RADAR KUDUS - Duka mendalam menyelimuti sektor pertanian nasional pasca-insiden penembakan yang melanda rombongan petugas Dinas Pertanian di pedalaman Papua.
Tiga orang petugas lapangan dilaporkan gugur setelah diserang oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat menjalankan tugas mulia mendistribusikan bantuan pangan dan ternak bagi masyarakat lokal.
Tragedi naas ini bermula ketika rombongan petugas yang beranggotakan delapan orang tengah mengendarai kendaraan roda empat menuju Distrik Muliama.
Mereka membawa muatan bahan pangan serta ternak babi yang diperuntukkan bagi peningkatan gizi dan pemenuhan kebutuhan pangan warga setempat.
Namun, di tengah perjalanan, aksi penembakan brutal secara mendadak meletus dan menghujani kendaraan rombongan tersebut.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun oleh pihak militer di lokasi, para anggota rombongan sempat dipisahkan berdasarkan latar belakang mereka sebelum tembakan dilepaskan oleh kelompok bersenjata. Aksi keji tersebut memakan korban jiwa dari jajaran aparatur sipil negara.
Dua pejabat dinas dan seorang calon pegawai negeri sipil (CPNS) dinyatakan gugur di tempat kejadian.
Adapun identitas ketiga korban gugur tersebut adalah Aprida Rapi (49), Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang menderita luka tembak di rusuk kiri; Alfonsius Albinus Mehan (35), seorang dokter hewan ASN yang mengalami luka tembak di bagian kepala; serta Wili Mbuik (25), CPNS Pemkab Jayawijaya yang mengalami luka tembak fatal di dada kanan depan.
Meski seluruh korban sempat dievakuasi ke RSUD Wamena, penanganan medis darurat tidak berhasil menyelamatkan nyawa mereka lantaran parahnya luka yang diderita.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya para petugas di medan tugas kemanusiaan tersebut.
Mentan mengutuk keras aksi kekerasan yang menimpa para abdi negara yang sedang berjuang demi ketahanan pangan rakyat.
"Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Mereka adalah pahlawan pangan yang gugur dalam tugas mulia, membawa bantuan ternak untuk saudara-saudara kita di pedalaman Papua. Mereka semestinya aman selama menjalankan tugas kemanusiaan itu," tegas Mentan Amran.
Kendati dibayangi ancaman keselamatan yang nyata, Mentan menggarisbawahi bahwa program penyaluran bantuan pangan dan peternakan untuk masyarakat di pedalaman Papua tidak boleh terhenti begitu saja.
Kehadiran negara justru harus diperkuat untuk memastikan perlindungan serta keberlanjutan pasokan pangan bagi warga Papua.
"Program bantuan pangan dan ternak untuk masyarakat Papua tidak boleh berhenti karena ancaman kekerasan.
Negara harus hadir lebih kuat, melindungi setiap pahlawan pangan yang bertaruh nyawa demi menjamin kecukupan pangan rakyat Papua," pungkasnya. (*)