RADAR KUDUS - Potensi gempa besar di zona Megathrust Selat Sunda kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya pembahasan mengenai aktivitas tektonik di wilayah Jawa bagian barat dan sekitarnya.
Namun, informasi mengenai zona megathrust perlu dipahami secara tepat karena keberadaan potensi tersebut bukan berarti gempa besar dipastikan terjadi dalam waktu dekat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Selat Sunda dan Mentawai-Siberut termasuk wilayah yang dikenal sebagai seismic gap, yakni zona tektonik yang dalam catatan sejarah mengalami kekosongan gempa besar dalam waktu panjang.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi akumulasi energi tektonik, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.
Dalam konteks Selat Sunda, BMKG pernah melakukan pemodelan potensi gempa hingga magnitudo 8,7 pada zona megathrust tersebut. Ancaman yang perlu diperhatikan bukan hanya guncangan, tetapi juga kemungkinan tsunami apabila kondisi sumber gempa memenuhi parameter pembangkit tsunami.
Istilah seismic gap kerap menjadi perhatian karena berkaitan dengan zona yang tidak mengalami gempa besar dalam periode panjang. Untuk Selat Sunda, catatan sejarah yang digunakan dalam berbagai kajian menunjukkan adanya gempa besar pada masa lalu, sementara kawasan Mentawai-Siberut juga memiliki sejarah kegempaan signifikan, termasuk peristiwa pada 1797.
Kajian ilmiah BMKG mencatat sejumlah gempa besar di kawasan Mentawai dan sekitarnya, termasuk peristiwa 1797, 1833, dan 1861.
Meski demikian, seismic gap tidak dapat diterjemahkan sebagai hitungan mundur menuju gempa. BMKG menegaskan bahwa pembahasan mengenai Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut bukan merupakan peringatan dini bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Hingga kini, waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat hingga hari, jam, maupun lokasi spesifik.
Ancaman gempa di kawasan Jawa bagian barat juga tidak hanya berasal dari zona megathrust di laut. Sumber gempa lain dapat berasal dari sesar aktif di daratan. Karena berada di dekat kawasan padat penduduk, gempa dangkal dari sesar darat juga perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi.
Dengan demikian, risiko bencana tidak cukup dipahami hanya dari angka magnitudo maksimum. Kondisi bangunan, kepadatan penduduk, jarak dari sumber gempa, karakteristik tanah, serta kesiapan masyarakat turut menentukan besarnya dampak ketika gempa terjadi.
Bagi wilayah pesisir Banten dan kawasan lain yang berhadapan dengan sumber gempa laut, potensi tsunami juga menjadi bagian penting dalam perencanaan mitigasi.
BMKG menyebut kawasan Banten memiliki beberapa sumber ancaman gempa dan tsunami, termasuk Megathrust Selat Sunda serta sejumlah sesar dan sumber bahaya lainnya.
Karena gempa tidak dapat diprediksi secara pasti, kesiapsiagaan menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada mempercayai kabar mengenai tanggal atau waktu tertentu.
Masyarakat dapat memulai mitigasi dari lingkungan tempat tinggal dengan memastikan perabot berat tidak mudah roboh, menempatkan benda berat di bagian bawah, serta menyiapkan perlengkapan darurat seperti kotak P3K, senter, radio, makanan, dan air.
Saat gempa terjadi dan seseorang berada di dalam bangunan, BMKG merekomendasikan prinsip Drop, Cover, Hold On. Tahap pertama adalah segera merunduk untuk menjaga keseimbangan.
Berikutnya, lindungi kepala dan leher dengan berlindung di bawah meja atau furnitur yang kokoh. Setelah itu, bertahan sambil berpegangan sampai guncangan berhenti.
Selama berada di dalam ruangan, masyarakat juga dianjurkan menjauhi kaca dan benda yang berpotensi jatuh. Evakuasi dilakukan setelah guncangan mereda dan kondisi memungkinkan untuk keluar dengan aman.
Bagi masyarakat yang berada di kawasan pantai dan merasakan gempa kuat atau berlangsung lama, kewaspadaan terhadap tsunami perlu ditingkatkan. BMKG mengingatkan masyarakat untuk segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila merasakan kondisi tersebut, tanpa menunggu informasi tambahan ketika tanda bahaya sudah jelas.
Pada akhirnya, keberadaan Megathrust Selat Sunda merupakan fakta geologi yang perlu dipahami sebagai bagian dari risiko kebencanaan Indonesia.
Informasi tersebut bukan alasan untuk panik, tetapi menjadi pengingat bahwa kesiapan bangunan, pengetahuan evakuasi, akses informasi resmi, dan latihan penyelamatan diri perlu dipersiapkan sebelum bencana terjadi.
Editor : Mahendra Aditya