RADAR KUDUS - Indonesia memiliki 14 segmen megathrust yang dipetakan dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.
Sejumlah segmen tersebut memiliki estimasi kemampuan menghasilkan gempa dengan magnitudo sangat besar, termasuk Megathrust Aceh-Andaman yang mencapai Mmax 9,2 dan Megathrust Jawa dengan Mmax 9,1.
Pemetaan tersebut disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum.
Dokumen itu menjadi salah satu rujukan terbaru untuk menggambarkan sumber-sumber gempa di Indonesia, termasuk perubahan segmentasi zona megathrust berdasarkan perkembangan penelitian kebumian.
Secara geografis, Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan terletak pada pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama.
Interaksi Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik membuat wilayah Indonesia memiliki aktivitas seismik yang tinggi.
Jalur subduksi yang menjadi salah satu sumber gempa penting membentang sekitar 9.000 kilometer dari bagian barat hingga timur Indonesia.
Di sepanjang jalur tersebut terdapat sejumlah segmen megathrust dengan karakteristik, panjang, dan potensi magnitudo maksimum yang berbeda.
Dalam pemodelan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, Megathrust Aceh-Andaman tercatat sebagai segmen dengan estimasi magnitudo maksimum terbesar, yakni 9,2. Segmen ini membentang sekitar 1.300 kilometer.
Kawasan tersebut memiliki catatan sejarah gempa besar, termasuk gempa dan tsunami Aceh pada 2004 yang dilaporkan mencapai Mw 9,15.
Berikutnya terdapat Megathrust Nias-Simeulue dengan estimasi Mmax 8,7. Segmen ini berkaitan dengan sejumlah peristiwa gempa besar di wilayah Sumatra, termasuk gempa Nias 1861 dengan Mw 8,5 dan gempa Nias-Simeulue pada 2005 dengan Mw 8,7.
Segmen Megathrust Batu memiliki karakteristik berbeda dengan panjang sekitar 70 kilometer dan estimasi Mmax 7,8. Salah satu kejadian besar yang tercatat di kawasan Kepulauan Batu adalah gempa 1935 yang berkekuatan Mw 7,7.
Di sebelah barat Sumatra juga terdapat Megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai.
Kedua segmen tersebut masing-masing diperkirakan memiliki Mmax 8,9. Wilayah Mentawai-Siberut memiliki sejarah gempa besar, antara lain peristiwa pada 1797 dan 1833.
Sementara itu, kawasan Mentawai-Pagai dikaitkan dengan gempa Bengkulu Mw 8,5 pada 2007 serta gempa yang memicu tsunami Mentawai Mw 7,8 pada 2010.
Pemutakhiran 2024 juga mengubah segmentasi di kawasan sekitar Selat Sunda dan Enggano.
Sebagian wilayah yang sebelumnya masuk Segmen Selat Sunda kini dimodelkan sebagai bagian dari Megathrust Enggano.
Segmen tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 420 kilometer dengan Mmax 8,9.
Potensi besar juga terdapat di selatan Pulau Jawa. Dalam pemodelan terbaru, Segmen Jawa memiliki estimasi Mmax 9,1 dengan panjang sekitar 1.120 kilometer.
Selain itu, pemodelan memisahkan kawasan tersebut ke dalam Megathrust Jawa Bagian Barat dan Jawa Bagian Timur, yang masing-masing diperkirakan memiliki Mmax 8,9.
Segmen Jawa Bagian Barat memiliki panjang sekitar 670 kilometer. Data sejarah gempa yang menjadi bagian dari kajian antara lain peristiwa di Batavia pada 1699 serta gempa besar di wilayah yang sama pada 1780 dengan Mw 8,5.
Adapun Megathrust Jawa Bagian Timur membentang sekitar 450 kilometer dan memiliki catatan gempa besar, termasuk peristiwa Mw 8,1 pada 1903 serta gempa Pangandaran Mw 7,8 pada 2006.
Memasuki kawasan timur Indonesia, terdapat Megathrust Sumba dengan panjang sekitar 630 kilometer dan estimasi Mmax 8,5. Sejumlah catatan sejarah kegempaan di kawasan ini antara lain gempa 1916 dengan Mw 7,2 dan gempa Banyuwangi 1994 dengan Mw 7,8.
Sementara itu, di sebelah utara Sulawesi terdapat segmen Megathrust Lengan Utara Sulawesi yang memiliki panjang sekitar 550 kilometer dan Mmax 8,5.
Kawasan tersebut memiliki riwayat gempa kuat, antara lain kejadian pada 1538, 1877, Gempa Tolitoli 1996, serta gempa Minahasa Mw 7,4 pada 2008.
Peta 2024 juga memasukkan beberapa segmen yang berada di luar wilayah Indonesia secara administratif tetapi dinilai relevan terhadap potensi dampaknya di kawasan utara Indonesia.
Salah satunya adalah Palung Cotabato di Mindanao, Filipina, yang memiliki panjang sekitar 310 kilometer dan Mmax 8,3.
Selain itu, terdapat segmen Filipina Selatan dengan panjang sekitar 550 kilometer dan Mmax 8,2 serta Filipina Tengah sepanjang sekitar 370 kilometer dengan Mmax 8,1.
Kedua kawasan tersebut merupakan bagian dari sistem tektonik Filipina dan tetap diperhitungkan dalam pemodelan karena kedekatannya dengan wilayah Indonesia.
Daftar megathrust tersebut bukanlah daftar yang bersifat permanen. Perkembangan riset, tambahan data geologi, serta pemahaman baru mengenai struktur tektonik dapat membuat segmentasi sumber gempa diperbarui.
Dalam pemutakhiran 2024, misalnya, sejumlah sumber gempa di Indonesia bagian timur mengalami perubahan interpretasi.
Sesar Naik Halmahera dan Sangihe yang sebelumnya dikaitkan dengan Megathrust Laut Maluku kini dipahami sebagai bagian dari deformasi akibat zona kolisi antara Busur Halmahera dan Busur Sangihe.
Megathrust Papua yang tercantum dalam pemodelan 2010 dan 2017 juga tidak lagi ditampilkan dengan pendekatan yang sama.
Pada pemodelan terbaru, kawasan tersebut dikaitkan dengan sistem sesar naik North Papua Thrust.
Istilah megathrust sendiri merujuk pada sumber gempa di bidang kontak antara lempeng yang menunjam dan lempeng di atasnya.
Zona kontak ini umumnya berada pada bagian relatif dangkal dari sistem subduksi, sehingga dapat menyimpan tegangan tektonik dalam waktu lama.
Ketika tegangan tersebut dilepaskan melalui gempa besar, pergerakan dasar laut dapat berpotensi memicu tsunami.
Karena itu, keberadaan zona megathrust penting untuk dipahami sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
Namun, keberadaan suatu segmen megathrust dan angka Mmax dalam pemodelan tidak berarti gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu.
Peta sumber gempa digunakan untuk memahami potensi bahaya dan mendukung perencanaan mitigasi, bukan untuk menentukan kapan sebuah gempa akan terjadi.
Editor : Mahendra Aditya