Anak Krakatau Ubah Pola Erupsi Usai 25 Jam, Masuk Fase Letusan Strombolian

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:49 WIB
Ilustrasi abu vulkanik
Ilustrasi abu vulkanik

RADAR KUDUS - Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan mengalami perubahan karakter erupsi setelah episode erupsi menerus berlangsung selama sekitar 25 jam. Badan Geologi menyatakan fase tersebut telah berakhir dan aktivitas gunung api kini kembali menunjukkan karakter letusan Strombolian.

Episode erupsi menerus tercatat dimulai pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Setelah itu, Badan Geologi mencatat tiga kali erupsi Strombolian.

Badan Geologi melalui akun resminya menjelaskan, kembalinya aktivitas Strombolian untuk sementara ditafsirkan sebagai berakhirnya episode erupsi menerus yang berlangsung cukup panjang.

Baca Juga: Abu Anak Krakatau Tembus 50.000 Kaki, BMKG Perketat Pemantauan 24 Jam

Letusan Strombolian merupakan tipe erupsi yang ditandai ledakan relatif ringan dan dapat terjadi secara berulang. Karakter erupsi ini berbeda dengan fase erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung selama lebih dari satu hari.

Meski episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum dinyatakan aman sepenuhnya. Tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi juga menyebut masih terdapat kemungkinan terjadinya letusan pada periode berikutnya. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu vulkanik lebat, serta aliran lava apabila aktivitas erupsi menerus kembali terjadi.

Baca Juga: Bukan Hanya Banten dan Lampung, Abu Anak Krakatau Terdeteksi hingga Jakarta dan Jawa Barat

Karena itu, masyarakat maupun wisatawan dilarang memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, lava, lontaran material pijar, dan hujan abu.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, Badan Geologi merekomendasikan pengurangan aktivitas di luar rumah.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai isu erupsi Anak Krakatau yang disebut-sebut dapat memicu tsunami.

Warga dianjurkan mengikuti arahan dari BPBD dan instansi berwenang.

Pemantauan terhadap dinamika vulkanik Gunung Anak Krakatau masih dilakukan secara berkala dan akan ditingkatkan apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.

Informasi resmi dapat diperoleh melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) maupun Pos Pengamatan Gunung Krakatau.

Editor : Mahendra Aditya
status Gunung Anak Krakatau erupsi Anak Krakatau abu vulkanik Anak Krakatau letusan Strombolian gunung anak krakatau