RADAR KUDUS - Kabupaten Tanggamus, Lampung, diguncang 12 kali gempa bumi pada Senin, 7 September 2026. Gempa terkuat tercatat bermagnitudo 3,0 dan sempat dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Rangkaian gempa tersebut terjadi ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau tengah menjadi perhatian publik. Meski waktunya berdekatan, BMKG memastikan gempa yang terjadi di Tanggamus bukan dipicu aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Analis Gempa Tektonik Stasiun Geofisika Lampung Utara, Teguh Budiman, menjelaskan seluruh rangkaian gempa di Tanggamus disebabkan aktivitas tektonik pada Sesar Semangko.
“Gempa bumi Tanggamus ini murni aktivitas tektonik Sesar Semangko dan tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau,” kata Teguh saat dikonfirmasi, Senin.
Berdasarkan pemantauan BMKG, aktivitas kegempaan di Tanggamus berlangsung sejak pagi hingga sore dengan magnitudo yang bervariasi, mulai dari 1,6 hingga 3,0. Sejumlah gempa tercatat berpusat di sekitar wilayah barat laut dan utara Tanggamus dengan kedalaman yang relatif dangkal.
Gempa terbesar terjadi pada pukul 14.22.23 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,0. Episenternya berada di koordinat 5,40 derajat Lintang Selatan dan 104,65 derajat Bujur Timur atau sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus.
Gempa tersebut memiliki kedalaman hanya 5 kilometer. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengategorikannya sebagai gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif.
Getaran gempa M3,0 dilaporkan dirasakan warga di Kota Agung dan Sumberejo dengan intensitas II-III MMI. Pada tingkat tersebut, guncangan dapat terasa cukup nyata di dalam rumah dan digambarkan seperti sensasi ketika kendaraan berat melintas.
Meski dirasakan masyarakat, hingga laporan tersebut disampaikan belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan akibat gempa.
Teguh menjelaskan Sesar Semangko merupakan bagian dari sistem sesar aktif di wilayah Lampung. Sesar tersebut berada dalam sistem Sesar Sumatera yang terdiri atas sejumlah patahan dengan aktivitas kegempaan masing-masing.
Aktivitas Sesar Semangko inilah yang menjadi sumber rangkaian gempa di Tanggamus pada Senin. Dengan demikian, kemunculan gempa tersebut tidak dapat dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang juga sedang berlangsung.
BMKG sebelumnya memantau aktivitas gempa Tanggamus hingga sekitar pukul 14.58 WIB dan belum mendeteksi gempa susulan setelah kejadian M3,0 pada saat itu. Namun, pemantauan berikutnya kembali mencatat sejumlah gempa kecil di kawasan yang sama.
Perbedaan sumber gempa dan aktivitas vulkanik menjadi hal penting untuk dipahami masyarakat. Gempa Tanggamus bersumber dari aktivitas tektonik pada sesar aktif, sedangkan erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan fenomena vulkanik.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menghubungkan dua peristiwa tersebut hanya karena terjadi pada waktu yang berdekatan. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Perkembangan aktivitas gempa di Tanggamus sebaiknya dipantau melalui kanal resmi BMKG. Masyarakat juga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas apabila terjadi perubahan kondisi di lapangan.
Editor : Mahendra Aditya