RADAR KUDUS — Duka mendalam akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan kisah kemanusiaan yang menyayat hati.
Risma, seorang anak perempuan berusia 11 tahun asal Desa Baras, dinyatakan meninggal dunia di tenda pengungsian darurat akibat luka berat usai tertimpa material bangunan rumahnya yang roboh.
Risma menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan sang ayah di dalam tenda beralaskan terpal seadanya, sebelum sempat mendapatkan penanganan medis intensif akibat keterbatasan fasilitas kesehatan pascabencana.
Baca Juga: Polres Jaksel Tetapkan Ruben Onsu Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Investasi
Editor : Ghina Nailal Husna Pelukan Terakhir dan Kepergian di Tenda Darurat
Kepergian Risma menjadi potret keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa di kalangan anak-anak dalam krisis kemanusiaan pascagempa di NTT.
Momen emosional menyelimuti area pengungsian saat sang ayah memangku dan memeluk erat tubuh kecil putrinya yang sudah tidak bernyawa.
Keterbatasan akses jalan dan penanganan medis yang lambat di wilayah pedalaman membuat nyawa korban tidak dapat diselamatkan saat bertahan di pengungsian.
-
Identitas Korban: Risma (11 tahun), warga Desa Baras, Nusa Tenggara Timur.
-
Penyebab Meninggal: Luka dalam akibat tertimpa reruntuhan bangunan rumah serta keterbatasan fasilitas medis di lokasi pengungsian.
-
Kondisi Pengungsian: Bertahan di bawah tenda darurat berbahan plastik bersama keluarga di tengah keterbatasan sarana logistik.
“Kami sudah berusaha menahan dan memberikan kenyamanan sebisanya di dalam tenda, tetapi kondisinya makin melemah hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir di pangkuan ayahnya,” ungkap salah seorang warga yang berada di lokasi pengungsian Desa Baras.
Wasiat Surat Doa: Keresahan Anak Kecil Atas Nasib Kampung Halaman
Baca Juga: Viral Calon Kadet Putri Unhan Mundur Dibanding Lepas Hijab: Publik Pertanyakan Aturan Seragam
Pascakepergiannya, lembaran kertas berisi tulisan tangan Risma yang ditemukan keluarga menjadi sorotan publik.
Dalam surat sederhana itu, Risma tidak meminta mainan atau materi, melainkan memohon agar masyarakat di desanya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dilindungi dari bencana hebat.
Kepergian Risma kini menjadi simbol keteguhan serta pengingat bagi seluruh pihak akan pentingnya percepatan penanganan krisis kemanusiaan dan perlindungan bagi anak-anak di daerah bencana. (*)