Bukan Muncul Tiba-Tiba, Ini Penyebab Anak Krakatau Terus Erupsi di Selat Sunda, Waspada Megathrust?

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 19:07 WIB
Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak, Senin (24/8/2026) pagi. (ANTARA/HO-Badan Geolog)
Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak, Senin (24/8/2026) pagi. (ANTARA/HO-Badan Geolog)

RADAR KUDUS - Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Letaknya di tengah Selat Sunda bukan sekadar membuat gunung api ini mudah menjadi sorotan, tetapi juga menempatkannya di kawasan dengan dinamika geologi yang sangat aktif.

Secara geologi, Anak Krakatau merupakan bagian dari Busur Sunda atau Sunda Arc, rangkaian gunung api yang terbentuk akibat proses subduksi lempeng tektonik. Di kawasan ini, Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah sistem lempeng Eurasia sehingga memicu aktivitas magmatisme dan membentuk deretan gunung api aktif.

Kawasan tersebut kerap disebut sebagai bagian dari Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Namun, istilah itu sebenarnya merupakan sebutan populer untuk menggambarkan wilayah di sekitar Samudra Pasifik yang memiliki aktivitas vulkanik dan tektonik tinggi. Untuk menjelaskan posisi Anak Krakatau secara geologi, istilah Busur Sunda jauh lebih spesifik.

Baca Juga: Bandara Lampung Ditutup Imbas Abu Anak Krakatau, Penumpang Bakauheni Melonjak 2.116 Orang

Penelitian mengenai Kompleks Krakatau menunjukkan bahwa gunung api tersebut berada dalam jalur vulkanik Busur Sunda yang terbentuk oleh proses subduksi. Busur ini membentang ribuan kilometer dan menjadi salah satu kawasan penting untuk mempelajari hubungan antara pergerakan lempeng, pembentukan magma, serta aktivitas gunung api.

Karena itu, aktivitas Anak Krakatau tidak dapat dipandang sebagai fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Gunung tersebut merupakan bagian dari sistem geologi yang memang aktif sejak lama.

Sejarah Anak Krakatau juga tidak terlepas dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Setelah sebagian besar tubuh Krakatau hancur akibat letusan tersebut, aktivitas vulkanik di kawasan itu kemudian membentuk gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Gunung tersebut terus mengalami pertumbuhan melalui proses erupsi. Dengan kata lain, keberadaan Anak Krakatau merupakan bagian dari proses geologi yang berlangsung setelah kehancuran kompleks Krakatau pada abad ke-19.

Baca Juga: 12 Penerbangan Juanda Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Begini Kondisi Bandara Malang

Karakter aktivitasnya pun beragam. Kajian vulkanologi menunjukkan bahwa Anak Krakatau dapat mengalami erupsi dengan karakter magmatik yang berbeda, termasuk tipe Vulcanian dan Strombolian.

Perubahan karakter tersebut menjadi salah satu aspek yang penting dalam pemantauan karena setiap tipe erupsi dapat memiliki pola dan potensi bahaya yang berbeda.

Meski berada di kawasan Cincin Api, status tersebut tidak berarti Anak Krakatau akan terus-menerus meletus atau setiap erupsi pasti berubah menjadi bencana besar.

Yang membuat gunung ini perlu mendapat perhatian khusus adalah kombinasi antara aktivitas vulkanik, perubahan morfologi tubuh gunung, serta lokasinya yang berada di tengah laut.

Pengalaman paling serius terjadi pada 22 Desember 2018. Saat itu, sebagian lereng Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami yang kemudian menghantam wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Sejumlah penelitian ilmiah menyimpulkan bahwa tsunami tersebut berkaitan dengan kegagalan lereng vulkanik Anak Krakatau.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman dari gunung api di tengah laut tidak hanya berasal dari material erupsi, tetapi juga dapat muncul dari perubahan struktur tubuh gunung yang berinteraksi langsung dengan laut.

Baca Juga: 8 Bandara Ditutup Imbas Abu Anak Krakatau, BMKG Ungkap Arah Sebaran Terbaru

Kajian ilmiah terhadap kondisi sebelum peristiwa 2018 juga menemukan sejumlah perubahan pada Anak Krakatau, mulai dari peningkatan aktivitas vulkanik, perubahan kondisi termal, pertumbuhan permukaan tubuh gunung hingga pergerakan lereng.

Rangkaian perubahan tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan terhadap perkembangan gunung secara menyeluruh, bukan hanya mengukur tinggi kolom erupsi.

Dengan karakter tersebut, peningkatan aktivitas Anak Krakatau perlu direspons melalui pemantauan berkelanjutan. Besar kecilnya letusan memang penting, tetapi perubahan aktivitas, kondisi lereng, pertumbuhan tubuh gunung, potensi guguran material, serta dampaknya terhadap laut dan wilayah sekitar juga menjadi bagian penting dalam penilaian risiko.

Baca Juga: Anak Krakatau hingga Sinabung Erupsi, Ini Penjelasan PVMBG soal Fenomena 6 Gunung Api

Sejarah Krakatau memperlihatkan bahwa dinamika gunung api dapat berkembang dengan cepat. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik setiap kali terjadi erupsi, tetapi juga tidak boleh mengabaikan peringatan.

Informasi mengenai radius bahaya, perkembangan aktivitas, potensi sebaran abu, maupun risiko lain sebaiknya selalu mengikuti rekomendasi lembaga resmi pemantau gunung api.

Anak Krakatau terus aktif bukan karena sebuah fenomena yang muncul mendadak, melainkan karena gunung tersebut berada di salah satu sistem subduksi dan vulkanik paling aktif di Indonesia.

Tantangan utamanya adalah memastikan setiap perubahan aktivitas dapat terdeteksi sedini mungkin sehingga masyarakat dan pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk mengambil langkah keselamatan.

Editor : Mahendra Aditya
erupsi Anak Krakatau alasan Anak Krakatau aktif Busur Sunda tsunami Anak Krakatau 2018 gunung anak krakatau