Rincian Update Korban Gempa NTT: 135 Meninggal, 70.382 Mengungsi

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:41 WIB
Wujud Solidaritas Korban Gempa NTT: Pemkab Tuban Batalkan Pesta Kemerdekaan HUT Ke-81 RI
Wujud Solidaritas Korban Gempa NTT: Pemkab Tuban Batalkan Pesta Kemerdekaan HUT Ke-81 RI

RADAR KUDUS - Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terasa hingga kini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 135 orang meninggal dunia, sementara 70.382 warga masih harus mengungsi.

Data terbaru tersebut disampaikan BNPB dalam pembaruan penanganan bencana per Selasa (8/9/2026). Dari total korban meninggal, sebanyak 48 orang merupakan korban akibat dampak langsung gempa. Sementara 87 orang lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung dari bencana tersebut.

Selain korban jiwa, BNPB mencatat 1.763 orang mengalami luka atau sakit akibat dampak gempa. Angka tersebut menunjukkan besarnya konsekuensi bencana yang masih harus ditangani pemerintah bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait.

Jumlah warga yang masih berada di lokasi pengungsian mencapai 70.382 orang. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 24.124 orang, disusul Kabupaten Manggarai sebanyak 22.145 orang.

Baca Juga: Bikin Sedih! Korban Gempa NTT Capai 135 Jiwa, Kerusakan Rumah Hampir Tembus 100 Ribu Unit

Pengungsi lainnya tersebar di Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 8.822 orang, Nagekeo 6.936 orang, Ngada 4.893 orang, dan Sikka 3.462 orang. Sementara itu, tidak ada lagi pengungsi yang tercatat di Kabupaten Ende berdasarkan pembaruan data tersebut.

Kerusakan rumah juga menjadi salah satu dampak terbesar dari gempa NTT. BNPB menerima laporan 98.986 rumah mengalami kerusakan dengan kategori berat, sedang, maupun ringan.

Namun, angka tersebut belum menjadi data final karena proses verifikasi dan validasi di lapangan masih berlangsung. Dari laporan yang diterima, sebanyak 51.591 rumah telah selesai diverifikasi.

Hasil sementara menunjukkan 2.382 rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 rumah rusak sedang, dan 14.177 rumah rusak ringan. Sementara 27.756 rumah yang sebelumnya dilaporkan rusak ternyata tidak memenuhi kriteria kerusakan setelah dilakukan pemeriksaan.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik. BNPB mencatat 712 fasilitas pendidikan terdampak, 157 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, serta 663 gedung perkantoran ikut terdampak gempa.

Di sisi penanganan darurat, pemerintah terus mengirimkan bantuan logistik ke wilayah terdampak. Hingga Selasa (8/9/2026), BNPB menyebut total 2.165 ton bantuan telah disalurkan melalui dua jalur utama, yakni Labuan Bajo dan Maumere.

Dari jumlah tersebut, 1.379 ton bantuan disalurkan melalui Labuan Bajo, sedangkan 652 ton melalui Maumere. Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak di sejumlah wilayah NTT.

BNPB menegaskan pendataan kerusakan belum berhenti. Verifikasi akan terus dilakukan hingga pemerintah memperoleh data yang lebih akurat berdasarkan nama dan alamat penerima. Data final tersebut nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah bantuan dan perbaikan rumah warga terdampak.

Pemerintah juga memastikan penanganan darurat terus berjalan. Dalam pemantauan pemerintah pada 7 September 2026, BNPB menyatakan penanganan tanggap darurat telah berjalan hingga sekitar hari ke-23 atau ke-24 pascabencana, sementara tidak ada tambahan korban jiwa akibat gempa susulan.

Editor : Mahendra Aditya
pengungsi gempa NTT korban gempa NTT gempa NTT 2026 BNPB gempa NTT update gempa NTT