RADAR KUDUS — Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatatkan angka emisi gas metana yang sangat tinggi, yakni mencapai 6,3 ton per jam.
Temuan tersebut menempatkan fasilitas pembuangan sampah terbesar di Indonesia ini di peringkat kedua dalam daftar area landfill dengan tingkat emisi metana tertinggi di dunia.
Data mengejutkan tersebut diperoleh dari pemantauan udara berbasis satelit Tanager-1 oleh lembaga riset Carbon Mapper dan UCLA Emmett Institute, bekerja sama dengan instrumen Earth Surface Mineral Dust Source Investigation (EMIT) milik NASA.
Baca Juga: Temuan Audit Program MBG: BGN Ungkap 414 Dapur SPPG Fiktif dan 6 Juta Data Penerima Manfaat Ganda
TPST Bantargebang berada tepat di bawah kompleks penampungan sampah Campo de Mayo di Argentina.
Dampak Gas Metana dan Risiko Kebakaran Lahan Sampah
Tingginya emisi metana (CH₄) dari timbunan sampah murni menjadi perhatian serius para ahli lingkungan hidup global.
Gas metana diketahui memiliki potensi efek rumah kaca dan daya pemanasan atmosfer sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbondioksida (CO₂) dalam kurun waktu 100 tahun.
Selain berakibat fatal terhadap pemanasan global dan perubahan iklim, gas metana yang terperangkap di bawah gunungan sampah juga bersifat sangat sensitif dan mudah terbakar.
Tanpa pengelolaan dan penangkapan (gas capture) yang tepat, akumulasi metana berisiko tinggi memicu kebakaran hebat hingga ledakan struktur landfill.
-
Laju Emisi Metana: Mencapai 6,3 ton per jam (Peringkat ke-2 emisi landfill terbesar dunia setelah Campo de Mayo, Argentina).
-
Teknologi Pemantauan: Satelit Tanager-1 (Carbon Mapper & UCLA) dan instrumen EMIT NASA.
-
Ancaman Utama: Peningkatan efek rumah kaca global serta tingginya risiko insiden kebakaran dan ledakan tumpukan sampah.
“Tingginya emisi metana di area penampungan akhir tidak hanya mempercepat perubahan iklim, melainkan juga menyimpan potensi bahaya berupa kebakaran lahan akibat gas bertekanan yang terperangkap di dalam timbunan organik,” tegas pakar tata kelola lingkungan.
Langkah Intervensi: Penyemprotan Eco Enzyme Menggunakan Water Cannon
Sebagai upaya mitigasi darurat, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bekasi berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi serta relawan Eco Enzyme Nusantara menggelar aksi intervensi lapangan pada 9–15 Agustus 2026.
Petugas mengerahkan unit kendaraan water cannon untuk menyemprotkan 10.000 liter air yang dicampur dengan 2 liter cairan eco enzyme (rasio 1:5.000) ke area puncaknya gunungan sampah.
Baca Juga: Temuan Audit Program MBG: BGN Ungkap 414 Dapur SPPG Fiktif dan 6 Juta Data Penerima Manfaat Ganda
Eco enzyme—cairan hasil fermentasi limbah organik dapur—dimanfaatkan untuk menekan bau menyengat, mempercepat dekomposisi organik, serta mengikat zat polutan di udara.
Meskipun pengujian awal di lokasi mencatat penurunan konsentrasi gas di beberapa titik sampel, para praktisi dan akademisi menegaskan bahwa hasil tersebut masih bersifat sementara.
Pengukuran ilmiah yang konsisten dan berkelanjutan tetap diperlukan guna membuktikan efektivitas eco enzyme dalam mereduksi emisi metana jangka panjang di Bantargebang. (*)