JOMBANG — Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, semakin dinamis.
Sejumlah nama telah muncul sebagai kandidat yang paling banyak diperbincangkan. Namun, di balik dua nama yang mendapat sorotan besar, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), masih terdapat sejumlah figur yang berpotensi menjadi “kuda hitam” dalam kontestasi.
Istilah kuda hitam merujuk pada kandidat yang tidak selalu berada di urutan teratas dalam percakapan publik, tetapi memiliki jaringan, basis dukungan, pengalaman organisasi, maupun kemampuan membangun konsolidasi yang dapat mengubah peta persaingan.
Salah satu nama yang patut diperhitungkan adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Tokoh asal Magelang, Jawa Tengah, tersebut memiliki pengalaman panjang di lingkungan pesantren dan NU. Namanya juga beberapa kali masuk dalam pembicaraan bursa kepemimpinan PBNU.
Nama lain yang turut mencuri perhatian adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU tersebut memiliki jaringan luas di kalangan pesantren. Posisi dan pengalamannya di lingkungan pendidikan pesantren membuatnya menjadi salah satu figur yang berpotensi diperhitungkan.
Selain itu, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam juga masuk dalam radar sejumlah pembicaraan mengenai kandidat potensial. Sebagai salah satu pengasuh pesantren besar di Jombang, Gus Salam memiliki basis kultural yang kuat di kalangan Nahdliyin.
Nama KH Zulfa Mustofa juga tidak bisa begitu saja diabaikan. Pengalaman organisasi dan kedekatannya dengan basis ulama menjadi modal penting apabila pertarungan berlangsung ketat dan membutuhkan figur yang dapat diterima berbagai kelompok.
Dalam situasi lain, nama Gudfan Arif juga muncul dalam bursa kandidat. Kendati tidak selalu menjadi nama terdepan dalam pemberitaan, dinamika Muktamar dapat membuat kandidat yang semula berada di luar radar utama justru mendapatkan dukungan lebih besar ketika proses konsolidasi berlangsung.
Bisa Berubah dalam Hitungan Jam
Peta kandidat PBNU sangat mungkin berubah menjelang pemilihan. Terlebih, mekanisme yang digunakan dalam menentukan Ketua Umum akan menjadi salah satu faktor penting.
Apabila pemilihan berlangsung melalui mekanisme suara muktamirin, kemampuan kandidat mengonsolidasikan dukungan dari PWNU, PCNU dan jaringan pesantren akan menjadi faktor penting.
Sebaliknya, apabila mekanisme pemilihan memberikan peranan lebih besar kepada AHWA atau struktur Syuriyah, kemampuan kandidat membangun komunikasi dan mendapatkan penerimaan dari para ulama akan semakin menentukan.
Karena itu, kandidat yang saat ini dianggap bukan unggulan utama masih memiliki peluang menjadi kuda hitam.
Dalam kontestasi organisasi sebesar NU, kekuatan kandidat tidak selalu dapat diukur dari seberapa sering namanya muncul di media. Jaringan, komunikasi antarkiai, soliditas pendukung, serta kemampuan membangun titik temu di antara berbagai kelompok justru dapat menjadi penentu pada saat-saat terakhir.
Dengan demikian, jika Gus Kikin dan Gus Yahya saat ini menjadi dua nama yang paling banyak mendapat sorotan, pertarungan Muktamar ke-35 masih menyimpan kemungkinan munculnya kejutan.
Siapa yang menjadi kuda hitam? Jawabannya baru akan terlihat ketika konsolidasi terakhir dan mekanisme pemilihan benar-benar berjalan.
Editor : Admin