BRIN Imbau Masyarakat dan Nelayan Hindari Konsumsi Ikan yang Mati Mendadak Usai Erupsi Anak Krakatau

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:26 WIB
 
BRIN Imbau Masyarakat dan Nelayan Hindari Konsumsi Ikan yang Mati Mendadak Usai Erupsi Anak Krakatau
BRIN Imbau Masyarakat dan Nelayan Hindari Konsumsi Ikan yang Mati Mendadak Usai Erupsi Anak Krakatau
 
RADAR KUDUS - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat luas, khususnya para nelayan di kawasan pesisir dan perairan Selat Sunda, untuk tidak mengambil atau mengonsumsi ikan serta biota laut lainnya yang ditemukan mati secara mendadak selama maupun setelah terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau.
 
Langkah ini ditegaskan sebagai tindakan pencegahan guna menghindari risiko gangguan kesehatan yang belum teridentifikasi.

Peneliti BRIN, Reza, mengemukakan bahwa hingga saat ini pihak riset belum dapat memastikan secara pasti ada atau tidaknya keterkaitan langsung antara fenomena kematian biota laut dengan material letusan gunung api tanpa adanya laporan valid dari lapangan serta prosedur verifikasi ilmiah yang mendalam.
 
Baca Juga: Pemerintah Resmi Rebranding Beras SPHP Jadi "BERAS KITA" Mulai 20 Oktober 2026
 
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kematian biota laut tersebut murni disebabkan oleh aktivitas erupsi hanya karena waktunya yang berdekatan.

Reza menjelaskan bahwa apabila ditemukan fenomena ikan mati mendadak di sekitar perairan, tim peneliti harus melakukan evaluasi komprehensif berdasarkan berbagai parameter lapangan.
 
Faktor-faktor tersebut meliputi titik lokasi spesifik, estimasi waktu kejadian, arah dan kecepatan arus laut, parameter kondisi fisik-kimia perairan, hingga potensi pemicu eksternal lainnya.

“Namun sikap paling aman bagi masyarakat dan nelayan adalah tidak mengonsumsi biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian penyebabnya,” tegas Reza menggarisbawahi prinsip kehati-hatian (precautionary principle) yang harus diterapkan publik saat ini.

Secara analisis ilmiah, material hasil erupsi seperti endapan abu vulkanik, lelehan lava, batuan apung, hingga paparan partikel halus memang berpotensi besar mengubah parameter kualitas air laut secara drastis.
 
Dampak langsung dari semburan material ini dapat memicu peningkatan kekeruhan air (turbidity), pergeseran tingkat keasaman (pH), hingga masuknya konsentrasi unsur mineral tertentu ke dalam kolom perairan yang dapat memicu stres fisik pada fauna laut.
 
Baca Juga: Di Tengah Gempuran Gadget, Sindhu Laras Bocah Hidupkan Karawitan dan Pedalangan

Kendati demikian, dampak material vulkanik terhadap ekosistem perairan tidak selalu bersifat destruktif.
 
Reza memaparkan bahwa abu vulkanik yang melayang dan jatuh ke perairan dalam porsi tertentu justru membawa pasokan nutrisi penting seperti unsur besi (Fe), fosfor (P), dan silika (Si). 
 
Dalam jangka panjang, kandungan zat mikro tersebut berpotensi menyuburkan perairan dengan memicu pertumbuhan fitoplankton yang menjadi pakan alami bagi rantai makanan ekosistem laut. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna
erupsi Anak Krakatau Imbauan BRIN Ikan Mati Dampak Vulkanik Perairan Biota Laut Selat Sunda Abu Vulkanik Laut