapi sejumlah persoalan. Dengan demikian, pergerakan harga tembaga tidak hanya mencerminkan kondisi konsumsi industri, tetapi juga ekspektasi pelaku pasar terhadap ketersediaan komoditas pada periode mendatang.

Tembaga memiliki posisi yang berbeda dibandingkan sejumlah komoditas logam lain karena penggunaannya berkaitan langsung dengan elektrifikasi dan pembangunan infrastruktur. Perkembangan kendaraan listrik, jaringan energi, elektronik serta pusat data membuat kebutuhan terhadap logam ini semakin terkait dengan transformasi ekonomi global.

Kendaraan listrik menjadi salah satu sumber permintaan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Peralihan dari kendaraan bermesin konvensional menuju kendaraan listrik membutuhkan pembangunan ekosistem baru, termasuk baterai, jaringan pengisian daya dan infrastruktur kelistrikan.

Dalam ekosistem tersebut, tembaga berperan sebagai material penghantar listrik. Karena sifat tersebut, logam ini tetap menjadi bahan penting dalam berbagai perangkat dan jaringan yang menopang sistem energi modern.

Perkembangan AI kemudian menambah dimensi baru terhadap kebutuhan tembaga. Pertumbuhan penggunaan AI mendorong perusahaan teknologi membangun dan memperluas pusat data. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan infrastruktur kelistrikan yang mampu menangani beban tinggi.

Ketika investasi pada pusat data meningkat, kebutuhan terhadap material pendukung seperti tembaga ikut mendapatkan dorongan. Inilah yang membuat perkembangan AI tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga berpengaruh terhadap pasar komoditas.

Meski harga sempat terkoreksi setelah mencetak rekor, perhatian pasar tetap tertuju pada kemampuan produsen meningkatkan pasokan. Penurunan produksi tambang pada semester pertama 2026 menjadi salah satu indikator yang memperkuat kekhawatiran mengenai keseimbangan pasar dalam jangka lebih panjang.

Namun, data mengenai surplus tembaga olahan menunjukkan bahwa tekanan pasokan perlu dilihat secara hati-hati. Penurunan produksi tambang belum otomatis berarti kekurangan produk olahan di pasar. Kondisi surplus saat ini menjadi faktor yang dapat meredam tekanan harga dalam jangka pendek.

Pergerakan harga berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana permintaan dan pasokan berkembang. Jika kebutuhan industri tetap kuat sementara produksi tambang menghadapi hambatan, tekanan terhadap pasar dapat kembali meningkat. Sebaliknya, kemampuan pasokan olahan mempertahankan surplus dapat menjadi penahan kenaikan lebih lanjut.

Ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat juga masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pelaku pasar harus memperhitungkan dampak kebijakan tersebut terhadap arus perdagangan, persediaan dan biaya pembelian tembaga.

Bagi industri pengguna tembaga, kenaikan harga menjadi perhatian karena logam tersebut merupakan bahan baku penting dalam berbagai sektor. Perubahan harga komoditas dapat memengaruhi biaya produksi, terutama bagi industri yang menggunakan tembaga dalam jumlah besar.

Dampaknya dapat terasa pada rantai pasok yang lebih luas karena tembaga digunakan dalam produk dan infrastruktur yang berkaitan dengan elektronik, perumahan, otomotif hingga energi. Namun, besarnya dampak terhadap masing-masing industri akan bergantung pada tingkat penggunaan tembaga, kontrak pembelian dan kemampuan perusahaan meneruskan perubahan biaya kepada konsumen.

Rekor harga yang tercipta pada September 2026 sekaligus menunjukkan meningkatnya perhatian pasar terhadap logam yang selama ini menjadi salah satu fondasi industri kelistrikan. Di tengah ekspansi AI, kendaraan listrik dan pembangunan infrastruktur energi, kebutuhan tembaga berhadapan dengan tantangan dari sisi produksi tambang.

Data ICSG mengenai penurunan produksi global dan penurunan output Chile menjadi sinyal yang diperhatikan pasar, meski ketersediaan tembaga olahan masih mencatat surplus. Pada saat yang sama, ketidakpastian tarif membuat sebagian pelaku pasar memilih mengamankan persediaan.

Dengan kombinasi faktor tersebut, tembaga kini berada di persimpangan antara meningkatnya kebutuhan industri masa depan dan kemampuan pasokan untuk mengejar pertumbuhan permintaan. Rekor harga yang telah tercapai menjadi gambaran kuat mengenai besarnya perhatian pasar terhadap keseimbangan dua faktor tersebut.

Editor : Mahendra Aditya
harga tembaga harga tembaga terbaru harga tembaga 2026 tembaga dunia harga komoditas tembaga